Rabu, 09 Oktober 2013

Makalah

BAB I
Pendahuluan

A.  Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki sekitar 17 ribu lebih pulau (6 ribu pulau berpenduduk) yang tersebar dalam area geografis 1.919.440 km2, di satu sisi kondisi ini merupakan suatu keuntungan yang besar bagi bangsa kita karena memiliki sumber daya yang besar, baik secara demografis maupun geografis. Jumlah pulau yang tersebar begitu banyak justru menjadi hambatan dalam proses pembangunan dan pengembangan ICT. Aspek tingginya biaya menjadi salah satu faktor penting sulitnya pembangunan dan pengembangan ICT hingga ke pelosok negeri, sehingga fokus pembangunan lebih banyak dititikberatkan pada wilayah-wilayah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti pulau Jawa dan sebagian Sumatra.
Secara umum, pembangunan di bidang komunikasi dan informatika, terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) merupakan salah satu aspek penting yang mendorong pembangunan nasional. Selain menjadi faktor produksi dan ekonomi, ICT juga berperan sebagai enabler dalam perubahan sosial budaya kemasyarakatan di berbagai aspek. Aspek-aspek yang dimaksud seperti pengembangan kehidupan politik yang lebih demokratis, pengembangan budaya dan pendidikan, dan peningkatan  kapasitas governance di berbagai sektor pembangunan. Perkembangan ICT menyebabkan terciptanya lalu lintas informasi dan komunikasi bebas hambatan antar Negara dan wilayah. Dengan kata lain, keberadaan ICT mampu menghilangkan berbagai hambatan geografis sehingga terjadi transformasi pola hidup manusia di berbagai bidang menuju masyarakat berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge-based society.
Dengan melihat betapa pentingnya keberadaan ICT, maka suatu awal yang tepat dengan mengintegrasikan sejumlah lembaga terkait menjadi sebuah Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Selain untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan informatika, juga keberadaan Departemen ini untuk mengantisipasi perkembangan ICT ke arah konvergensi sektor telekomunikasi, media, dan teknologi informasi. Untuk itu, diperlukan sejumlah strategi dan kebijakan di bidang komunikasi dan informatika yang tepat untuk meletakkan dasar yang kuat untuk membangun knowledge-based society.
Dari segi sistem pendidikan, kedudukan teknologi pendidikan berfungsi untuk memperkuat pengembangan kurikulum terutama dalam disain dan pengembangan, serta implementasinya, bahkan terdapat asumsi bahwa kurikulum berkaitan dengan “what”, sedangkan teknologi pendidikan mengkaji tentang “how”. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, teknologi pendidikan memperkuat dalam merekayasa berbagai cara dan teknik dari mulai tahap disain, pengembangan, pemanfaatan berbagai sumber belajar, implementasi, dan penilaian program dan hasil belajar.
Teknologi Informasi Komunikasi dalam pendidikan adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.

B. Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)?
2.    Bagaimana Implementasi Teknologi Pendidikan?
3.    Bagaimana Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi & Informasi Blueprint ICT Indonesia?
4.    Bagaimana Aplikasi TIK atau ICT dalam Pembelajaran?
5.    Apa saja Dampak Pembelajaran dengan Menggunakan TIK atau ICT?
6.    Apa saja Manfaat ICT Terhadap Perkembangan Peserta Didik di Sekolah?

C. Tujuan Penelitian
1.    Mengetahui Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
2.    Mengetahui Implementasi Teknologi Pendidikan
3.    Mengetahui Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi & Informasi Blueprint ICT Indonesia
4.    Mengetahui Aplikasi TIK atau ICT dalam Pembelajaran
5.    Mengetahui Dampak Pembelajaran dengan Menggunakan TIK atau ICT
6.    Mengetahui Manfaat ICT Terhadap Perkembangan Peserta Didik di Sekolah



BAB II
ISI
LEARNING IMPERATIVE AND ICT TERHADAP PERKEMBANGAN HASIL BELAJAR SISWA
Top of Form
A.  Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Pesan yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet.
Perkembangan information and communication technology (ICT) atau yang lebih dikenal dengan teknologi informasi dan teknologi (TIK) yang sangat pesat memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan kita sehari-hari. Hampir semua aspek kehidupan, kini telah dimasuki oleh ICT/TIK dengan taraf yang berbeda-beda, tak terkecuali pada bidang pendidikan.
B.  Implementasi Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah, banyak media yang dapat digunakan sehingga pembelajaran tersebut terkesan modern dan tidak membosankan. Apabila konsep atau pengertian teknologi pendidikan kita analisis, kita akan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut :
1.    Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem.
2.    Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan diantaranya.
3.    Digunakannya teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
4.    Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekadar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah.
Teknologi pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang garapnya, baik sebagai objek formal maupun objek materinya, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar. Oleh karenanya aplikasi teknologi pembelajaran juga tidak terlepas dari lima kawasan tersebut. Seels dan Richey (1994) menjelaskan bahwa demi menjaga keutuhan definisi (teknologi pembelajaran) kegiatan-kegiatan dalam setiap kawasan teknologi pembelajaran dapat dikaitkan baik kepada proses maupun sumber pembelajaran.
Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan-keputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Umpama : aplikasi itu mempunyai dampak penting terhadap isi (content) yang akan diajarkan, tingkat standarisasi dan pemilihan isi, jumlah dan kualitas sumber-sumber yang tersedia.
Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
Pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Ketiga prasyarat tersebut pada akhirnya bermuara pada areaproses dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif antara lain memiliki nilai relevansi dengan pencapaian tujuan pembelajaran dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain dapat menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan sistem konvensional sudah tidak efektif sebab dianggap sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan teknologi informasi dimana pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan. Sehingga ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini. Sistem konvensional seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia sebagai bentuk kemajuan teknologi informasi. e-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan.
Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping caracara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Secara umum aplikasi teknologi dalam pendidikan akan mampu :
1.    Menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
2.    Membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
3.    Dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun sebagai produk sampingan.
4.    Menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
5.    Menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
6.    Menambah daya tarik untuk belajar.
7.    Membantu mengubah sikap pemakai.
8.    Mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan proses.
9.    Mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem tradisional. (Miarso, 1981)
C.  Kebijakan dan Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi & Informasi Blueprint ICT Indonesia
Untuk menentukan arah pembangunan bidang ICT di Indonesia, perlu menetapkan blueprint (cetak biru) dan roadmap agar setiap langkah pengembangan ICT menjadi lebih terarah dan sinergis. Blueprint dan roadmap tersebut sangat diperlukan untuk menentukan arah perkembangan dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan. Ada 4 (empat) komponen penting dalam menentukan blueprint ICT Indonesia :


1.    Infrastruktur ICT
Saat ini pembangunan infrastruktur ICT masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan ICT Indonesia. Dari tahun ke tahun tingkat kebutuhan infrastruktur ICT semakin tinggi, namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembangunan infrastruktur itu sendiri (lihat Tabel 1).
Akhir Tahun
Sambungan Tetap
STB
Internet
Multimedia*
Kapasitas
Penetrasi
Pelanggan (Kapasitas Terpakai)
Penetrasi
Pelanggan (juta)
Pelanggan (juta)
2006
10.454.115
4,6
33.303.941
14,59
4,371
3,637
2007
11.594.976
5,0
38.622.073
16,70
5,863
4,866
2008
12.963.259
5,5
43.940.204
18,76
7,680
6,363
2009
14.591.029
6,1
49.258.336
20,76
9,853
8,153
2010
16.510.494
6,9
54.576.467
22,71
12,417
10,265
2011
18.753.716
7,7
59.894.599
24,62
15,403
12,725
2012
21.352.879
8,7
65.212.730
26,48
18,847
15,562
2013
24.340.042
9,8
70.530.862
28,29
22,779
18,801
2014
27.747.373
11,0
75.848.993
30,06
27,233
22,471
2015
31.607.041
12,4
81.167.125
31,79
32,243
26,598
Tabel 1.
Perkiraan Kebutuhan Infrastruktur
Telekomunikasi dan Informatika
Sumber : Demand Forecast Ditjen Postel, 2002.
Untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur tersebut, perlu sejumlah program pembangunan infrastruktur yang terarah. Berikut ini adalah beberapa program pembangunan infrastruktur ICT yang saat ini sedang dan akan dilaksanakan:
a.    Universal Service Obligation (USO)
Program USO atau Kewajiban Kontribusi Pelayanan Universal Telekomunikasi merupakan penyediaan akses dan layanan telekomunikasi di daerah terpencil, perintisan, atau daerah perbatasan. Sumber pendanaan pokok berasal dari kontribusi 0,75% dari annual gross revenue seluruh penyelenggara telekomunikasi. Diharapkan dari program ini pada tahun 2010 seluruh desa di Indonesia telah memiliki minimal 1 (satu) jalur telepon. Sedangkan tahun 2015 ditargetkan 50% (lima puluh persen) desa di seluruh Indonesia sudah bisa mengakses internet.
b.    Palapa Ring Project 
Terkait juga dengan pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, pemerintah tengah mengusahakan untuk pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring sebagai tulang punggung (backbone) bagi sistem telekomunikasi nasional. Palapa Ring merupakan jaringan kabel bawah laut berbentuk cincin terintegrasi yang membentang dari Sumatera Utara hingga Papua bagian barat yang panjangnya sekitar 25.000 km. dengan terwujudnya jaringan serat optik Palapa Ring, maka aliran komunikasi dan informasi akan semakin tersebar merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terobosan luar biasa ini akan membuka hambatan informasi (information barrier) di daerah Indonesia timur yang diharapkan mampu memacu pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut.
c.    Penyelenggaraan Broadband Wireless Access
Program ini merupakan salah satu usaha pemerintah untuk membangun jariangan infrastruktur komunikasi dan informasi. Dengan pembeabsan ijin pita frekuensi 2,4 GHz, diharapkan mampu meningkatkan dan memasyarakatkan penggunaan internet di Indonesia serta menekan biaya akses internet yang masih terbilang mahal dibandingkan negara lain.
2.    E-edukasi
Pembangunan dan pengembangan e-edukasi sebagai pendukung perkembangan ICT di Indonesia dirasa masih belum memadai. Selain masih rendahnya rata-rata partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan, namun juga kesadaran masyarakat akan pentingnya ICT adalah menjadi salah satu faktor utamanya. Untuk itu perlu adanya sejumlah program pengembangan e-edukasi di Indonesia, di antaranya :
a.    Standar Kompetensi Profesi SDM  ICT
Tingginya permintaan pasar akan profesi ICT di Indonesia mendorong perlunya standar kompetensi profesi yang baku bagi sumber daya manusia di bidang TIK. Standar kompetensi ini diperlukan untuk menjaga kualitas agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari berbagai stakeholders agar dapat merumuskan standar kompetensi profesi SDM ICT yang tepat bagi kebutuhan pasar industri.


b.    Kampanye Penggunaan Internet untuk Pendidikan
Walaupun jumlah pengguna internet maupun jumlah internet domains di Indonesia meningkat secara tajam, namun pemanfaatan internet untuk pembelajaran masih terbatas. Selain pola belajar masih menggunakan pola konvensional, namun juga karena adanya keterbatasan sarana dan prasarana yang menunjang penggunaan internet untuk pendidikan, seperti kurangnya ketersediaan komputer di sekolah, tidak adanya akses telekomunikasi yang memadai, serta masih mahalnya biaya akses internet. Diharapkan sebagian besar perguruan tinggi dan sekolah terhubung internet dan literasi TI sebagai bagian dari Masyarakat Berbasis Informasi.
c.    Pengembangan Software Pendidikan
Dengan mengembangkan software pendidikan akan meningkatkan pemerataan materi pendidikan dan kompetensi yang baik bagi para pelajar. Program ini mengimplementasikan sistem pembelajaran dengan menggunakan software sebagai alat bantu guna memberikan kemudahan dalam proses belajar-mengajar, baik bagi para pelajar dan khususnya para pengajar dalam menyampaikan material kepada para anak didik. Diharapkan sebagian besar sekolah di Indonesia dapat menggunakan alat bantu software pendidikan sebagai salah satu alat bantu mengajar.
3.    Beberapa Program Aksi
Pemanfaatan TTI dalam pendidikan merupakan sesuatu yang imperatif, karena tanpa itu pendidikan kita akan senantiasa ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi dengan negara maju. Namun peerlu disadari bahwa karena keterbatasan sumber daya, khususnya dana, pemanfaatan itu tidak dapat dilakukan secara menyaluruh dalam semua sektor pendidikan. Pengembangan program aksi dilakukan melalui melalui proyek perintiisan dan atau percontohan.
Sasaran pokok program aksi adalah peningkatan mutu proses dan keluaran pendidikan, dengan tekanan pada proses yang efektif dan efisien serta keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Pemulihan proyek perintisan atau percontohan didasarkan pada criteria :
-       Posisi kritikal dari program: kesediaan pimpinan lembaga pemdidikan, kesediaan guru, dukungan orang tua, dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan TTI untuk pendidikan merupakan sesuatu yang kritikal, karena tanpa itu semua, apa pun yang akan dilakukan tidak akan berhasil.
-       Dukungan teknologi dan infrastruktur pada “users’ end”: tidak dilakukan pembangunan secara khusus mulai dari awal, melainkan memanfaatan dan meningkatkan apa yang sudah ada.
-       Kesiapan kelembagaan: telah tersedia orang, organisasi, program, dan alokasi dana (meskipun terbatas) yang bertanggung jawab dalam menyelengarakan kegiatan.
Berdasarkan sasaran dan kriteria program aksi tersebut, maka berikut ini disajikan serangkaian program aksi yang diusulkan.
a.    Program Aksi I : Pelatihan Tenaga
Tujuan program ini adalah:
ü Mendapatkan sejumlah tenaga yang mampu menangani perkembangan perangkat lunak TTI
ü Memperoleh paket program pelatihan untuk berbagai bidang ketrampilan yang dapat digunakan bersama
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
ü Mengadakan penelusuran kebutuhan latihan
ü Merancang program latihan khusus
ü Menentukan kriteria dan memilih peserta latihan
ü Melaksanakan pelatihan dan memonitor jalannya pelatihan
b.      Program Aksi II : Pengembangan Jaringan
Tujuan program ini adalah:
·      Memperoleh informasi lengkap tentang berbagai lembaga yang sudah mengembangkan penggunaan TTI, termasuk semua produk yang telah dihasilkan
·      Terbentuknya aliansi atau kerja sama untuk menghindarkan pemborosan dengan menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan fasilitas bersama.
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
·      Mengadakan inventarisasi lembaga-lembaga pendidikan yang telah menyelenggarakan/mengembangkan program ITI
·      Mengadakan rapat koordinasi untuk pembentukan jaringan komunikasi dan kerja sama
·      Dibangunanya unit layanan informasi
·      Penyusunan rencana kerja yang dapat dilakukan bersama
c.       Program Aksi III : Penataran Guru/Dosen/Pengajar
Tujuan program ini adalah:
o  Terlatihanya tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah, pemilik administator, dosen, pengajar, widyaiswara)
o  Timbulnya komitmen para pengelola lembaga/program pendidikan dan pelatihan terhadap model-model pembelajaran berbasis jaringan
o  Meningkatkanya kemampuan guru, dosen dan tenaga pengajar untuk merancang dan menyelenggarakan program pembelajaran dengan, menintrergrasikan bahan-bahan pembelajaran berbasis jaringan ke dalam program pembelajaran mereka
o  Terbentuknya forum dan kesempatan pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta produk pembelajaran antara sesama sejawat
o  Masuknya materi pengenalan model pembelajaran berbasis jaringan dalam setiap kegiatan pendidikan prajabatan dan penataran guru
o  Tersediahnya sejumlah tenaga penatar pada tiap LPTK dan PPG/BPG yang mampu melatih rekan-rekanya mengenai pemanfaatan TTI
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
o  Menelurusi kebutuhan pendidikan/pelatihan dalam rangka aplikasi pembelajaran berbasis jaringan
o  Mengembangkan serangkaian program pendidikan/pelatihan pembuatan paket-paket pendidikan/pelatihanya
o  Mengembangkan program multimedia dan model-model pembelajaran berbasis jaringan dalam berbagai subjek dan jenjang
o  Menyelenggarakan acara sosialisasi aplikasi TTI kepada lembaga pendidikan atau pelatihan
o  Mengusahakan sponsor dan partner dalam pengembangan, produksi, dan pemanfaatan program pembelajaran berbasis jaringan
o  Memperjuangkan kemudahan bagi lembaga-lembaga pendidikan/pelatihan untuk mengadopsi program pembelajaran berbasis jaringan
o  Membentuk tim kordinasi untuk penyelenggaraan penataran
o  Penyusunan Buku Petunjuk Operasional bagi para guru mengenai pembelajaran terbuka dengan komputer akses Internet dan LAN
d.      Program Aksi IV : Pendidikan Luar Sekolah
Tujuan program ini adalah :
Ø Tersusunya suatu kebijakan mengenai pola pemanfaatan TTI di sekolah pada semua jenjang
Ø Terselenggaranya proyek-proyek perintisan penggunaan TTI di sepuluh kota (Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Semarang Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Denpasar, dan Ujung pandang), sekarang sekurang-kurangnya dua Sekolah Dasar, dua SLTP, dua SMU dan dua SMK untuk tiap kota
Ø Terbina dan terkoordinasikannya proyek-proyek perintisan penggunaan TTI di sekolah. Baik atas usaha swadaya maupun proyek yang dibiayai dari anggaran pembangunan
Ø Terbentuknya perpustakaan elektronik untuk berbagai jenjang dan jenius sekolah
Ø Tersedianya bahan-bahan belajar multimedia, yang dapat digunakan untuk belajar secara interaktif
Ø Terbentuknya model-model penggunaan TTI di sekolah, termasuk kebijakan pengelolaan, konfigurasi peralatan, pengembangan dan adaptasi program pembelajaran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum, serta pelatihan guru
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
Ø Menginventarisasi program dan kegiatan yang telah diluncurkan baik oleh swasta maupun pemerintah, mengenai penggunaan TTI untuk sekolah
Ø Menginventarisasi sekolah-sekolah, baik yang atas prakarsa sendiri maupun yang dijadikan ajang perintisan proyek pembangunan, yang telah menggunakan TTI
Ø Mengamati dengan cermat beberapa program/kegiatan yang terpilih untuk dikembangkan sebagai model untuk disebarkan
Ø Membangun jaringan kerja sama dan koordinasi antar-sekolah yang bersangkutan
Ø Mengembangkan paket belajar yang sesuai dan atau terkait dengan kurikulum sekolah, dalam bentuk multimedia yang interaktif
Ø Menyusun Buku Pola Panduan Operasional Penggunaan TTI di sekolah
Ø Merumuskan butir-butir usulan kebijakan (nasional, strategik, maupun operasional) yang diharapkan dapat digunakan sebagai pegangan bagi pejabat/petugas di lapangan
e.       Program Aksi V : Pendidikan Tinggi
Tujuan program ini adalah:
§  Tersusunya informasi lengkap tentang program-program pembelajaran berbasis TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
§  Terselenggaranya pertemuan koordinasi antarperguruan tinggi pengembang program penggunaan TTI
§  Diperolehnya kemduahan bagi tiap perguruan tinggi untuk memperoleh akses terhadap program pembelajaran yang telah dikembangkan
§  Tersusunya model sistem pembelajaran berbasis TTI, termasuk kebijakan pengelolaan, konfigurasi, dan spesifikasi peralatan, pengembangan dan adaptasi program pembelajaran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum, serta pelatihan dosen
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
§  Meninvetarisasikan dan mendeskripsikan program-program pembelajaran berbasis TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
§  Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain sendiri), yang dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai program-program pembelajaran yang dikembangkan dan untuk diskusi
§  Melaksanakan pelatihan tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan produksi program, maupun untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan pembelajaran
§  Mengusahakan akses atas program-program jadi dari luar negeri, terutama yang dapat diperoleh tanpa atau dengan biaya murah
§  Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan pengembangan
§  Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya kompatibilitas sistem operasional dan peralatan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
f.        Program Aksi VI : Pendidikan Kedinasan dan Profesional
Tujuan program ini adalah :
v Terbentuknya jaringan telematika untuk keperluan pendidikan dan pelatihan terbuka
v Tersedianya tenaga pengembang program dan pelaksana lapangan (ahli teknologi pendidikan dan teknisi sumber belajar)
v Terbentuknya perpustakaan elektronik yang dapat diakses oleh semua lembaga diklat
v Tersedianya paket pelatihan dasar “melek TTI” untuk digunakan oleh semua lembaga pelatihan
v Didayagunakanya surat elektronik antara sesama lembaga diklat
v Terbentuknya homepage pada semua lembaga diklat
v Tersedianya sarana dan peralatan untuk dapat dimanfaatkan oleh lebih dari satu kelompok sasaran
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
v Mensosialisasikan pemanfaatan TTI kepada semua pimpinan dan karyawan lembaga diklat
v Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain sendiri), yang dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai program-program pembelajaran yang dikembangkan dan untuk diskusi
v Melaksanakan pelatihan tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan produksi program, maupun untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan pembelajaran
v Mengusahakan akses atas program-program jadi dari luar negeri, terutama yang dapat diperoleh tanpa atau dengan biaya murah
v Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan pengembangan
v Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya kompatibilitas sistem operasional dan peralatan untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
4.    E-Government
Dalam rangka membangun e-government di institusi pemerintahan, secara formal e-government di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2003 saat diterbitkannya Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government melalui Inpres No. 3 Tahun 2003 yang merupakan payung bagi kebijakan di bidang e-government. Ada sejumlah langkah-langkah yang diambil, yaitu :
a.    Rencana Legalisasi Software Pemerintah
Langkah tersebut diambil untuk menekan angka pembajakan software di instansi pemerintah. Selain itu juga dampak dari legalisasi tersebut mendorong penggunaan software berbasis open source yang relatif lebih murah sehingga mampu menurunkan biaya belanja untuk pengadaan software. Jumlah pembajakan berkurang (Pemerintah: 0%, Nasional : 65%) dan meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional.
b.    E-procurement
Dengan adanya proses pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintah melalui e-procurement, diharapkan proses pengadaan barang dan jasa menjadi lebih efektif, efisien, transparan, serta mampu menekan perilaku-perilaku KKN yang kerap kali terjadi. Saat ini, proses pengadaan barang dan jasa melalui internet masih dalam tahap e-announcement (pengumuman melalui situs).
c.    National Single Window
National Single Window diterapkan untuk integrasi semua layanan pemerintah lintas departemen dalam satu pintu sehingga lebih efisien.National Single Window menyediakan layanan perdagangan ekspor dan impor dalam satu kanal website pemerintah yang mencakup proses pengurusan bea cukai, pengiriman, transfer bank, asuransi, perizinan, dan sebagainya. Intinya, adanya integrasi semua layanan pemerintah lintas departemen dalam satu pintu. Tujuannya adalah peluang ekspor dan impor lebih besar dan proses lebih cepat serta mempercepat pergerakan perekonomian Indonesia.
D. Aplikasi TIK atau ICT dalam Pembelajaran
Pada saat ini, pembelajaran ICT di lingkungan sekolah atau universitas merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kebutuhan informasi dan komunikasi dalam berbagai keperluan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). ICT yang secara sederhana disimbolkan oleh perangkat komputer dan jaringan internet serta perangkat komunikasi telah banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja para pelajar mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Bicara tentang TIK atau ICT akan erat hubungannya dengan yang namanya komputer. Pada saat seperti inilah diperlukan alat bantu pengajaran, salah satunya adalah pembelajaran berbasis ICT (komputer multimedia). Aplikasi komputer sebagai alat bantu pendidikan sangatlah menguntungkan. Misalnya, dalam hal pengolahan data berupa naskah atau teks, dapat menggunakan aplikasi MSOffice yaitu microsoft office word. Sedangkan untuk pengolahan data berupa angka, kita dapat menggunakan aplikasi MSOffice yaitu microsoft office excel.
Selain itu, komputer juga menyediakan aplikasi yang berhubungan dengan proses pembelajaran dengan metode presentasi. Aplikasi komputer yang dapat digunakan untuk hal ini adalah microsoft office power point. Program Microsoft Power Point menampilkan menu-menu yang berguna dalam pembuatan wacana multimedia yang bersifat tutorial. Menu-menu tersebut adalah menu animasi; menu untuk memasukan (import file) suara, video, dan gambar animasi; dan menu tautan (hyperlink) untuk menghubungkan antara satu simpul (node) atau file dengan simpul atau file lainnya.
Komputer memungkinkan mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer dalam proses belajar membuat mahasiswa dapat melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya.
Satu bentuk produk TIK yang sedang menjadi “trend” adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadiran internet telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan informasi yang berkembang.
Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta. Internet menawarkan banyak fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan mempergunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui (e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar.
Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.
Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke, di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan (5) dari waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik belajar secara aktif.
Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin populer saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.  Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.
E. Dampak Positif dan Negatif Pembelajaran yang Menggunakan ICT atau TIK
Seiring berkembangnya zaman, ICT atau TIK semakin digunakan di dunia pembelajaran, hal itu bisa terjadi karena ICT atau TIK dirasa membawa keuntungan baik bagi pengajar maupun pelajar, keuntungan atau dampak positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK tersebut antara lain adalah :
1.    Pelajar jadi lebih mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajra lebih suka praktek dibandingkan teori.
2.    Pengajar jadi lebih mudah mengajar jadi lebih mudah menyampaikan materi dengan membuat presentasi – presentasi.
3.    Bagi pelajar maupun pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka, jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi melalui e-mail.
4.    Dalam membuat laporan baik bagi pelajar, maupun pengajar jadi lebih mudah karena jika memakai komputer, akan mudah dikoreksi jika ada kesalahan.
5.    Dalam belajar, baik pelajar maupun pengajar akan lebih mudah mencari sumber karena adanya internet.
6.    Pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK bisa dibuat menjadi lebih menarik, misalnya dengan memunculkan gambar atau suara, sehingga pelajar menjadi lebih antusias untuk belajar.
Segala sesuatu pasti ada dampak positif dan negatif, tidak terkecuali pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK
1.    Pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK hanya bisa dilaksanakan oleh sekolah yang mampu, bagi sekolah–sekolah yang kurang mampu akan ketinggalan, dan siswanya akan kesulitan jika mereka masuk ke sekolah lanjutan di kota besar yang sudah sering menggunakan ICT atau TIK
2.    Setiap pelajar harus mendapat fasilitas yang sama, jadi dalam pembelajaran yang menggunakan komputer, setiap pelajarnya harus memakai 1 komputer yang memadai, jika komputer yang dalam kondisi baik hanya sebagian, aka nada siswa yang hanya menonton, sehingga mereka tidak menguasai penggunaan komputer
3.    Dalam pembelajaran, siswa – siswa yang tidak antuasias dalam penerimaan materi sering kali lebih suka main game selama pembelajaran, sehingga mereka tidak konsentrasi dan tidak menerima materi yang diajarkan.
4.    Dalam pembelajaran yang menggunakan internet yang tidak dibatasi, sering kali pelajar menggunakan internet bukan untuk keperluan belajar, misalnya membuka situs youtube untuk menonton video dalam proses belajar
5.    Bagi pengajar yang malas masuk kelas cenderung memberi tugas–tugas yang memanfaatkan internet sehingga tatap muka dengan pelajar jarang terjadi, akibatnya pengajar tidak mengenali pelajarnya.
F.   Manfaat ICT Terhadap Perkembangan Peserta Didik di Sekolah
Dalam proses pembelajaran berbasis teknologi, tentunya ada banyak peranan atau faktor-faktor terkait. Salah satunya adalah  guru dan murid sebagai pelaku utama dalam pendidikan. Penguasaan teknologi ini mutlak diperlukan bagi guru dalam rangka meningkatkan kualitasnya dalam proses pembelajaran.
1.    Kecemasan  Menghadapi Masa Depan
Masyarakat modern adalah masyarakat yang tumbuh dan menglami perubahan secara berkesinambungan. Saat ini kondisi ekonomi mengalami perubahan yang radikal (termasuk peluang kerja dan persayratan dalam memperoleh pekerjaan) pada generasi ini. Karena begitu sulitnya memahami, menghargai maupun menghadapi perubahan yang terus berlangsung, oleh karena itu kita menganggapnya sebagai kecemasan dalam menghadapi  masa depan. Perubahan-perubahan  mendasar ini tidak muncul secara tiba-tiba, namun sebagai suatu evolusi yang berkepanjangan yang mana tehnologi memegang peranan utama.
Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh (Alfin Tofler) 40 tahun yg lalu. Ia mengatakan bahwa masa depan, mempunyai  tujuan tertentu, lebih baik kita menghayalkan dan berpandangan kedepan daripada saat kita merasa sempurna dan puas. Teori tidak harus benar dan sepenuhnya berguna, bahkan ada kalanya terjadi kesalahan.  Seperti peta dunia yang digambar pada abad pertengahan, tidak sepenuhnya akurat/teliti, namun banyak  kesalahan yang malah merendahkan martabat mereka sendiri. Namun demikian peta ini berguna karena penemu besar tidak akan  pernah berhasil menemukan pulau baru tanpa bantuan peta terdahulu dari mereka. (Tofter :  1970)
Kita percaya bahwa ICT akan menjadi kunci perubahan yang positif pada masa depan,  asalkan dimiliki oleh orang-orang yang kreatif dan dipergunakan untuk kebaikan.


2.    Peta Konsep Ekonomi
Pada mulanya, ekonomi terdiri dari bidang pertanian, pabrik dan jasa. Akan tetapi saat ini sektor-sektor ini telah bergabung dengan beberapa hal, diantaranya: penguasaan ilmu pengetahuan, mental kerja dan lingkungan kerja. Peningkatan kualitas dalam bidang ini juga termasuk peningkatan  kualitas tenaga kerjanya. Semakin meningkatnya lingkungan kerja, mental kerja juga berubah yang semula  menelan data secara  mentah-mentah berkembang menjadi analisa  dalam menyampaikan informasi dan ilmu pengetahuan lalu mengkomunikasikannya, menggubahanya, dan bertukar pikiran dengan rekan kerja. Secara singkat peta konsep menggantikan kerajinan tangan. (Perelmen 1992). Keberadaan computer dan peralatan ICT menjadi kebutuhan yang penting dalam dunia ekonomi.
Pada saat yang sama, kemampuan bekerja menjadi  karir  utama dan menjadi salah satu aktifitas ekonomi yang penting pada masa ini. Para ahli mengatakan bahwa kemunculan peta konsep ekonomi pada abad 21 mensyaratkan pembelajaran berkesinambungan yang mengkombinasikan  manusia dan ICT  yang berbasis pada tehnologi.
3.    Globalisasi dan ICT
Salah satu kecenderungan utama dalam ekonomi global adalah berpindahnya bahan-bahan industry dari Negara maju ke Negara berkembang. Proses ini melibatkan industry informasi.  Walaupun proses perubahannya positif namun penyebaran kesejahteraan masih belum merata karena masih banyak kelaparan, kemiskinan dan buta huruf. Saat ini  banyak Negara yang memiliki kesempatan menjadi  pemimpin dalam memberi informasi dan ilmu pengetahuan baru kepada masyarakat yang diberi nama multi sentries dan multi cultural. ICT dapat membantu pendidik (guru) dalam mencapai masyarakat seperti ini dengan cara memberi kesempatan untuk:
-       Bertambah sukses bagi tiap individu tanpa memperluas jurang pemisah antara si kaya dan si miskin
-       Menyokong pembangunan yang berkesinambungan
-       Lebih banyak Negara yang menggunakan dan mengembangkan informasi daripada hanya beberapa Negara dan media massa yang memonopoli informasi dan budaya.
Masalah besar yang dihadapi penduduk dunia saat ini berupa meningkatnya kebutuhan makanan, perumahan, kesehatan, pekerjaan, dan kualitas hidup, tidak dapat dipecahkan tanpa adanya penguasaan tehnologi. Dengan berbagai keuntungan diantarnya konservasi alam, tidak menimbulkan polusi, kebutuhan energy berkurang dan ramah lingkungan menyebabkan penggunaan ICT menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam dunia modern dan dapat diperoleh melalui pendidikan umum maupun pendidikan vokasional (ketrampilan).
4.    Tehnologi : Pedang bermata dua
ICT telah mempengaruhi kehidupan politik dan social semua Negara. Namun demikian, pengaruhya tidak selalu baik. Penggunaan pesan dan transmisi tehnologi dalam beberapa kasus menghalangi peradilan dengan mengurangi kontak  yang seharusnya dilakukan secara langsung. Kemunculan media yang luar biasa tersebut merupakan salah satu bukti nyata yang bisa diperhatikan.
Pelajaran yang dapat dipetik baik berupa peringatan maupun pemberi semangat dapat dipetik dari  sejarah terkini Negara-negara totaliter, seperti jatuhnya Uni Soviet yang mulai runtuh setelah wafatnya Joseph Stalin pada tahun 1953. Perubahan ke regim yang lebih liberal bersamaan dengan berkembangnya siaran TV dan pengenalan tape recorder di Uni Soviet. Pengaruh dari kedua  ICT ini sangat penting namun berbeda tujuan dan akibatnya. Televisi dimiliki oleh Negara selama lebih kurang 40 tahun dan menjadi alat untuk mencuci otak dan memanipulasi kesadaran public yang dilakukan oleh regim yang berkuasa.
Pada masa yang sama ditandai dengan penyebaran tulisan secara sembunyi-sembunyi  karena bila ketahuan ditangkap dan dihukum berat. Larangan berkembangnya novel, puisi, filsafat, kritik social dan berupa pelanggaran HAM, malah diketik manual dan digandakan dengan karbon pada waktu itu oleh para aktifis. Mesin foto copy terlalu sulit dan membutuhkan ketrampilan khusus. Pada awal tahun 1970-an mesin foto copy Xerox mulai diperkenalkan namun penggunaannya dijaga secaran ketat hanya untuk urusan pemerintahan dan tidak diperkenankan untuk keperluan individu. Mesin fax muncul 10 tahun kemudian, member semangat baru terhadap perlawanan kepada penguasa totliter yang sudah berlangsung lama. Pada akhir tahun  80-an, hambatan komunikasi yang berupa sensor, larangan radio musnah seiring dengan hancurnya tembok berlin.
Generasi penerus berusaha mengartikan ICT sebagai pendongkrak utama dari semua pembatas ini. Tidak salah bila ICT semakin berkembang. Michail Gorbachev melauncing buku Perestroika (Pembangunan kembali) sebelum internet dan fax menjadi umum di Uni Soviet.
Meskipun begitu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa computer baik printer maupun modem diabaikan oleh penguasa Uni Soviet karena itu itu merusak ideology dan politik komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur. Kita tentunya juga percaya bahwa perkembangan ICT di seluruh dunia akan menumbuhkan budaya imperalisme,  ideology totaliter,dan monopoli informasi. Penyedia internet dan desktop memegang peranan penting dalam proses demokrasi dan distribusi informasi. Malahan ICT menciptakan pilihan baru untuk menjaga tradisi dan budaya asli dan nilai-nilai spiritual. Bahkan guru bersama muridnya di kelas dapat mendesain bahasa mereka sendiri menggunakan kamus multi bahasa, merekam lagu-lagu dan tarian rakyat, membuat kerajinan tangan dan menampilkannya di internet. Kita berharap bahwa hambatan-hambatan bahasa seperti dominasi sejarah dan politik terhadap berbagai bahasa menjadi lemah dengan adanya ICT di seluruh dunia dan ppenggunaanna dalam bidang pendidikan.
Akhirnya ICT dapat memberi kesempatan yang sama kepada perempuan dalam dunia kerja, sebagaimana laki-laki.
5.    Kebutuhan Individu dan Harapan Masyarakat
Hidup di dunia modern membutuhkan kemandirian dan tanggung jawab,  namun lebih sedikit rutinitas. Untuk mencapai kesejahteraan dan bertahan hidup, orang saat ini membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan  dalam situasi baru dan tidak diharapkan. Sebagaian besar dari mereka butuh belajar selama hidupnya. Setiap orang membutuhkan ICT agar bisa berkembang, kreativitas dan kesenangan, konsumsi dan kekayaan. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk menganalisis  informasi dari media masa secara kritis dan menggunakannya dengan tepat.
Inidividu seperti  ini membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mencari informasi, menganalisa, memadukan, mengevaluasi, mengurutkan, dan mempresentasikan kepada orang lain, dan mengambil kesimpulan untuk memperoleh prediksi, rencana, dan kontrol secara cepat atau kejadian-kejadian yang berubah-ubah. Ketrampilan-ketrampilan di atas tidak dapat dipisahkan dalam dunia ICT dan non ICT. Namun demikian semakin  banyak industri profesional dan dunia bisnis menamakannya pengetahuan dasar dan ketrampilan intelektual dalam dunia kerja.Kemampuan bekerja dalam mengoperasikan ICT secara lancar, semakin di butuhkan dalam dunia kerja. Ketrampilan lama menjadi usang. Kemampuan untuk membuat perhitungan aritmatika  atau menulis kaligrafi, sekarang dianggap sebagai kemampuan khusus.
Dalam waktu yang sama ini penting bagi setiap anak, remaja dan dewasa setidaknya memiliki kemampuan umum dalam bidang tehnologi baik di rumah, di sekolah, di jalan raya,  di kantor maupun di tempat kerja. Ini semakin meyakinkan bahwa tehnologi baru dapat membawa bahaya dan resiko-resiko tertentu. Contoh terbaru dari resiko ini adalah meningkatnya  grasshopper mentality (mental yang lemah) seperti yang nampak di  internet dan efek samping dari internet.
Sekarang apa yang bisa kita lakukan sebagai pendidik dalam membawa misi kita dan bagaimana ICT dapat digunakan untuk memperkaya kesempatan belajar di sekolah kita?
Penguasaan ICT sangat penting untuk mengembangkan misi dimasa yang akan datang.  Kebenaran pernyataan tidak hanya karena  dunia ini sedang menjadi masyarakat yang berilmu pengetahuan, sangat percaya terhadap ilmu pengetahuan baru, ketrampilan-ketrampilan dan pengalaman-pengalaman, tetapi juga karena kita hidup dilingkungan sosial-ekonomi yang didominasi oleh tehnologi.  Hal itu berdasarkan istilah singkat bahwa konsumen adalah tujuan utama dilakukannya produktivitas, dan keinginan berikutnya adalah perkembangan yang terus-menerus. Pikiran kita dipenuhi oleh tehnologi yang member kenyamanan baik di sekolah maupun di rumah. Kita mungkin lupa terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan ataupun demokrasi.
6.    Perubahan secara radikal dibutuhkan di sekolah.
Pada abad ke-21 pertambahan kebutuhan masyarakat menjadi beban yang sangat berat dalam mendirikan institusi pendidikan. Pada saat yang sama gaya mengajar yang tradisional semakin tidak sesuai terhadap tantangan dari waktu ke waktu yang terus berganti.Ini adalah seruan untuk inovasi dan transformasi bagi pendidik dimanapun berada terutama di SD sebagai tahap yang paling penting dalam perkembangan manusia. Masalah internal di sekolah tidak bisa dipisahkan dari perubahan eksternal secara global, dan harus dipandang sebagai masalah dunia saat ini. Masalah ini tidak bisa dipecahkan jika tidak dilakukan pendekatan dan diperlakukan secara terdidik, begitu juga secara ekonomi, politik dan sosial budaya.
Murid yang masuk sekolah adalah murid yang komunikatif, punya rasa ingin tahu, kreatif dan mampu belajar dalam banyak hal. Mereka telah membuktikannya dengan menguasai bahasa ibu, gerakan fisik, permainan yang sulit dan ketrampilan hidup yang lain. Namun kita juga percaya, bahwa sekolah tradisional pada abad ke -20 yang masih kita lalui, mengurangi kemampuan kita pada saat pembelajaran. Kita memerlukan model sekolah yang baru pada abad ke -21 ini.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik belajar secara aktif.
Keuntungan atau dampak positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK tersebut antara lain adalah : Pelajar jadi lebih mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajra lebih suka praktek dibandingkan teori, Pengajar jadi lebih mudah mengajar jadi lebih mudah menyampaikan materi dengan membuat presentasi – presentasi, Bagi pelajar maupun pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka, jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi melalui e-mail, Dalam membuat laporan baik bagi pelajar, maupun pengajar jadi lebih mudah karena jika memakai komputer, akan mudah dikoreksi jika ada kesalahan, Dalam belajar, baik pelajar maupun pengajar akan lebih mudah mencari sumber karena adanya internet, Pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK bisa dibuat menjadi lebih menarik, misalnya dengan memunculkan gambar atau suara, sehingga pelajar menjadi lebih antusias untuk belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar