BAB II
STRATEGI PENGEMBANGAN SKKD
Strategi pengembangan SKKD (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ), yang
meliputi pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, pertahapan
penerapan kurikulum, dan perangkat pelaksanaan; model penerapan; kewenangan
sekolah, serta peran guru dan kepala sekolah dalam menyukseskan KYD, khususnya
dalam pengembangan SKKD.
A. Strategi Mengembangkan
Strategi Yang Jitu
Pengembanagn SKKD dapat dilakukan secara efektif dan efesien
apabila didukung oleh sumber daya manusia yang professional untuk
mengoperasikan pembelajran, dana sekolah yang cukup untuk menggaji staf sesuai
dengan fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses
pembelajaran, serta dukungan yang tibnggi dari masyarakat (orang tua). Krisis
multidimensi yang berkepanjangan yang bdibarengi dnegan kenaikan bahan baker minyak (BBM), dan tariff dasar
listrik dasar listrik (TDL), ssrta kenaikan suku bunga abnk Indonesia telah
memperlemah kemampuan bersekolah dan telah menimbulkan dampak negative, yakni
menurunnya jumlah peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai perguruan
tinggi (kesempatan belajar di SLTP,SLTA dan perguruan tinggi tertinggal
dibandingkan dengan Negara lain), menurunnya partisipasi masyarakat karena
kerusuhan dan bencana terjadi dimana-mana, angka npartisispasi pendidikan sama
dengan yang telah tercapai Negara-negara ASEAN lainnya 15-20 tahun yang lalu. (E.Mulyasa. 2006)
B. Model pengembangan SKKD
Model-model pengembanagn kurikulum, merupakan hasil
penelitian berbagai ahli pendidikan dan ahli kurikulum diberbagai Negara. Model
ini disjaikan untuk memeperkaya pemahaman tentang pengembanagan kurikulum,
sehingga kita benatr-benar siap untuk
menerapkan kurikulum baru dengan sukses. Model kurikulum yang disjikan dalam
makalah ini meliputi Model Administrasi, Model Akar rumput (Grass-Roots), Model
Demonstrasi, Model Sistemik dari Beauchamp, Model Taba, Model. Hunbungan Interpersonal dari Rogers,
Model Penelitian Tindakkan, Model Teknis Emerging. (E.Mulyasa. 2006)
1.
Model Administratif (Line Staf)
Pengembangan kurikulum model
administratif merupakan model yang paling dikenal, karena dikembangkan dari
atas ke bawah (Sentralisasi). Pengembangan kurikulum model administratif,
inisiatifnya menggunakan prosedur administrati, sehingga dinas pendidikan
memiliki beberapa komisi, dari komisi tingkat atas (BSNP atau Puskur) yang
menentuakan kebijakan kurikulum sampai komisi tingkat bawah (Sekolah/ MGMP)
yang melaksanakan kurikulumtersebut dalam kegiatan pembelajaran.
2.
Model Akar rumput (Grass-Roots)
Pentingnya guru sebagai kunci
keberhasilan penerapan kurikulum digambarkan dalam empat prinsip yang mendasari
grass roots model:
a. Kurikulum akan
meningkat bila kompetensi profesional guru meningkat.
b. Kompetensi guru akan
meningkat bila mereka terlibat secara pribadi dalam masalah- masalah perubahan
dan perbaikan kurikulum
c. Keterlibatan guru
dalam berbagai kegiatan perbaikan kurikulum sampai dengan penilaian hasilnya,
akan sangat meningkatkan keyakinannya.
d. Dalam kelompok tatap
muka, guru akan dapat memahami satu sama lain seacra lebih baik, dan memperkaya
konsensus pada prinsip-prinsip dasar, tujuan, dan rencana pembelajran.
3.
Model Demonstrasi
4.
Model Sistemik dari Beauchamp
5.
Model Taba
6.
Model Hunbungan Interpersonal dari
Rogers
7.
Model Penelitian Tindakkan
8.
Model Teknis Emerging
C. Kewenangan Sekolah
Sejalan dengan desentralisasi pendidikan dalam
konteks otonomi daerah yang sedang bergulir, dalam penerapan kurikulum sekolah
diberi bkewenangan yang sedang bergulir, dalam penerapan kurikulum sekolah
diberi keweanngan yang sangat leluasa terutama dalam hal-hal sebagai berikut :
1.
Menyususn dan mengembangkan
kurikulum
2.
Manajemen sekolah yang
menggambarkan kadar otonomi sekolah dan desentralisasi pendidikan. Dalam
pengembangan SKKD
3.
Membuat perencanaan, pelaksanaan,
dan pertanggung jawaba; mpenerapan kurikulum tidak lepas dari accountability
yang tidak dapat dilihat dari perencanaan sekolah dan pencapainnya.
4.
Menjamin dan mengusahakan sumber
daya
D. Pemahaman dan
Menjabarkan Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar
Standat
kompetisi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok,
kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetisi untuk penilaian
sedangkan dalam merancang kegiatan pembelajarn dan penilaian perlu
memperhatikan standar proses dan standar penilaian.
Dalam
kaitannya dengan KTSP, Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetisi dan
Kompetisi Dasar (SKKD) berbagai mata pelajaran, untuk dijadikan acuan oleh para
pelaksana (guru) dalam mengembangkan KTSP pada satuan pendidikan masing-masing.
Dengan
demikian, tugas utama guru dalam KTSP adalah menjabarkan, menganalisis,
mengembangkan indikator dan menyesuaikan SKKD dengan karakteristik dan
perkembangan peserta didik, situasi, dan kondisi sekolah, serta kondisi dan
kebutuhan daerah. Selanjutnya mengemas hasil analisis terhadap SKKD tersebut ke
dalam KTSP, yang didalamnya mencakup silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). (E.Mulyasa. 2009)
Contoh Sistematika
Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar
(SKKD) Matapelajaran KIMIA SMA/MA
Satuan Pendidikan :
Sekolah Menengah Atas (SMA) / Madrasah Aliyah (MA)
Mata Pelajaran :
Kimia
A. Latar Belakang
Tujuan
Ruang Lingkup
- Standar Kompetisi dan Kompetisi Dasar
Contoh: Kelas X, Semester 1
|
Standar Kompetisi
|
Kompetisi Dasar
|
|
1. Memahami struktur
atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia
|
1.1 Memahami struktur
atom berdasarkan teori atom Bohr, sifat-sifat unsur, massa atom relatif, dan
sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik serta menyadari
keturaturannya, melalui pemahaman konfigurasi elektron
1.2 Membandingkan
proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan koordinasi, dan ikatan
logam serta hubungannya dengan sifat fisika senyawa yang terbentuk
|
|
2. Memahami hukum
dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kmia (stoikiometri)
|
2.1 Mendiskripsikan
tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya
2.2 Membuktikan dan
mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan serta
menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia
|
Cara Menjabarkan Kompetisi Dasar kedalam
Indikator Kompetisi :
Langkah penting yang harus dipahami guru dalam kaitannya dengan KTSP ialah
bahwa guru harus mampu menjabarkan kompetisi dasar ke dalam indikator kompetisi
yang siap dijadikan pedoman pembelajaran dan acuan penilaian. Namun sebelumnya,
harus dipahami dulu apa itu kompetisi dasar dan apa itu indikator kompetisi.
Kompetisi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik
dalam matapelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetisi.
Sedangkan Indikator kompetisi adalah perilaku yang dapat diukur dan atau di
observasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetisi dasar tertentu yang menjadi
acuan penilaian mata pelajaran. Sehubungan dengan itu, dalam bagian ini
dikemukakan daftar kata-kata operasional yang dapat digunakan indikator
kompetisi, dan contoh cara menjabarkan SKKD ke dalam indikator kompetisi. (E.Mulyasa.
2009)
1. Daftar Kata-kata
Operasional untuk Indikator
Berikut disajikan kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk
indikator kompetisi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun
psikomotorik. (Moore, 2001:92-94, Rosyada, 2004:140-142)
|
No
|
Aspek
|
Kompetensi
|
Indikator Kompetensi
|
|
01
|
Kognitif
|
Knowledge (Pengetahuan)
Comprehension (Pemahaman)
Aplication (Penerapan)
Analysis (Analisis)
Synthesis (Sintesis)
Evaluation (Evaluasi)
|
Menyebutkan, menuliskan, Menyatakan, Mengurutkan, Mengidentifikasi,
Mendefinisikan, Mencocokan, Memberi nama, Memberi label, Melukiskan
Menerjemahkan, Mengubah, Menggeneralisasi, Menguraikan, Menuliskan
kembali, Merangkum, Membedakan, Mempertahankan, Menyimpulkan, Mengemukakan
pendapat dan Menjelaskan
Mengoperasikan, Menghasilkan, Mengubah, Mengatasi, menggunakan,
Menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung
Menguraikan, Membagi-bagi, Memilih, dan membedakan
Merancang, Merumuskan, Mengorganisasikan, Menerapkan, Memadukan, dan
merencanakan
Mengkritisi, Menafsirkan, mengadili dan memberikan evaluasi
|
|
02
|
Afektif
|
Receiving (penerimaan)
Responding (Menanggapi)
Valuing (Penanaman nilai)
Organization
(pengorganisasian)
Characterization (Karakterisasi)
|
Mempercayai, Memilih, mengikuti, Bertanya, dan Mengalokasikan
Konfirmasi, Menjawab, membaca, Membantu, Melaksanakan, melaporkan, dan
menampilkan
Menginisiasi, Mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan
Memverifikasi, menyusun, Menyatukan, Menghuungkan mempengaruhi
Menggunkan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan
nilai-nilai yang sudah diyakini
|
|
03
|
Psikomotor
|
Observasing (Pengamatan)
Imitation (Peniruan)
Practicing (Pembiasaan)
Adapting (Penyesuaian)
|
Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan,
memberi pertahanan pada sebuah artikulasi
Melatih, Mengubah, Membongkar sebuah struktur, Membangun kembali sebuah
struktur, dan menggunakan model
Membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar
tetap konsisten
Menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model
|
2. Contoh Cara
Menjabarkan Kompetisi Dasar ke dalam Indikator Kompetisi
a. Mengidentifikasi
kata-kata untuk indikator kompetisi
Cara atau
langkah yang paling mudah untuk menjabarkan kompetisi dasar ke dalam indikator
kompetensi adalah menambah kolom disebelah kanan pada format standar kompetensi
dan kompetensi dasar seperti berikut ini:
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas : VII, Semester 1
|
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
|
1. Memahami lingkungan
kehidupan manusia
2. Memahami kehidupan
sosial mannusia
|
1.1 Mendeskripsikan
keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap
kehidupan
1.2 Mendeskripsikan
kehidupan pra-aksara di Indonesia
2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses
sosial
2.2 Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses
pembentukan kepribadian
2.3 Megidentifikasi bentuk-bentuk interaksi
sosial
2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
|
1.1.1
Menguraikan
1.1.2
Menunjukkan
1.1.3
Menjelaskan
1.2.1
Mengurutkan
1.2.2
Menggambarkan
1.2.3
Menulis ulang
1.2.4
Menafsirkan
2.1.1 Menjelaskan
2.1.2
Mengkritisi
2.1.3
Memberikan evaluasi
2.2.1
Menjelaskan
2.2.2
Membedakan
2.2.3
Mempengaruhi
2.3.1
Mengidentifikasi
2.3.2
Mengurutkan
2.3.3
Mengamati
|
E. Nasib Guru dalam Pengembangan
SKKD
Pengaruh
guru terhadap prestasi belajar peserta didik, namun sampai saat ini guru tetap
merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan penerapan
KYD (khususnya dalam pengembangan SKKD), bahkan sangat menentukan berhasil
tidaknya peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, guru harus senantiasa
meningkatkan pemahamannya terhadap peserta didik. Beberapa hal yang harus
dipahami guru dari peserta didik, antara lain: Keamampuan potensi, minat, hobi, sikap, kepribadian, kebiasaan,
catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Agar
pengembangsn SKKD berhasil memperhatikan perbedaan individual, maka guru perlu
melakukan hal- hal berikut:
1.
Mengurangi metode ceramah
2.
Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik
3.
Mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan
dengan mata pelajaran
4.
Memodifikasi dan memperkaya bahan
5.
Menghubungi spesialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan
6.
Menggunakan prosedur yang bervariasi dalam penilaian dan laporan
7.
Yang bahwa peserta didik tidak
berkembang dalam kecepatan sama
8.
Mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap peserta didik
bekerja dengan kemampuannya masing- masing pada tiap pelajaran
9.
Mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan
F. Nasib Kepala Sekolah dalam Pengembangan SKKD
Disamping
guru, kepala sekolah memilki peranan yang sangat penting dalam pengembangan
SKKD, terutama dalam mengkoordinasikan, menggerakan, dan menyelaraskan semua
sumber daya pendidikan yang tersedia.
Kepala
sekolah adalah pemimpin tertinggi yang sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan
sekolah. Secara sederhana kepemimpinan kepala sekolah dapat diartikan sebagai
cara atau kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing,
mengarahkan, memberdayakan, menggerakan guru, staf, siswa, orang tua siswa,
komite sekolah, dewan pendidikan dan pihak lain yang terkait, untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, bagaiamana cara kepala sekolah
membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan sekolah secara optimal,
efektif dan efisien.
Sealin
itu, kepala sekolah harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah, dalam
kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan
kurikulum, pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar,
keuangan, pelayanan peserta didik, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan
penciptaan iklim sekolah.
H.A.R Tilaar. Standarisasi Pendidikan Nasional. 2006. Jakarta: PT Rineka
Cipta
Dr. E. Mulyasa. Kurikulum yang disempurnakan (Pengembangan SKKD).2006.
Bandung: remaja rosdakarya
Davies, I.K. 1986. PENGELOLAAN belajar. Jakarta: rajawali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar