BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai
negara kepulauan, memiliki sekitar 17 ribu lebih pulau (6 ribu pulau
berpenduduk) yang tersebar dalam area geografis 1.919.440 km2, di
satu sisi kondisi ini merupakan suatu keuntungan yang besar bagi bangsa kita
karena memiliki sumber daya yang besar, baik secara demografis maupun
geografis. Jumlah pulau yang tersebar begitu banyak justru menjadi hambatan
dalam proses pembangunan dan pengembangan ICT. Aspek tingginya biaya menjadi
salah satu faktor penting sulitnya pembangunan dan pengembangan ICT hingga ke
pelosok negeri, sehingga fokus pembangunan lebih banyak dititikberatkan pada
wilayah-wilayah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti pulau Jawa dan
sebagian Sumatra.
Secara umum,
pembangunan di bidang komunikasi dan informatika, terutama Teknologi Informasi
dan Komunikasi (ICT) merupakan salah satu aspek penting yang mendorong
pembangunan nasional. Selain menjadi faktor produksi dan ekonomi, ICT juga
berperan sebagai enabler dalam perubahan sosial budaya
kemasyarakatan di berbagai aspek. Aspek-aspek yang dimaksud seperti
pengembangan kehidupan politik yang lebih demokratis, pengembangan budaya dan
pendidikan, dan peningkatan kapasitas governance
di berbagai sektor pembangunan. Perkembangan ICT menyebabkan terciptanya
lalu lintas informasi dan komunikasi bebas hambatan antar Negara dan wilayah.
Dengan kata lain, keberadaan ICT mampu menghilangkan berbagai hambatan
geografis sehingga terjadi transformasi pola hidup manusia di berbagai bidang
menuju masyarakat berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge-based society.
Dengan melihat betapa
pentingnya keberadaan ICT, maka suatu awal yang tepat dengan mengintegrasikan
sejumlah lembaga terkait menjadi sebuah Departemen Komunikasi dan Informatika
(Depkominfo). Selain untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian
urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan informatika, juga keberadaan
Departemen ini untuk mengantisipasi perkembangan ICT ke arah konvergensi sektor
telekomunikasi, media, dan teknologi informasi. Untuk itu, diperlukan sejumlah
strategi dan kebijakan di bidang komunikasi dan informatika yang tepat untuk
meletakkan dasar yang kuat untuk membangun knowledge-based society.
Dari segi sistem
pendidikan, kedudukan teknologi pendidikan berfungsi untuk memperkuat
pengembangan kurikulum terutama dalam disain dan pengembangan, serta
implementasinya, bahkan terdapat asumsi bahwa kurikulum berkaitan dengan
“what”, sedangkan teknologi pendidikan mengkaji tentang “how”. Dalam kaitannya
dengan pembelajaran, teknologi pendidikan memperkuat dalam merekayasa berbagai
cara dan teknik dari mulai tahap disain, pengembangan, pemanfaatan berbagai
sumber belajar, implementasi, dan penilaian program dan hasil belajar.
Teknologi Informasi
Komunikasi dalam pendidikan adalah suatu teknologi yang digunakan untuk
mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,
memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang
berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan merupakan
informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan
seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan
satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan
teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara
global.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian
Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)?
2. Bagaimana Implementasi Teknologi Pendidikan?
3. Bagaimana Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi
& Informasi Blueprint ICT
Indonesia?
4. Bagaimana Aplikasi TIK
atau ICT dalam Pembelajaran?
5. Apa saja Dampak Pembelajaran
dengan Menggunakan TIK atau ICT?
6.
Apa saja Manfaat ICT Terhadap
Perkembangan Peserta Didik di Sekolah?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui Pengertian
Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
2. Mengetahui Implementasi Teknologi Pendidikan
3. Mengetahui Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi
& Informasi Blueprint ICT
Indonesia
4. Mengetahui Aplikasi TIK
atau ICT dalam Pembelajaran
5. Mengetahui Dampak Pembelajaran
dengan Menggunakan TIK atau ICT
6.
Mengetahui Manfaat ICT Terhadap Perkembangan Peserta Didik di Sekolah
BAB II
ISI
LEARNING IMPERATIVE AND ICT TERHADAP PERKEMBANGAN HASIL BELAJAR SISWA
A. Pengertian Teknologi
Informasi dan Komunikasi (ICT)
Teknologi Informasi
adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses,
mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk
menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat
dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan
pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan
keputusan.
Teknologi ini
menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk
menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan
kebutuhan. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses
secara global. Pesan yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan
informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi,
rekreasi, dan rohani. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti
fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet.
Perkembangan
information and communication technology (ICT) atau yang lebih dikenal dengan
teknologi informasi dan teknologi (TIK) yang sangat pesat memberikan dampak
yang luar biasa pada kehidupan kita sehari-hari. Hampir semua aspek kehidupan,
kini telah dimasuki oleh ICT/TIK dengan taraf yang berbeda-beda, tak terkecuali
pada bidang pendidikan.
B. Implementasi Teknologi Pendidikan
Teknologi
pendidikan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah, banyak media
yang dapat digunakan sehingga pembelajaran tersebut terkesan modern dan tidak membosankan. Apabila
konsep atau pengertian teknologi pendidikan kita analisis, kita akan memperoleh
pedoman umum aplikasi sebagai berikut :
1. Memadukan
berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen,
rekayasa, dan lain-lain secara bersistem.
2. Memecahkan
masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan
memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan diantaranya.
3. Digunakannya
teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
4. Timbulnya
daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau
unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekadar penjumlahan. Demikian pula
pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada
memecahkan masalah secara terpisah.
Teknologi
pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang garapnya, baik sebagai
objek formal maupun objek materinya, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan,
pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar. Oleh karenanya aplikasi
teknologi pembelajaran juga tidak terlepas dari lima kawasan tersebut. Seels
dan Richey (1994) menjelaskan bahwa demi menjaga keutuhan definisi (teknologi
pembelajaran) kegiatan-kegiatan dalam setiap kawasan teknologi pembelajaran
dapat dikaitkan baik kepada proses maupun sumber pembelajaran.
Aplikasi
teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan-keputusan
tentang proses pendidikan yang spesifik. Umpama : aplikasi itu mempunyai dampak penting terhadap isi
(content) yang akan diajarkan, tingkat standarisasi dan pemilihan isi, jumlah
dan kualitas sumber-sumber yang tersedia.
Masalah-masalah
pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai :
peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan
dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak
dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak
sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
Pada dasarnya atmosfer
pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama,
yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Ketiga prasyarat
tersebut pada akhirnya bermuara pada areaproses dan model pembelajaran. Model
pembelajaran yang efektif antara lain memiliki nilai relevansi dengan
pencapaian tujuan pembelajaran dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas
guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain dapat
menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan
teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi.
Seiring perkembangan
zaman, penggunaan sistem konvensional sudah tidak efektif sebab dianggap sangat
lambat dan tidak seiring dengan perkembangan teknologi informasi dimana
pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan. Sehingga
ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini. Sistem
konvensional seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi
multimedia sebagai bentuk kemajuan teknologi informasi. e-Education, istilah
ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic
Education) ialah istilah penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan.
Masalah-masalah pokok
yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai :
peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan
dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak
dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak
sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka. Kenyataan-kenyataan
yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan
kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping caracara penyelesaian
yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh
teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu
alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Secara umum aplikasi
teknologi dalam pendidikan akan mampu :
1. Menyebarkan informasi
secara meluas, seragam dan cepat.
2. Membantu, melengkapi
dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
3. Dipakai untuk melakukan
kegiatan instruksional baik secara langsung maupun sebagai produk sampingan.
4. Menunjang kegiatan
belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
5. Menambah keanekaragaman
sumber maupun kesempatan belajar.
6. Menambah daya tarik
untuk belajar.
7. Membantu mengubah sikap
pemakai.
8. Mempengaruhi pandangan
pemakai terhadap bahan dan proses.
9. Mempunyai keuntungan rasio
efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem tradisional. (Miarso, 1981)
C. Kebijakan dan Strategi
Pengembangan Teknologi Komunikasi & Informasi Blueprint ICT Indonesia
Untuk menentukan arah
pembangunan bidang ICT di Indonesia, perlu menetapkan blueprint (cetak biru)
dan roadmap agar setiap langkah pengembangan ICT menjadi lebih
terarah dan sinergis. Blueprint dan roadmap tersebut
sangat diperlukan untuk menentukan arah perkembangan dan langkah-langkah yang
harus ditempuh dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan.
Ada 4 (empat) komponen penting dalam menentukan blueprint ICT
Indonesia :
1. Infrastruktur ICT
Saat ini pembangunan
infrastruktur ICT masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan ICT
Indonesia. Dari tahun ke tahun tingkat kebutuhan infrastruktur ICT semakin
tinggi, namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembangunan infrastruktur itu
sendiri (lihat Tabel 1).
|
Akhir Tahun
|
Sambungan
Tetap
|
STB
|
Internet
|
Multimedia*
|
||
|
Kapasitas
|
Penetrasi
|
Pelanggan (Kapasitas
Terpakai)
|
Penetrasi
|
Pelanggan (juta)
|
Pelanggan (juta)
|
|
|
2006
|
10.454.115
|
4,6
|
33.303.941
|
14,59
|
4,371
|
3,637
|
|
2007
|
11.594.976
|
5,0
|
38.622.073
|
16,70
|
5,863
|
4,866
|
|
2008
|
12.963.259
|
5,5
|
43.940.204
|
18,76
|
7,680
|
6,363
|
|
2009
|
14.591.029
|
6,1
|
49.258.336
|
20,76
|
9,853
|
8,153
|
|
2010
|
16.510.494
|
6,9
|
54.576.467
|
22,71
|
12,417
|
10,265
|
|
2011
|
18.753.716
|
7,7
|
59.894.599
|
24,62
|
15,403
|
12,725
|
|
2012
|
21.352.879
|
8,7
|
65.212.730
|
26,48
|
18,847
|
15,562
|
|
2013
|
24.340.042
|
9,8
|
70.530.862
|
28,29
|
22,779
|
18,801
|
|
2014
|
27.747.373
|
11,0
|
75.848.993
|
30,06
|
27,233
|
22,471
|
|
2015
|
31.607.041
|
12,4
|
81.167.125
|
31,79
|
32,243
|
26,598
|
Tabel 1.
Perkiraan Kebutuhan Infrastruktur
Telekomunikasi dan Informatika
Sumber : Demand Forecast Ditjen Postel, 2002.
Untuk memenuhi
kebutuhan infrastruktur tersebut, perlu sejumlah program pembangunan
infrastruktur yang terarah. Berikut ini adalah beberapa program pembangunan
infrastruktur ICT yang saat ini sedang dan akan dilaksanakan:
a. Universal Service
Obligation (USO)
Program USO atau
Kewajiban Kontribusi Pelayanan Universal Telekomunikasi merupakan penyediaan
akses dan layanan telekomunikasi di daerah terpencil, perintisan, atau daerah
perbatasan. Sumber pendanaan pokok berasal dari kontribusi 0,75% dari annual
gross revenue seluruh penyelenggara telekomunikasi. Diharapkan dari
program ini pada tahun 2010 seluruh desa di Indonesia telah memiliki minimal 1
(satu) jalur telepon. Sedangkan tahun 2015 ditargetkan 50% (lima puluh persen)
desa di seluruh Indonesia sudah bisa mengakses internet.
b. Palapa Ring Project
Terkait juga dengan
pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, pemerintah tengah
mengusahakan untuk pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring sebagai tulang
punggung (backbone) bagi sistem telekomunikasi nasional. Palapa Ring
merupakan jaringan kabel bawah laut berbentuk cincin terintegrasi yang
membentang dari Sumatera Utara hingga Papua bagian barat yang panjangnya
sekitar 25.000 km. dengan terwujudnya jaringan serat optik Palapa Ring, maka
aliran komunikasi dan informasi akan semakin tersebar merata ke seluruh wilayah
Indonesia. Terobosan luar biasa ini akan membuka hambatan informasi (information
barrier) di daerah Indonesia timur yang diharapkan mampu memacu pertumbuhan
perekonomian di daerah tersebut.
c. Penyelenggaraan
Broadband Wireless Access
Program ini merupakan
salah satu usaha pemerintah untuk membangun jariangan infrastruktur komunikasi
dan informasi. Dengan pembeabsan ijin pita frekuensi 2,4 GHz, diharapkan mampu
meningkatkan dan memasyarakatkan penggunaan internet di Indonesia serta menekan
biaya akses internet yang masih terbilang mahal dibandingkan negara lain.
2. E-edukasi
Pembangunan dan
pengembangan e-edukasi sebagai pendukung perkembangan ICT di Indonesia dirasa
masih belum memadai. Selain masih rendahnya rata-rata partisipasi masyarakat
dalam mengikuti pendidikan, namun juga kesadaran masyarakat akan pentingnya ICT
adalah menjadi salah satu faktor utamanya. Untuk itu perlu adanya sejumlah
program pengembangan e-edukasi di Indonesia, di antaranya :
a. Standar Kompetensi
Profesi SDM ICT
Tingginya permintaan
pasar akan profesi ICT di Indonesia mendorong perlunya standar kompetensi
profesi yang baku bagi sumber daya manusia di bidang TIK. Standar kompetensi
ini diperlukan untuk menjaga kualitas agar mampu bersaing dengan tenaga kerja
asing. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari berbagai stakeholders agar
dapat merumuskan standar kompetensi profesi SDM ICT yang tepat bagi kebutuhan
pasar industri.
b. Kampanye Penggunaan
Internet untuk Pendidikan
Walaupun jumlah
pengguna internet maupun jumlah internet domains di Indonesia meningkat secara
tajam, namun pemanfaatan internet untuk pembelajaran masih terbatas. Selain
pola belajar masih menggunakan pola konvensional, namun juga karena adanya
keterbatasan sarana dan prasarana yang menunjang penggunaan internet untuk
pendidikan, seperti kurangnya ketersediaan komputer di sekolah, tidak adanya
akses telekomunikasi yang memadai, serta masih mahalnya biaya akses internet.
Diharapkan sebagian besar perguruan tinggi dan sekolah terhubung internet dan
literasi TI sebagai bagian dari Masyarakat Berbasis Informasi.
c. Pengembangan Software
Pendidikan
Dengan
mengembangkan software pendidikan akan meningkatkan pemerataan
materi pendidikan dan kompetensi yang baik bagi para pelajar. Program ini
mengimplementasikan sistem pembelajaran dengan menggunakan software sebagai
alat bantu guna memberikan kemudahan dalam proses belajar-mengajar, baik bagi
para pelajar dan khususnya para pengajar dalam menyampaikan material kepada
para anak didik. Diharapkan sebagian besar sekolah di Indonesia dapat
menggunakan alat bantu software pendidikan sebagai salah satu
alat bantu mengajar.
3. Beberapa Program Aksi
Pemanfaatan TTI dalam
pendidikan merupakan sesuatu yang imperatif, karena tanpa itu pendidikan kita
akan senantiasa ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi
dengan negara maju. Namun peerlu disadari bahwa karena keterbatasan sumber
daya, khususnya dana, pemanfaatan itu tidak dapat dilakukan secara menyaluruh
dalam semua sektor pendidikan. Pengembangan program aksi dilakukan melalui
melalui proyek perintiisan dan atau percontohan.
Sasaran pokok program aksi
adalah peningkatan mutu proses dan keluaran pendidikan, dengan tekanan pada
proses yang efektif dan efisien serta keluaran yang sesuai dengan kebutuhan
pembangunan. Pemulihan proyek perintisan atau percontohan didasarkan pada
criteria :
-
Posisi kritikal dari program: kesediaan pimpinan lembaga pemdidikan,
kesediaan guru, dukungan orang tua, dan partisipasi masyarakat dalam
pemanfaatan TTI untuk pendidikan merupakan sesuatu yang kritikal, karena tanpa
itu semua, apa pun yang akan dilakukan tidak akan berhasil.
-
Dukungan teknologi dan infrastruktur pada “users’ end”: tidak dilakukan
pembangunan secara khusus mulai dari awal, melainkan memanfaatan dan
meningkatkan apa yang sudah ada.
-
Kesiapan kelembagaan: telah tersedia orang, organisasi, program, dan
alokasi dana (meskipun terbatas) yang bertanggung jawab dalam menyelengarakan
kegiatan.
Berdasarkan sasaran dan
kriteria program aksi tersebut, maka berikut ini disajikan serangkaian program
aksi yang diusulkan.
a. Program Aksi I : Pelatihan
Tenaga
Tujuan program ini adalah:
ü Mendapatkan sejumlah tenaga yang mampu menangani
perkembangan perangkat lunak TTI
ü Memperoleh paket program pelatihan untuk berbagai
bidang ketrampilan yang dapat digunakan bersama
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
ü Mengadakan penelusuran kebutuhan latihan
ü Merancang program latihan khusus
ü Menentukan kriteria dan memilih peserta latihan
ü Melaksanakan pelatihan dan memonitor jalannya
pelatihan
b. Program Aksi II : Pengembangan
Jaringan
Tujuan program ini adalah:
·
Memperoleh informasi lengkap tentang berbagai lembaga yang sudah
mengembangkan penggunaan TTI, termasuk semua produk yang telah dihasilkan
·
Terbentuknya aliansi atau kerja sama untuk menghindarkan pemborosan dengan
menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan fasilitas bersama.
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
·
Mengadakan inventarisasi lembaga-lembaga pendidikan yang telah
menyelenggarakan/mengembangkan program ITI
·
Mengadakan rapat koordinasi untuk pembentukan jaringan komunikasi dan kerja
sama
·
Dibangunanya unit layanan informasi
·
Penyusunan rencana kerja yang dapat dilakukan bersama
c. Program Aksi III : Penataran
Guru/Dosen/Pengajar
Tujuan program ini adalah:
o Terlatihanya tenaga kependidikan (guru, kepala
sekolah, pemilik administator, dosen, pengajar, widyaiswara)
o Timbulnya komitmen para pengelola
lembaga/program pendidikan dan pelatihan terhadap model-model pembelajaran
berbasis jaringan
o Meningkatkanya kemampuan guru, dosen dan tenaga
pengajar untuk merancang dan menyelenggarakan program pembelajaran dengan,
menintrergrasikan bahan-bahan pembelajaran berbasis jaringan ke dalam program
pembelajaran mereka
o Terbentuknya forum dan kesempatan pertukaran
pengetahuan, pengalaman, serta produk pembelajaran antara sesama sejawat
o Masuknya materi pengenalan model pembelajaran
berbasis jaringan dalam setiap kegiatan pendidikan prajabatan dan penataran
guru
o Tersediahnya sejumlah
tenaga penatar pada tiap LPTK dan PPG/BPG yang mampu melatih rekan-rekanya
mengenai pemanfaatan TTI
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
o Menelurusi kebutuhan pendidikan/pelatihan dalam
rangka aplikasi pembelajaran berbasis jaringan
o Mengembangkan serangkaian program
pendidikan/pelatihan pembuatan paket-paket pendidikan/pelatihanya
o Mengembangkan program multimedia dan model-model
pembelajaran berbasis jaringan dalam berbagai subjek dan jenjang
o Menyelenggarakan acara sosialisasi aplikasi TTI
kepada lembaga pendidikan atau pelatihan
o Mengusahakan sponsor dan partner dalam
pengembangan, produksi, dan pemanfaatan program pembelajaran berbasis jaringan
o Memperjuangkan kemudahan bagi lembaga-lembaga
pendidikan/pelatihan untuk mengadopsi program pembelajaran berbasis jaringan
o Membentuk tim kordinasi untuk penyelenggaraan penataran
o Penyusunan Buku Petunjuk Operasional bagi para
guru mengenai pembelajaran terbuka dengan komputer akses Internet dan LAN
d. Program Aksi IV : Pendidikan
Luar Sekolah
Tujuan program ini adalah :
Ø Tersusunya suatu kebijakan mengenai pola
pemanfaatan TTI di sekolah pada semua jenjang
Ø Terselenggaranya
proyek-proyek perintisan penggunaan TTI di sepuluh kota (Medan, Batam, Jakarta,
Bandung, Semarang Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Denpasar, dan Ujung
pandang), sekarang sekurang-kurangnya dua Sekolah Dasar, dua SLTP, dua SMU dan
dua SMK untuk tiap kota
Ø Terbina dan terkoordinasikannya proyek-proyek
perintisan penggunaan TTI di sekolah. Baik atas usaha swadaya maupun proyek
yang dibiayai dari anggaran pembangunan
Ø Terbentuknya perpustakaan elektronik untuk berbagai
jenjang dan jenius sekolah
Ø Tersedianya bahan-bahan belajar multimedia, yang
dapat digunakan untuk belajar secara interaktif
Ø Terbentuknya model-model penggunaan TTI di
sekolah, termasuk kebijakan pengelolaan, konfigurasi peralatan, pengembangan
dan adaptasi program pembelajaran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum,
serta pelatihan guru
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
Ø Menginventarisasi program dan kegiatan yang
telah diluncurkan baik oleh swasta maupun pemerintah, mengenai penggunaan TTI untuk
sekolah
Ø Menginventarisasi
sekolah-sekolah, baik yang atas prakarsa sendiri maupun yang dijadikan ajang
perintisan proyek pembangunan, yang telah menggunakan TTI
Ø Mengamati dengan cermat
beberapa program/kegiatan yang terpilih untuk dikembangkan sebagai model untuk
disebarkan
Ø Membangun jaringan kerja sama dan koordinasi
antar-sekolah yang bersangkutan
Ø Mengembangkan paket belajar yang sesuai dan atau
terkait dengan kurikulum sekolah, dalam bentuk multimedia yang interaktif
Ø Menyusun Buku Pola Panduan Operasional
Penggunaan TTI di sekolah
Ø Merumuskan butir-butir usulan kebijakan
(nasional, strategik, maupun operasional) yang diharapkan dapat digunakan
sebagai pegangan bagi pejabat/petugas di lapangan
e. Program Aksi V : Pendidikan
Tinggi
Tujuan program ini adalah:
§
Tersusunya informasi lengkap tentang program-program pembelajaran berbasis
TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
§
Terselenggaranya pertemuan koordinasi antarperguruan tinggi pengembang
program penggunaan TTI
§
Diperolehnya kemduahan bagi tiap perguruan tinggi untuk memperoleh akses
terhadap program pembelajaran yang telah dikembangkan
§
Tersusunya model sistem pembelajaran berbasis TTI, termasuk kebijakan
pengelolaan, konfigurasi, dan spesifikasi peralatan, pengembangan dan adaptasi
program pembelajaran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum, serta pelatihan
dosen
Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
§
Meninvetarisasikan dan mendeskripsikan program-program pembelajaran
berbasis TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
§
Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain sendiri), yang dapat
digunakan sebagai sumber informasi mengenai program-program pembelajaran yang
dikembangkan dan untuk diskusi
§
Melaksanakan pelatihan tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan
produksi program, maupun untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan
pembelajaran
§
Mengusahakan akses atas program-program jadi dari luar negeri, terutama
yang dapat diperoleh tanpa atau dengan biaya murah
§
Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan pengembangan
§
Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya kompatibilitas sistem
operasional dan peralatan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
f.
Program Aksi VI : Pendidikan Kedinasan dan
Profesional
Tujuan program ini adalah :
v Terbentuknya jaringan telematika untuk keperluan
pendidikan dan pelatihan terbuka
v Tersedianya tenaga pengembang program dan
pelaksana lapangan (ahli teknologi pendidikan dan teknisi sumber belajar)
v Terbentuknya
perpustakaan elektronik yang dapat diakses oleh semua lembaga diklat
v Tersedianya paket
pelatihan dasar “melek TTI” untuk digunakan oleh semua lembaga pelatihan
v Didayagunakanya surat elektronik antara sesama
lembaga diklat
v Terbentuknya homepage pada semua lembaga diklat
v Tersedianya sarana dan peralatan untuk dapat
dimanfaatkan oleh lebih dari satu kelompok sasaran
Kegiatan yang perlu
dilakukan meliputi:
v Mensosialisasikan
pemanfaatan TTI kepada semua pimpinan dan karyawan lembaga diklat
v Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain
sendiri), yang dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai
program-program pembelajaran yang dikembangkan dan untuk diskusi
v Melaksanakan pelatihan
tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan produksi program, maupun
untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan pembelajaran
v Mengusahakan akses atas
program-program jadi dari luar negeri, terutama yang dapat diperoleh tanpa atau
dengan biaya murah
v Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan
pengembangan
v Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya
kompatibilitas sistem operasional dan peralatan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran.
4. E-Government
Dalam rangka
membangun e-government di institusi pemerintahan, secara
formal e-government di Indonesia telah dimulai sejak tahun
2003 saat diterbitkannya Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government melalui
Inpres No. 3 Tahun 2003 yang merupakan payung bagi kebijakan di bidang e-government.
Ada sejumlah langkah-langkah yang diambil, yaitu :
a. Rencana Legalisasi
Software Pemerintah
Langkah tersebut
diambil untuk menekan angka pembajakan software di instansi
pemerintah. Selain itu juga dampak dari legalisasi tersebut mendorong
penggunaan software berbasis open source yang
relatif lebih murah sehingga mampu menurunkan biaya belanja untuk
pengadaan software. Jumlah pembajakan berkurang (Pemerintah: 0%,
Nasional : 65%) dan meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional.
b. E-procurement
Dengan adanya proses
pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintah melalui e-procurement,
diharapkan proses pengadaan barang dan jasa menjadi lebih efektif, efisien,
transparan, serta mampu menekan perilaku-perilaku KKN yang kerap kali terjadi.
Saat ini, proses pengadaan barang dan jasa melalui internet masih dalam
tahap e-announcement (pengumuman melalui situs).
c. National Single Window
National Single Window diterapkan untuk integrasi semua layanan pemerintah lintas departemen
dalam satu pintu sehingga lebih efisien.National Single Window menyediakan
layanan perdagangan ekspor dan impor dalam satu kanal website pemerintah yang
mencakup proses pengurusan bea cukai, pengiriman, transfer bank, asuransi,
perizinan, dan sebagainya. Intinya, adanya integrasi semua layanan pemerintah
lintas departemen dalam satu pintu. Tujuannya adalah peluang ekspor dan impor
lebih besar dan proses lebih cepat serta mempercepat pergerakan perekonomian
Indonesia.
D. Aplikasi TIK atau ICT
dalam Pembelajaran
Pada saat ini, pembelajaran
ICT di lingkungan sekolah atau universitas merupakan hal yang sangat penting.
Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kebutuhan informasi dan komunikasi
dalam berbagai keperluan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK). ICT yang secara sederhana disimbolkan oleh perangkat
komputer dan jaringan internet serta perangkat komunikasi telah banyak
dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja para pelajar mulai dari
sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Bicara tentang TIK atau
ICT akan erat hubungannya dengan yang namanya komputer. Pada saat seperti
inilah diperlukan alat bantu pengajaran, salah satunya adalah pembelajaran
berbasis ICT (komputer multimedia). Aplikasi komputer sebagai alat bantu
pendidikan sangatlah menguntungkan. Misalnya, dalam hal pengolahan data berupa
naskah atau teks, dapat menggunakan aplikasi MSOffice yaitu microsoft office
word. Sedangkan untuk pengolahan data berupa angka, kita dapat menggunakan
aplikasi MSOffice yaitu microsoft office excel.
Selain itu, komputer
juga menyediakan aplikasi yang berhubungan dengan proses pembelajaran dengan
metode presentasi. Aplikasi komputer yang dapat digunakan untuk hal ini adalah microsoft
office power point. Program Microsoft Power Point menampilkan
menu-menu yang berguna dalam pembuatan wacana multimedia yang bersifat
tutorial. Menu-menu tersebut adalah menu animasi; menu untuk memasukan (import
file) suara, video, dan gambar animasi; dan menu tautan (hyperlink) untuk
menghubungkan antara satu simpul (node) atau file dengan simpul atau file
lainnya.
Komputer memungkinkan
mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan
dan informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer dalam proses belajar
membuat mahasiswa dapat melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya.
Satu bentuk produk TIK
yang sedang menjadi “trend” adalah internet yang berkembang pesat di penghujung
abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadiran internet telah memberikan dampak yang
cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi.
Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah
menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah
dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui
internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh
informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh
dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa
dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta
penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa
kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi
berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan
dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan.
Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi
tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan
tuntutan informasi yang berkembang.
Melalui internet setiap
orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk
memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta. Internet menawarkan banyak
fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet
telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan mempergunakan halaman
web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara
secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia
interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik
yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui (e-mail) maupun secara
langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video
conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas
waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar.
Menghadapi abad ke-21,
UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty
First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur
hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning
to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), Learning to do
(belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk
mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup
bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era
globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu
menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.
Menurut Rosenberg
(2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam
proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang
kelas ke, di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau
saluran, (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan (5) dari
waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai
media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi
seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara
guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga
dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan
layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat
memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber
space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah
peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik
belajar secara aktif.
Hal yang paling
mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau
pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan
internet. Istilah lain yang makin populer saat ini ialah e-learning yaitu
satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet.
Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi
internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan
tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan
untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau
informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan
menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan
yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran
tradisional. Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning
menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh
jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau
komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
Selain e-learning,
potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory
dan e-library. Adanya laboratorium virtual (virtual lab)
memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau
praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media
komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah
menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa
harus membeli buku/sumber belajar tersebut.
E. Dampak Positif dan
Negatif Pembelajaran yang Menggunakan ICT atau TIK
Seiring berkembangnya
zaman, ICT atau TIK semakin digunakan di dunia pembelajaran, hal itu bisa
terjadi karena ICT atau TIK dirasa membawa keuntungan baik bagi pengajar maupun
pelajar, keuntungan atau dampak positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT
atau TIK tersebut antara lain adalah :
1. Pelajar jadi lebih
mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajra lebih suka praktek dibandingkan
teori.
2. Pengajar jadi lebih
mudah mengajar jadi lebih mudah menyampaikan materi dengan membuat presentasi –
presentasi.
3. Bagi pelajar maupun
pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka,
jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi
melalui e-mail.
4. Dalam membuat laporan
baik bagi pelajar, maupun pengajar jadi lebih mudah karena jika memakai
komputer, akan mudah dikoreksi jika ada kesalahan.
5. Dalam belajar, baik
pelajar maupun pengajar akan lebih mudah mencari sumber karena adanya internet.
6. Pembelajaran yang
menggunakan ICT atau TIK bisa dibuat menjadi lebih menarik, misalnya dengan
memunculkan gambar atau suara, sehingga pelajar menjadi lebih antusias untuk
belajar.
Segala sesuatu pasti
ada dampak positif dan negatif, tidak terkecuali pembelajaran yang menggunakan
ICT atau TIK
1. Pembelajaran yang
menggunakan ICT atau TIK hanya bisa dilaksanakan oleh sekolah yang mampu, bagi
sekolah–sekolah yang kurang mampu akan ketinggalan, dan siswanya akan kesulitan
jika mereka masuk ke sekolah lanjutan di kota besar yang sudah sering
menggunakan ICT atau TIK
2. Setiap pelajar harus
mendapat fasilitas yang sama, jadi dalam pembelajaran yang menggunakan
komputer, setiap pelajarnya harus memakai 1 komputer yang memadai, jika
komputer yang dalam kondisi baik hanya sebagian, aka nada siswa yang hanya
menonton, sehingga mereka tidak menguasai penggunaan komputer
3. Dalam pembelajaran,
siswa – siswa yang tidak antuasias dalam penerimaan materi sering kali lebih
suka main game selama pembelajaran, sehingga mereka tidak konsentrasi dan tidak
menerima materi yang diajarkan.
4. Dalam pembelajaran yang
menggunakan internet yang tidak dibatasi, sering kali pelajar menggunakan
internet bukan untuk keperluan belajar, misalnya membuka situs youtube untuk
menonton video dalam proses belajar
5. Bagi pengajar yang
malas masuk kelas cenderung memberi tugas–tugas yang memanfaatkan internet
sehingga tatap muka dengan pelajar jarang terjadi, akibatnya pengajar tidak
mengenali pelajarnya.
F.
Manfaat ICT Terhadap
Perkembangan Peserta Didik di Sekolah
Dalam proses
pembelajaran berbasis teknologi, tentunya ada banyak peranan atau faktor-faktor
terkait. Salah satunya adalah guru dan murid sebagai pelaku utama dalam
pendidikan. Penguasaan teknologi ini mutlak diperlukan bagi guru dalam rangka
meningkatkan kualitasnya dalam proses pembelajaran.
1.
Kecemasan Menghadapi Masa Depan
Masyarakat modern
adalah masyarakat yang tumbuh dan menglami perubahan secara berkesinambungan.
Saat ini kondisi ekonomi mengalami perubahan yang radikal (termasuk peluang
kerja dan persayratan dalam memperoleh pekerjaan) pada generasi ini. Karena
begitu sulitnya memahami, menghargai maupun menghadapi perubahan yang terus
berlangsung, oleh karena itu kita menganggapnya sebagai kecemasan dalam
menghadapi masa depan. Perubahan-perubahan mendasar ini tidak
muncul secara tiba-tiba, namun sebagai suatu evolusi yang berkepanjangan yang
mana tehnologi memegang peranan utama.
Hal ini sebagaimana
dikemukakan oleh (Alfin Tofler) 40 tahun yg lalu. Ia mengatakan bahwa masa
depan, mempunyai tujuan tertentu, lebih baik kita menghayalkan dan
berpandangan kedepan daripada saat kita merasa sempurna dan puas. Teori tidak
harus benar dan sepenuhnya berguna, bahkan ada kalanya terjadi kesalahan.
Seperti peta dunia yang digambar pada abad pertengahan, tidak sepenuhnya
akurat/teliti, namun banyak kesalahan yang malah merendahkan martabat
mereka sendiri. Namun demikian peta ini berguna karena penemu besar tidak
akan pernah berhasil menemukan pulau baru tanpa bantuan peta terdahulu
dari mereka. (Tofter : 1970)
Kita percaya bahwa ICT
akan menjadi kunci perubahan yang positif pada masa depan, asalkan
dimiliki oleh orang-orang yang kreatif dan dipergunakan untuk kebaikan.
2.
Peta Konsep Ekonomi
Pada mulanya, ekonomi
terdiri dari bidang pertanian, pabrik dan jasa. Akan tetapi saat ini
sektor-sektor ini telah bergabung dengan beberapa hal, diantaranya: penguasaan
ilmu pengetahuan, mental kerja dan lingkungan kerja. Peningkatan kualitas dalam
bidang ini juga termasuk peningkatan kualitas tenaga kerjanya. Semakin
meningkatnya lingkungan kerja, mental kerja juga berubah yang semula menelan
data secara mentah-mentah berkembang menjadi analisa dalam
menyampaikan informasi dan ilmu pengetahuan lalu mengkomunikasikannya,
menggubahanya, dan bertukar pikiran dengan rekan kerja. Secara singkat peta
konsep menggantikan kerajinan tangan. (Perelmen 1992). Keberadaan computer dan
peralatan ICT menjadi kebutuhan yang penting dalam dunia ekonomi.
Pada saat yang sama,
kemampuan bekerja menjadi karir utama dan menjadi salah satu
aktifitas ekonomi yang penting pada masa ini. Para ahli mengatakan bahwa
kemunculan peta konsep ekonomi pada abad 21 mensyaratkan pembelajaran
berkesinambungan yang mengkombinasikan manusia dan ICT yang
berbasis pada tehnologi.
3.
Globalisasi dan ICT
Salah satu kecenderungan utama dalam ekonomi global adalah berpindahnya bahan-bahan
industry dari Negara maju ke Negara berkembang. Proses ini melibatkan industry
informasi. Walaupun proses perubahannya positif namun penyebaran
kesejahteraan masih belum merata karena masih banyak kelaparan, kemiskinan dan
buta huruf. Saat ini banyak Negara yang memiliki kesempatan menjadi
pemimpin dalam memberi informasi dan ilmu pengetahuan baru kepada masyarakat
yang diberi nama multi sentries dan multi cultural. ICT dapat membantu pendidik
(guru) dalam mencapai masyarakat seperti ini dengan cara memberi kesempatan
untuk:
-
Bertambah sukses bagi tiap individu tanpa memperluas jurang pemisah antara
si kaya dan si miskin
-
Menyokong pembangunan yang berkesinambungan
-
Lebih banyak Negara yang menggunakan dan mengembangkan informasi daripada
hanya beberapa Negara dan media massa yang memonopoli informasi dan budaya.
Masalah besar yang
dihadapi penduduk dunia saat ini berupa meningkatnya kebutuhan makanan,
perumahan, kesehatan, pekerjaan, dan kualitas hidup, tidak dapat dipecahkan
tanpa adanya penguasaan tehnologi. Dengan berbagai keuntungan diantarnya
konservasi alam, tidak menimbulkan polusi, kebutuhan energy berkurang dan ramah
lingkungan menyebabkan penggunaan ICT menjadi kebutuhan yang sangat penting
dalam dunia modern dan dapat diperoleh melalui pendidikan umum maupun
pendidikan vokasional (ketrampilan).
4.
Tehnologi : Pedang bermata dua
ICT telah mempengaruhi
kehidupan politik dan social semua Negara. Namun demikian, pengaruhya tidak
selalu baik. Penggunaan pesan dan transmisi tehnologi dalam beberapa kasus
menghalangi peradilan dengan mengurangi kontak yang seharusnya dilakukan
secara langsung. Kemunculan media yang luar biasa tersebut merupakan salah satu
bukti nyata yang bisa diperhatikan.
Pelajaran yang dapat
dipetik baik berupa peringatan maupun pemberi semangat dapat dipetik dari
sejarah terkini Negara-negara totaliter, seperti jatuhnya Uni Soviet yang mulai
runtuh setelah wafatnya Joseph Stalin pada tahun 1953. Perubahan ke regim yang
lebih liberal bersamaan dengan berkembangnya siaran TV dan pengenalan tape
recorder di Uni Soviet. Pengaruh dari kedua ICT ini sangat penting namun
berbeda tujuan dan akibatnya. Televisi dimiliki oleh Negara selama lebih kurang
40 tahun dan menjadi alat untuk mencuci otak dan memanipulasi kesadaran public
yang dilakukan oleh regim yang berkuasa.
Pada masa yang sama
ditandai dengan penyebaran tulisan secara sembunyi-sembunyi karena bila
ketahuan ditangkap dan dihukum berat. Larangan berkembangnya novel, puisi,
filsafat, kritik social dan berupa pelanggaran HAM, malah diketik manual dan
digandakan dengan karbon pada waktu itu oleh para aktifis. Mesin foto copy
terlalu sulit dan membutuhkan ketrampilan khusus. Pada awal tahun 1970-an mesin
foto copy Xerox mulai diperkenalkan namun penggunaannya dijaga secaran ketat hanya
untuk urusan pemerintahan dan tidak diperkenankan untuk keperluan individu.
Mesin fax muncul 10 tahun kemudian, member semangat baru terhadap perlawanan
kepada penguasa totliter yang sudah berlangsung lama. Pada akhir tahun
80-an, hambatan komunikasi yang berupa sensor, larangan radio musnah seiring
dengan hancurnya tembok berlin.
Generasi penerus
berusaha mengartikan ICT sebagai pendongkrak utama dari semua pembatas ini.
Tidak salah bila ICT semakin berkembang. Michail Gorbachev melauncing buku
Perestroika (Pembangunan kembali) sebelum internet dan fax menjadi umum di Uni
Soviet.
Meskipun begitu,
tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa computer baik printer maupun modem
diabaikan oleh penguasa Uni Soviet karena itu itu merusak ideology dan politik
komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur. Kita tentunya juga percaya bahwa
perkembangan ICT di seluruh dunia akan menumbuhkan budaya imperalisme,
ideology totaliter,dan monopoli informasi. Penyedia internet dan desktop
memegang peranan penting dalam proses demokrasi dan distribusi informasi.
Malahan ICT menciptakan pilihan baru untuk menjaga tradisi dan budaya asli dan
nilai-nilai spiritual. Bahkan guru bersama muridnya di kelas dapat mendesain
bahasa mereka sendiri menggunakan kamus multi bahasa, merekam lagu-lagu dan
tarian rakyat, membuat kerajinan tangan dan menampilkannya di internet. Kita
berharap bahwa hambatan-hambatan bahasa seperti dominasi sejarah dan politik
terhadap berbagai bahasa menjadi lemah dengan adanya ICT di seluruh dunia dan
ppenggunaanna dalam bidang pendidikan.
Akhirnya ICT dapat
memberi kesempatan yang sama kepada perempuan dalam dunia kerja, sebagaimana
laki-laki.
5.
Kebutuhan Individu dan Harapan Masyarakat
Hidup di dunia modern
membutuhkan kemandirian dan tanggung jawab, namun lebih sedikit
rutinitas. Untuk mencapai kesejahteraan dan bertahan hidup, orang saat ini
membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggung
jawabkan dalam situasi baru dan tidak diharapkan. Sebagaian besar dari
mereka butuh belajar selama hidupnya. Setiap orang membutuhkan ICT agar bisa
berkembang, kreativitas dan kesenangan, konsumsi dan kekayaan. Mereka juga
membutuhkan kemampuan untuk menganalisis informasi dari media masa secara
kritis dan menggunakannya dengan tepat.
Inidividu seperti
ini membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mencari informasi,
menganalisa, memadukan, mengevaluasi, mengurutkan, dan mempresentasikan kepada
orang lain, dan mengambil kesimpulan untuk memperoleh prediksi, rencana, dan
kontrol secara cepat atau kejadian-kejadian yang berubah-ubah.
Ketrampilan-ketrampilan di atas tidak dapat dipisahkan dalam dunia ICT dan non
ICT. Namun demikian semakin banyak industri profesional dan dunia bisnis
menamakannya pengetahuan dasar dan ketrampilan intelektual dalam dunia kerja.Kemampuan
bekerja dalam mengoperasikan ICT secara lancar, semakin di butuhkan dalam dunia
kerja. Ketrampilan lama menjadi usang. Kemampuan untuk membuat perhitungan
aritmatika atau menulis kaligrafi, sekarang dianggap sebagai kemampuan
khusus.
Dalam waktu yang sama
ini penting bagi setiap anak, remaja dan dewasa setidaknya memiliki kemampuan
umum dalam bidang tehnologi baik di rumah, di sekolah, di jalan raya, di
kantor maupun di tempat kerja. Ini semakin meyakinkan bahwa tehnologi baru
dapat membawa bahaya dan resiko-resiko tertentu. Contoh terbaru dari resiko ini
adalah meningkatnya grasshopper mentality (mental yang lemah) seperti
yang nampak di internet dan efek samping dari internet.
Sekarang apa yang bisa
kita lakukan sebagai pendidik dalam membawa misi kita dan bagaimana ICT dapat
digunakan untuk memperkaya kesempatan belajar di sekolah kita?
Penguasaan ICT sangat
penting untuk mengembangkan misi dimasa yang akan datang. Kebenaran
pernyataan tidak hanya karena dunia ini sedang menjadi masyarakat yang
berilmu pengetahuan, sangat percaya terhadap ilmu pengetahuan baru,
ketrampilan-ketrampilan dan pengalaman-pengalaman, tetapi juga karena kita
hidup dilingkungan sosial-ekonomi yang didominasi oleh tehnologi. Hal itu
berdasarkan istilah singkat bahwa konsumen adalah tujuan utama dilakukannya
produktivitas, dan keinginan berikutnya adalah perkembangan yang terus-menerus.
Pikiran kita dipenuhi oleh tehnologi yang member kenyamanan baik di sekolah
maupun di rumah. Kita mungkin lupa terhadap masalah-masalah yang berhubungan
dengan nilai-nilai kemanusiaan ataupun demokrasi.
6.
Perubahan secara radikal dibutuhkan di sekolah.
Pada abad ke-21
pertambahan kebutuhan masyarakat menjadi beban yang sangat berat dalam
mendirikan institusi pendidikan. Pada saat yang sama gaya mengajar yang
tradisional semakin tidak sesuai terhadap tantangan dari waktu ke waktu yang
terus berganti.Ini adalah seruan untuk inovasi dan transformasi bagi pendidik
dimanapun berada terutama di SD sebagai tahap yang paling penting dalam perkembangan
manusia. Masalah internal di sekolah tidak bisa dipisahkan dari perubahan
eksternal secara global, dan harus dipandang sebagai masalah dunia saat ini.
Masalah ini tidak bisa dipecahkan jika tidak dilakukan pendekatan dan
diperlakukan secara terdidik, begitu juga secara ekonomi, politik dan sosial
budaya.
Murid yang masuk
sekolah adalah murid yang komunikatif, punya rasa ingin tahu, kreatif dan mampu
belajar dalam banyak hal. Mereka telah membuktikannya dengan menguasai bahasa
ibu, gerakan fisik, permainan yang sulit dan ketrampilan hidup yang lain. Namun
kita juga percaya, bahwa sekolah tradisional pada abad ke -20 yang masih kita
lalui, mengurangi kemampuan kita pada saat pembelajaran. Kita memerlukan model
sekolah yang baru pada abad ke -21 ini.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah
data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data
dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi
yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi,
bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk
pengambilan keputusan.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan
media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan
sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui
hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media
tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan
siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas
dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan
komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya
sendiri yang dapat membuat peserta didik belajar secara aktif.
Keuntungan atau dampak
positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK tersebut antara lain adalah
: Pelajar jadi lebih mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajra lebih suka
praktek dibandingkan teori, Pengajar jadi lebih mudah mengajar jadi lebih mudah
menyampaikan materi dengan membuat presentasi – presentasi, Bagi pelajar maupun
pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka,
jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi
melalui e-mail, Dalam membuat laporan baik bagi pelajar, maupun pengajar jadi
lebih mudah karena jika memakai komputer, akan mudah dikoreksi jika ada
kesalahan, Dalam belajar, baik pelajar maupun pengajar akan lebih mudah mencari
sumber karena adanya internet, Pembelajaran yang menggunakan ICT atau TIK bisa
dibuat menjadi lebih menarik, misalnya dengan memunculkan gambar atau suara, sehingga
pelajar menjadi lebih antusias untuk belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar