Rabu, 23 Oktober 2013

Laporan Praktikum Taksonomi Phanerogamae Asteriidae


LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI PHANEROGAMAE
ASTERIIDAE
ASEP MULYANI, M. Pd




 









Nama                : Siti Jumrotun Khasanah
NIM                 : 1410160028
Kelas               : Biologi A/ 4
Kelompok        : V (Lima)
                                    Asprak             : 1. Eva Purnama Sari
                                                                2.  Zaenal Mustopa



LABORATORIUM BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2012


ASTERIIDAE
A.        TUJUAN
1.    Untuk mengamati ciri-ciri divisi Magnoliophyta kelas Magnoliopsida (Sub kelas Asteriidae)
2.    Untuk mengklasifikasikan masing-masing spesimen berdasarkan karakteristiknya.
                          
B.         LANDASAN TEORI
Subclassis Asteriidae memiliki 11 ordo, 49 famili, dan ± 56.000 jenis. Beberapa ordo diantaranya adalah Gentiales dengan famili apocynaceae, Ordo Solanales dengan famili solanaceae dan Convolvulaceae, Ordo Lamiales dengan famili Lamiaceae, Ordo Rubiales dengan famili Rubiaceae, Ordo Asterales dengan famili Asteraceae. (Gembong tjitrosoepomo.2005)
Subkelas Asteriidae merupakan subkelas yang anggap paling maju diantara subkelas pada kelas Magnoliophyta. hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kriteria antara lain, secara umum berhabitus pohon, semak dan herba dengan pola percabangan simpodial, daun tunggal ataupun majemuk, bunga hipogin, perigin sampai epigin, salah satu ciri khas yang dimiliki oleh subkelas ini yaitu Corolla simpetal, beberapa stamen epipetal sering ada cakram nektar, pollen berinti 2 atau 3, ginesium apokarp atau sinkarp. (Undang dasuki.1994)
Sub klas Asteriidae memiliki bentuk habitus herba atau berkayu. Daun tunggal dan beberapa saja yang majemuk. Stamen menempel pada tabung corolla (pada bagian dasar tabung saja atau lepas). Pada tumbuhan yang apetal, jumlah stamen < 5. Plasentasi bermacam-macam ada yang axilar, parietal, basal, apical, dan juga centralis. Sepertiga spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae, dapat dibedakan dari dikotiledonae yang lain berdasarkan keadaan bunganya yang sympetal, stamennya isomer, dan posisinya bergantian dengan lobus corolla. (Sudarsono, dkk.2005)
C.        ALAT DAN BAHAN
Alat:
-       Alat tulis
-       Buku panduan
Bahan:
-       Babadotan (Ageratum sp)
-       Kemangi (Ocimum sp)
-       Kangkung (Ipomoea aquatica)
-       Nusa indah (Mussaenda frondosa)
-       Bunga Tai kotok (Tagetes erecta)

D.        LANGKAH KERJA
1.    Alat dan bahan dipersiapkan sambil didengarkan dengan baik instruksi dan arahan dari asisten / dosen pendamping.
2.    Masing-masing tumbuhan diamati morfologinya meliputi tumbuhan. Babadotan (Ageratum sp), Kemangi (Ocimum sp), Kangkung (Ipomoea aquatica), Nusa indah (Mussaenda frondosa), Bunga Tai kotok (Tagetes erecta).
3.    Memperhatikan batangnya, tipe habitusnya dan mengamati pola percabangan tumbuhan tersebut.
4.    Mengamati daun yang mencakup jenis daun, pertulangan daun, dan duduk daun.
5.    Mengamati secara rinci alat perkembangbiakkannya. Kemudian setelah itu, memperhatikan tipe perbungaan, jenis kelamin tumbuhan,  jumlah dan keadaan perhiasan bunga, jumlah dan keadaan stamen, jumlah dan keadaan pistilum, kelamin bunga, dan jenis buah.
6.    Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan dan menggambar spesimen dalam buku gambar, serta memberi keterangan selengkap-lengkapnya.





E.  HASIL PENGAMATAN































F. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, kami mengamati ciri-ciri tumbuhan dari divisi Magnoliophyta, kelas magnoliopsida (Asteriidae) dan mengklasifikasikan tumbuhan tersebut berdasarkan karakteristiknya. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang pengamatan kali ini.
Berdasarkan pengamatan yang saya amati yang pertama adalah tanaman Babadotan.
Klasifikasi Tanaman Babadotan:
Regnum           : Plantae
Divisi               :
Magnoliophyta
Kelas               :
Magnoliopsida
Ordo                : Asterales
Famili              : Asteraceae
Genus              : Ageratum
Spesies            : Ageratum conyzoides
  Berdasarkan pengamatan, tanaman babadotan termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang memiliki habitus atau perawakan yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang memiliki batang yang lunak atau hanya sedikit sekali mengandung jaringan berkayu. Tanaman ini memiliki percabangan simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari siklus hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati. Sementara itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh kuncup aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Memiliki macam daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak daunnya berhadapan atau oposita dimana dua daun terletak pada satu nodus, masing-masing pada satu sisi. Istilah ini sering juga dipakai untuk yang seharusnya disebut dekusatus, yaitu daun-daun yang letaknya kalau di hubungkan membentuk salib kalau di lihat dari atas, sedangkan untuk bentuk daunnya, tanaman babadotan memiliki bentuk yang seperti bulat telur.
Pertulangan daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang. Memiliki tepi daun yang bergerigi (serratus) yaitu jika sinus dan angulus sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya halus dan tidak kasar, sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O) dan memilki pangkal daun yang tumpul (obtusus) yang berbentu bulat telur. (Dasuki, undang ahmad. 1994).
 Memiliki bunga yang majemuk, sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut aktinomorf.(Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya kecil, berwarna ungu dan tidak berbau. Bunga terdiri dari beberapa helai daun kelopak yang banyak dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari selembar atau lebih jika merupakan hibrida. Sedangkan tendanya berjumlah dudelapan.  Untuk benang sari dan putiknya, saya tidak dapat mengamatinya karena tidak terlihat.
Memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman ini memiliki khasiat pada daunnya untuk obat malaria, sakit tenggorokan, radang paru-paru, pegel linu dan sebagainya, sedangkan untuk akarnya dapat di manfaatkan sebagai obat demam. (Sudarsono, dkk. 2005).
 Untuk pengamatan kedua, kami mengamati tanaman Tahi Kotok.
Klasifikasi Tanaman Tahi Kotok:
Regnum           : Plantae
Divisi               :
Magnoliophyta
Kelas               :
Magnoliopsida
Ordo                : Asterales
Famili              : Asteraceae
Genus              : Tagetes
Spesies            : Tagetes erecta
   Berdasarkan pengamatan, tanaman tahi kotok termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang memiliki habitus atau perawakan yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang memiliki batang yang lunak atau hanya sedikit sekali mengandung jaringan berkayu. Tanaman ini memiliki percabangan batang monopodial yang artinya jika batang pokok selalu tampak jelas, ini di karenakan lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Macam daunnya majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang ditunjukkan dengan adanya persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak daunnya berhadapan atau oposita dimana dua daun terletak pada satu nodus, masing-masing pada satu sisi. Istilah ini sering juga dipakai untuk yang seharusnya disebut dekusatus, yaitu daun-daun yang letaknya kalau di hubungkan membentuk salib kalau di lihat dari atas, sedangkan untuk bentuk daunnya, tanaman tahi kotok ini memiliki bentuk yang seperti bulat telur yang lonjong.
Pangkal daunnya tumpul (obtusus), dan ujung daunnya sama halnya dengan tanaman babadotan yakni runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O).  Memiliki tepi daun yang berigi (serratus) yaitu jika sinus dan angulus sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya sedikit kasar.
Selain memiliki kesamaan dalam hal macam daunnya, tanaman tahi kotok ini juga memilki kesamaan dalam bunganya, yakni macam bunganya majemuk, karangan bunga yang disebut kapitulum dan simetri bunga yang aktinomorf. Memiliki bunga yang majemuk yang artinya sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran sedang berwarna kuning dan berbau. Bunga terdiri dari beberapa helai daun kelopak yang banyak dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari selembar yang berwarna hijau. Untuk benang sari dan putiknya, saya tidak dapat mengamatinya karena tidak terlihat.
Memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman ini memiliki khasiat pada bunganya yang telah kering, dapat di gunakan untuk obat infeksi saluran pernapasan bagian atas, radang mata, sariawan, sakit gigi dan radang tenggorokan. (http://asepjaponi.mywapblog.com/info-kesehatan-manfaat-tanaman-tahi-koto.xhtml).



Untuk pengamatan ketiga, kami mengamati tanaman Kangkung.
 Klasifikasi Tanaman Kangkung:
Regnum           : Plantae
Divisi               :
Magnoliophyta
Kelas               :
Magnoliopsida
Ordo                : Solanales
Famili              : Convolvulaceae
Genus              : Ipomoea
Spesies            : Ipomoea aquatica
Berdasarkan pengamatan, tanaman kangkung termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang memiliki habitus atau perawakan yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang memiliki batang yang lunak atau hanya sedikit sekali mengandung jaringan berkayu, tanaman ini memiliki percabangan batang monopodial yang artinya jika batang pokok selalu tampak jelas, ini di karenakan lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat berongga.  (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Memiliki macam daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal,  letak daunnya tersebar yang masing-masing nodus biasanya tersusun dalam satu spiral. Tepi daunnya rata, dan memiliki pertulangan daun yang menjala. Sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O), yang memiliki pangkal daun yang membulat (rotundatus).
Memiliki bunga yang majemuk yang artinya sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran sedang berwarna putih dan tidak berbau. Bunga terdiri dari beberapa helai daun kelopak yang berwarna hijau dan jumlahnya banyak dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari beberapa lembar (banyak) yang berwarna putih. Untuk benang sari dan putiknya, kami juga menemukannya beberapa helai, 2-5 helai pada benang sarinya yang berwarna ungu, pada putiknya kami tidak bisa menghitungnya karena terlalu banyak. (Tjitrosomo, siti sutarmi. 1984)
Memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman ini memiliki khasiat untuk mengurangi haid, mimisan, sakit kepala, sakit gigi, dan menghilangkan ketombe.
Untuk pengamatan keempat, kami mengamati tanaman Nusa Indah.
Klasifikasi Tanaman Nusa Indah:
Regnum           : Plantae
Divisi               :
Magnoliophyta
Kelas               :
Magnoliopsida
Ordo                : Rubiales
Famili              : Rubiaceae
Genus              : Mussaenda
Spesies            : Mussaenda frondosa
Berdasarkan pengamatan, pada batangnya memiliki habitus atau perawakan yaitu pohon kecil (tumbuahan berkayu yang tidak tinggi). Tanaman ini memiliki percabangan simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari siklus hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati. Sementara itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh kuncup aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Memiliki macam daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal,  letak daunnya tersebar yang masing-masing nodus biasanya tersusun dalam satu spiral. Memiliki letak daun yang sejajar, tata letak daun pada tumbuhan dapat pula di pakai sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan. Pangkal daunnya obtusus (tumpul) sehingga akan membentuk daun yang membulat.
Pertulangan daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang, sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O).
Memiliki bunga yang majemuk, sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran kecil, berwarna orange dan tidak berbau. Bunga terdiri dari sehelai daun kelopak yang berwarna hijau dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari beberapa lima lembar yang berwarna merah muda. Untuk benang sari dan putiknya, kami juga menemukannya banyak sekali pada bunganya.
Memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan). Menurut pakar tanaman obat Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Ensiklopedia Tumbuhan Berkhasiat Obat I, tumbuhan nusa indah putih bisa digunakan untuk pemakaian luar dan pemakaian dalam. Beberapa penyakit yang bisa diatasi dengan tanaman ini adalah kanker payudara, mencegah ataupun mengatasi kanker payudara. (Heyne, K.1987)
Bagian tambahan dari tanaman ini disebut dengan lokblad (daun pemikat) yang memiliki warna yang menarik dan merupakan modifikasi dari brakteanya.
Untuk pengamatan yang terakhir, kami mengamati tanaman Kemangi.
 Klasifikasi Tanaman Kemangi:
Regnum      : Plantae
Divisi                      :
Magnoliophyta
Kelas                      :
Magnoliopsida
Ordo                       : Lamiales
Famili                     : Lamiaceae
Genus                     : Ocimun
Spesies        : Ocimun santum
Berdasarkan pengamatan, pada batangnya memiliki habitus atau perawakan yaitu perdu ( tumbuhan berkayu, tidak mencapai tinggi batangnya, dan tidak memiliki pokok batang utama, namun memiliki beberapa batang yang lebih besar yang berasal dari percabangan batang yang dekat pada tanah). Tanaman jeruk ini memiliki percabangan simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari siklus hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati. Sementara itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh kuncup aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo, Gembong. 2003).
Letak daunnya tersebar yang masing-masing nodus biasannya tersusun dalam satu spiral. Memiliki macam daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal. Daun majemuk memiliki bagian-bagian seperti tangkai daun (peptiolus) yakni tangkai antara cabang dengan anak daun terbawah, suatu pulvinus sering terdapat di dalamnya dan peptiolus ini sering disebut sebagai bagian infrayuga. (Dasuki, Undang Ahmad. 1994).
Pertulangan daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang. Memiliki tepi daun yang bergerigi (serratus) yaitu jika sinus dan angulus sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya halus, sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O), sedangkan daunnya memiliki pangkal yang tumpul, dan ujung dari daunnya meruncing (acuminatus) yakni seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, sehingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing. (Tjitrosoepomo, Gembong. 2003).
Memiliki bunga yang majemuk, sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang disebut rasemosa atau percabangan monopodial atau bisa juga dikatakan bunga yang tidak terbatas yakni sumbu utama atau lateralnya dapat tumbuh terus menghasilkan bunga-bunga sampai berhenti karena telah tercapai stadium buahnya. Biasanya, buah akan tumbuh atau mekar berurutan dari bawah ke atas atau dari luar ke dalam  (pada umbella atau kapitulum).
Pada perbungaanya, bunganya berukuran kecil, berwarna kecoklatan dan tidak berbau. Bunga terdiri dari banyak kelopak yang berwarna hijau dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari banyak lembar yangberwarna putih. Untuk benang sari dan putiknya, kami tidak dapat mengamatinya dikarenakan tidak terlihat. Tanaman ini memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan).
Khasiat daun kemangi untuk kesehatan sangat beragam. Salah satunya adalah seseorang memiliki masalah dengan bau mulut ataupun bau badan, dapat mengonsumsi lalapan kemangi segar setiap hari secara rutin. John Henry M. dalam bukunya berjudul ”A Dictionary of Practical Material Medical” mengatakan bahwa khasiat daun kemangi atau sari daun kemangi yaitu dapat menyembuhkan penyakit diare, gangguan pada vagina, nyeri payudara, hingga mengatasi batu ginjal dan albuminaria.














G. KESIMPULAN
1.      Ageratum conyzoides termasuk subClassis asteriidae yang memiliki kesamaan (hampir mirip) ciri-ciri seperti tanaman tahi kotok Tagetes erecta. Hanya saja memiliki perbedaan dalam percabangan batangnya yakni simpodial untuk Ageratum conyzoides dan simpodial untuk Tagetes erecta.
2.      Sebagian besar SubClassis dari asteriidae memiliki bulu-bulu halus di bagian daun, mahkota, kelopak, braktea dan batangnya.
3.      Kelima spesies yang diamati memiliki kesamaan bunga yakni majemuk, selain itu sebagian besar memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol.
4.      Pada Mussaenda frondosa, terdapat bagian-bagian tambahan daun yang disebut dengan daun pemikat (Lokblad) yang merupakan modifikasi dari braktea.
5.      Pada tanaman kangkung dan tanaman nusa indah, alat-alat kelaminnya berjumlah banyak, berwarna ungu pada tanaman kangkung dan berwarna orange pada tanaman nusa indah.
6.      Ocimun santum termasuk subClassis dari asteriidae yang memiliki karangan bunga rasemosa dan termasuk ke dalam habitus perdu.













DAFTAR PUSTAKA

Dasuki, undang ahmad. 1994. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB.
Heyne, K.1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid II. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan.
John henry M. A Dictionary of Practical Material Medical. Universitas America Serikat
Steenis, van. 2003. Flora. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
Tjitrosoepomo, gembong. 2003. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Tjitrosomo, siti sutarmi. 1984. Botani Umum 3. Bandung: Penerbit Angkasa.
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. UM Press: Malang
Wijayakusuma, hembing. Ensiklopedia Tumbuhan Berkhasiat Obat I: Jakarta














LAMPIRAN

                   Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0001.jpg  Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0007.jpg 
         Tanaman Nusa Indah           Tanaman Kemangi
                   Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0006.jpg Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0005.jpg
                      Bunga Babadotan               Tanaman Babadotan
                    Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0004.jpg   Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0003.jpg
Bunga Tahi Kotok             Tanaman Tahi Kotok
                                           Description: D:\Users\JUMROTUN KHASANAH\Documents\FOLDER TAKSON\Kumpulan lampiran\lampiran takson 5\Foto-0002.jpg
     Tanaman Kangkung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar