Rabu, 23 Oktober 2013

SKKD

BAB II
STRATEGI PENGEMBANGAN SKKD

Strategi pengembangan SKKD (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ), yang meliputi pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, pertahapan penerapan kurikulum, dan perangkat pelaksanaan; model penerapan; kewenangan sekolah, serta peran guru dan kepala sekolah dalam menyukseskan KYD, khususnya dalam pengembangan SKKD.

A.  Strategi Mengembangkan Strategi Yang Jitu
Pengembanagn SKKD dapat dilakukan secara efektif dan efesien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang professional untuk mengoperasikan pembelajran, dana sekolah yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran, serta dukungan yang tibnggi dari masyarakat (orang tua). Krisis multidimensi yang berkepanjangan yang bdibarengi dnegan kenaikan  bahan baker minyak (BBM), dan tariff dasar listrik dasar listrik (TDL), ssrta kenaikan suku bunga abnk Indonesia telah memperlemah kemampuan bersekolah dan telah menimbulkan dampak negative, yakni menurunnya jumlah peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi (kesempatan belajar di SLTP,SLTA dan perguruan tinggi tertinggal dibandingkan dengan Negara lain), menurunnya partisipasi masyarakat karena kerusuhan dan bencana terjadi dimana-mana, angka npartisispasi pendidikan sama dengan yang telah tercapai Negara-negara ASEAN lainnya 15-20 tahun yang lalu. (E.Mulyasa. 2006)

B.  Model pengembangan SKKD
Model-model pengembanagn kurikulum, merupakan hasil penelitian berbagai ahli pendidikan dan ahli kurikulum diberbagai Negara. Model ini disjaikan untuk memeperkaya pemahaman tentang pengembanagan kurikulum, sehingga kita  benatr-benar siap untuk menerapkan kurikulum baru dengan sukses. Model kurikulum yang disjikan dalam makalah ini meliputi Model Administrasi, Model Akar rumput (Grass-Roots), Model Demonstrasi, Model Sistemik dari Beauchamp, Model Taba, Model. Hunbungan Interpersonal dari Rogers, Model Penelitian Tindakkan, Model Teknis Emerging. (E.Mulyasa. 2006)
1.    Model Administratif (Line Staf)
Pengembangan kurikulum model administratif merupakan model yang paling dikenal, karena dikembangkan dari atas ke bawah (Sentralisasi). Pengembangan kurikulum model administratif, inisiatifnya menggunakan prosedur administrati, sehingga dinas pendidikan memiliki beberapa komisi, dari komisi tingkat atas (BSNP atau Puskur) yang menentuakan kebijakan kurikulum sampai komisi tingkat bawah (Sekolah/ MGMP) yang melaksanakan kurikulumtersebut dalam kegiatan pembelajaran.
2.    Model Akar rumput (Grass-Roots)
Pentingnya guru sebagai kunci keberhasilan penerapan kurikulum digambarkan dalam empat prinsip yang mendasari grass roots model:
a.    Kurikulum akan meningkat bila kompetensi profesional guru meningkat.
b.    Kompetensi guru akan meningkat bila mereka terlibat secara pribadi dalam masalah- masalah perubahan dan perbaikan kurikulum
c.    Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan perbaikan kurikulum sampai dengan penilaian hasilnya, akan sangat meningkatkan keyakinannya.
d.   Dalam kelompok tatap muka, guru akan dapat memahami satu sama lain seacra lebih baik, dan memperkaya konsensus pada prinsip-prinsip dasar, tujuan, dan rencana pembelajran.
3.    Model Demonstrasi
4.    Model Sistemik dari Beauchamp
5.    Model Taba
6.    Model Hunbungan Interpersonal dari Rogers
7.    Model Penelitian Tindakkan
8.    Model Teknis Emerging



C.  Kewenangan Sekolah
Sejalan dengan desentralisasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah yang sedang bergulir, dalam penerapan kurikulum sekolah diberi bkewenangan yang sedang bergulir, dalam penerapan kurikulum sekolah diberi keweanngan yang sangat leluasa terutama dalam hal-hal sebagai berikut :
1.    Menyususn dan mengembangkan kurikulum
2.    Manajemen sekolah yang menggambarkan kadar otonomi sekolah dan desentralisasi pendidikan. Dalam pengembangan SKKD
3.    Membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung jawaba; mpenerapan kurikulum tidak lepas dari accountability yang tidak dapat dilihat dari perencanaan sekolah dan pencapainnya.
4.    Menjamin dan mengusahakan sumber daya

D.  Pemahaman dan Menjabarkan Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar
Standat kompetisi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetisi untuk penilaian sedangkan dalam merancang kegiatan pembelajarn dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian.
Dalam kaitannya dengan KTSP, Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar (SKKD) berbagai mata pelajaran, untuk dijadikan acuan oleh para pelaksana (guru) dalam mengembangkan KTSP pada satuan pendidikan masing-masing.
Dengan demikian, tugas utama guru dalam KTSP adalah menjabarkan, menganalisis, mengembangkan indikator dan menyesuaikan SKKD dengan karakteristik dan perkembangan peserta didik, situasi, dan kondisi sekolah, serta kondisi dan kebutuhan daerah. Selanjutnya mengemas hasil analisis terhadap SKKD tersebut ke dalam KTSP, yang didalamnya mencakup silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). (E.Mulyasa. 2009)


Contoh Sistematika  Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar (SKKD) Matapelajaran KIMIA SMA/MA

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA) / Madrasah Aliyah (MA)
Mata Pelajaran        : Kimia
A.    Latar Belakang
Tujuan
Ruang Lingkup
  1. Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar
Contoh: Kelas X, Semester 1
Standar Kompetisi
Kompetisi Dasar
1.   Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia
1.1     Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifat-sifat unsur, massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik serta menyadari keturaturannya, melalui pemahaman konfigurasi elektron
1.2     Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisika senyawa yang terbentuk

2.   Memahami hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kmia (stoikiometri)
2.1     Mendiskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya
2.2     Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia

Cara Menjabarkan Kompetisi Dasar kedalam Indikator Kompetisi :
Langkah penting yang harus dipahami guru dalam kaitannya dengan KTSP ialah bahwa guru harus mampu menjabarkan kompetisi dasar ke dalam indikator kompetisi yang siap dijadikan pedoman pembelajaran dan acuan penilaian. Namun sebelumnya, harus dipahami dulu apa itu kompetisi dasar dan apa itu indikator kompetisi. Kompetisi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam matapelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetisi. Sedangkan Indikator kompetisi adalah perilaku yang dapat diukur dan atau di observasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetisi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Sehubungan dengan itu, dalam bagian ini dikemukakan daftar kata-kata operasional yang dapat digunakan indikator kompetisi, dan contoh cara menjabarkan SKKD ke dalam indikator kompetisi. (E.Mulyasa. 2009)
1.    Daftar Kata-kata Operasional untuk Indikator
Berikut disajikan kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk indikator kompetisi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun psikomotorik. (Moore, 2001:92-94, Rosyada, 2004:140-142)
No
Aspek
Kompetensi
Indikator Kompetensi
01
Kognitif
Knowledge (Pengetahuan)


Comprehension (Pemahaman)




Aplication (Penerapan)


Analysis (Analisis)

Synthesis (Sintesis)


Evaluation (Evaluasi)
Menyebutkan, menuliskan, Menyatakan, Mengurutkan, Mengidentifikasi, Mendefinisikan, Mencocokan, Memberi nama, Memberi label, Melukiskan
Menerjemahkan, Mengubah, Menggeneralisasi, Menguraikan, Menuliskan kembali, Merangkum, Membedakan, Mempertahankan, Menyimpulkan, Mengemukakan pendapat dan Menjelaskan
Mengoperasikan, Menghasilkan, Mengubah, Mengatasi, menggunakan, Menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung
Menguraikan, Membagi-bagi, Memilih, dan membedakan
Merancang, Merumuskan, Mengorganisasikan, Menerapkan, Memadukan, dan merencanakan
Mengkritisi, Menafsirkan, mengadili dan memberikan evaluasi
02
Afektif
Receiving (penerimaan)
Responding (Menanggapi)

Valuing (Penanaman nilai)
Organization
(pengorganisasian)
Characterization (Karakterisasi)

Mempercayai, Memilih, mengikuti, Bertanya, dan Mengalokasikan
Konfirmasi, Menjawab, membaca, Membantu, Melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan
Menginisiasi, Mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan
Memverifikasi, menyusun, Menyatukan, Menghuungkan mempengaruhi
Menggunkan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini
03
Psikomotor
Observasing (Pengamatan)


Imitation (Peniruan)


Practicing (Pembiasaan)

Adapting (Penyesuaian)
Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi pertahanan pada sebuah artikulasi
Melatih, Mengubah, Membongkar sebuah struktur, Membangun kembali sebuah struktur, dan menggunakan model
Membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten
Menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model
2.    Contoh Cara Menjabarkan Kompetisi Dasar ke dalam Indikator Kompetisi
a.    Mengidentifikasi kata-kata untuk indikator kompetisi
Cara atau langkah yang paling mudah untuk menjabarkan kompetisi dasar ke dalam indikator kompetensi adalah menambah kolom disebelah kanan pada format standar kompetensi dan kompetensi dasar seperti berikut ini:

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Mata Pelajaran        : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas                      : VII, Semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1.    Memahami lingkungan kehidupan manusia
2.    Memahami kehidupan sosial mannusia
1.1  Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan
1.2  Mendeskripsikan kehidupan pra-aksara di Indonesia
2.1  Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial
2.2  Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian


2.3  Megidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial

2.4  Menguraikan proses interaksi sosial
1.1.1        Menguraikan
1.1.2        Menunjukkan
1.1.3        Menjelaskan
1.2.1        Mengurutkan
1.2.2        Menggambarkan
1.2.3        Menulis ulang
1.2.4        Menafsirkan
2.1.1       Menjelaskan
2.1.2        Mengkritisi
2.1.3        Memberikan evaluasi
2.2.1                    Menjelaskan
2.2.2                    Membedakan
2.2.3                    Mempengaruhi
2.3.1    Mengidentifikasi
2.3.2    Mengurutkan
2.3.3    Mengamati



E.  Nasib Guru dalam Pengembangan SKKD
Pengaruh guru terhadap prestasi belajar peserta didik, namun sampai saat ini guru tetap merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan penerapan KYD (khususnya dalam pengembangan SKKD), bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, guru harus senantiasa meningkatkan pemahamannya terhadap peserta didik. Beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik, antara lain: Keamampuan potensi, minat, hobi, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Agar pengembangsn SKKD berhasil memperhatikan perbedaan individual, maka guru perlu melakukan hal- hal berikut:
1.    Mengurangi metode ceramah
2.    Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik
3.    Mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran
4.    Memodifikasi dan memperkaya bahan
5.    Menghubungi spesialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan
6.    Menggunakan prosedur yang bervariasi dalam penilaian dan laporan
7.    Yang  bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan  sama
8.    Mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap peserta didik bekerja dengan kemampuannya masing- masing pada tiap pelajaran
9.    Mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan

F.   Nasib Kepala Sekolah dalam Pengembangan SKKD
Disamping guru, kepala sekolah memilki peranan yang sangat penting dalam pengembangan SKKD, terutama dalam mengkoordinasikan, menggerakan, dan menyelaraskan semua sumber daya pendidikan yang tersedia.
Kepala sekolah adalah pemimpin tertinggi yang sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah. Secara sederhana kepemimpinan kepala sekolah dapat diartikan sebagai cara atau kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, memberdayakan, menggerakan guru, staf, siswa, orang tua siswa, komite sekolah, dewan pendidikan dan pihak lain yang terkait, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, bagaiamana cara kepala sekolah membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan sekolah secara optimal, efektif dan efisien.
Sealin itu, kepala sekolah harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah, dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan kurikulum, pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan peserta didik, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan penciptaan iklim sekolah.






















H.A.R Tilaar. Standarisasi Pendidikan Nasional. 2006. Jakarta: PT Rineka Cipta
Dr. E. Mulyasa. Kurikulum yang disempurnakan (Pengembangan SKKD).2006. Bandung: remaja rosdakarya
Davies, I.K. 1986. PENGELOLAAN belajar. Jakarta: rajawali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar