LAPORAN
PRAKTIKUM TAKSONOMI PHANEROGAMAE
ASTERIIDAE
ASEP
MULYANI, M. Pd
![]() |
Nama : Siti
Jumrotun Khasanah
NIM : 1410160028
Kelas : Biologi
A/ 4
Kelompok : V (Lima)
Asprak : 1. Eva
Purnama Sari
2.
Zaenal Mustopa
LABORATORIUM
BIOLOGI
JURUSAN
BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2012
ASTERIIDAE
A.
TUJUAN
1.
Untuk mengamati ciri-ciri divisi Magnoliophyta kelas Magnoliopsida
(Sub kelas Asteriidae)
2.
Untuk mengklasifikasikan masing-masing
spesimen berdasarkan karakteristiknya.
B.
LANDASAN
TEORI
Subclassis Asteriidae memiliki 11 ordo, 49
famili, dan ± 56.000 jenis. Beberapa ordo diantaranya adalah Gentiales dengan
famili apocynaceae, Ordo Solanales dengan famili solanaceae dan Convolvulaceae,
Ordo Lamiales dengan famili Lamiaceae, Ordo Rubiales dengan famili Rubiaceae,
Ordo Asterales dengan famili Asteraceae. (Gembong tjitrosoepomo.2005)
Subkelas
Asteriidae merupakan subkelas yang anggap paling maju diantara subkelas pada
kelas Magnoliophyta. hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kriteria antara
lain, secara umum berhabitus pohon, semak dan herba dengan pola percabangan
simpodial, daun tunggal ataupun majemuk, bunga hipogin, perigin sampai epigin,
salah satu ciri khas yang dimiliki oleh subkelas ini yaitu Corolla simpetal,
beberapa stamen epipetal sering ada cakram nektar, pollen berinti 2 atau 3,
ginesium apokarp atau sinkarp. (Undang dasuki.1994)
Sub klas
Asteriidae memiliki bentuk habitus herba atau berkayu. Daun tunggal dan
beberapa saja yang majemuk. Stamen menempel pada tabung corolla (pada bagian
dasar tabung saja atau lepas). Pada tumbuhan yang apetal, jumlah stamen < 5.
Plasentasi bermacam-macam ada yang axilar, parietal, basal, apical, dan juga centralis.
Sepertiga spesies ini termasuk dalam famili Asteraceae, dapat dibedakan dari
dikotiledonae yang lain berdasarkan keadaan bunganya yang sympetal, stamennya
isomer, dan posisinya bergantian dengan lobus corolla. (Sudarsono, dkk.2005)
C.
ALAT DAN BAHAN
Alat:
- Alat tulis
- Buku panduan
|
Bahan:
- Babadotan (Ageratum
sp)
- Kemangi (Ocimum sp)
- Kangkung (Ipomoea aquatica)
- Nusa indah (Mussaenda frondosa)
- Bunga Tai
kotok (Tagetes erecta)
|
D.
LANGKAH KERJA
1. Alat dan bahan dipersiapkan sambil didengarkan dengan baik instruksi dan
arahan dari asisten / dosen pendamping.
2. Masing-masing
tumbuhan diamati morfologinya meliputi tumbuhan. Babadotan (Ageratum sp),
Kemangi (Ocimum sp), Kangkung (Ipomoea aquatica), Nusa indah (Mussaenda frondosa), Bunga Tai kotok (Tagetes erecta).
3. Memperhatikan
batangnya, tipe habitusnya dan mengamati pola percabangan tumbuhan tersebut.
4.
Mengamati daun yang mencakup jenis daun, pertulangan daun, dan
duduk daun.
5.
Mengamati secara rinci alat perkembangbiakkannya. Kemudian setelah
itu, memperhatikan tipe perbungaan, jenis kelamin tumbuhan, jumlah dan keadaan perhiasan bunga, jumlah
dan keadaan stamen, jumlah dan keadaan pistilum, kelamin bunga, dan jenis buah.
6.
Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan dan menggambar
spesimen dalam buku gambar, serta memberi keterangan selengkap-lengkapnya.
E. HASIL
PENGAMATAN
F. PEMBAHASAN
Pada praktikum
kali ini, kami mengamati ciri-ciri tumbuhan dari divisi Magnoliophyta, kelas
magnoliopsida (Asteriidae) dan mengklasifikasikan tumbuhan tersebut berdasarkan
karakteristiknya. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang pengamatan
kali ini.
Berdasarkan
pengamatan yang saya amati yang pertama adalah tanaman Babadotan.
Klasifikasi Tanaman Babadotan:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Ageratum
Spesies : Ageratum conyzoides
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Ageratum
Spesies : Ageratum conyzoides
Berdasarkan pengamatan, tanaman babadotan
termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang memiliki habitus atau perawakan
yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang memiliki batang yang lunak atau
hanya sedikit sekali mengandung jaringan berkayu. Tanaman ini memiliki
percabangan simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari
siklus hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati.
Sementara itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh
kuncup aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat.
(Tjitrosoepomo,
gembong. 2003).
Memiliki macam
daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi
kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya
persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak
daunnya berhadapan atau oposita dimana dua daun terletak pada satu nodus,
masing-masing pada satu sisi. Istilah ini sering juga dipakai untuk yang
seharusnya disebut dekusatus, yaitu daun-daun yang letaknya kalau di hubungkan
membentuk salib kalau di lihat dari atas, sedangkan untuk bentuk daunnya,
tanaman babadotan memiliki bentuk yang seperti bulat telur.
Pertulangan
daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki
satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari
tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang.
Memiliki tepi daun yang bergerigi (serratus) yaitu jika sinus dan angulus
sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya halus dan tidak kasar, sedangkan ujung
daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan
kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak
daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O) dan memilki
pangkal daun yang tumpul (obtusus) yang berbentu bulat telur. (Dasuki, undang
ahmad. 1994).
Memiliki bunga yang majemuk,
sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi berdaun,
atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi
berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang
disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan
atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya
dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman
ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut
aktinomorf.(Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya kecil, berwarna ungu dan tidak berbau. Bunga terdiri dari beberapa
helai daun kelopak yang banyak dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari selembar atau lebih jika merupakan hibrida. Sedangkan
tendanya berjumlah dudelapan. Untuk
benang sari dan putiknya, saya tidak dapat mengamatinya karena tidak terlihat.
Memiliki
distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga
jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman
ini memiliki khasiat pada daunnya untuk obat malaria, sakit tenggorokan, radang
paru-paru, pegel linu dan sebagainya, sedangkan untuk akarnya dapat di
manfaatkan sebagai obat demam. (Sudarsono, dkk. 2005).
Untuk pengamatan kedua, kami mengamati tanaman
Tahi Kotok.
Klasifikasi Tanaman Tahi Kotok:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Tagetes
Spesies : Tagetes erecta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Tagetes
Spesies : Tagetes erecta
Berdasarkan pengamatan, tanaman tahi kotok
termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang memiliki habitus atau perawakan
yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang memiliki batang yang lunak atau
hanya sedikit sekali mengandung jaringan berkayu. Tanaman ini memiliki
percabangan batang monopodial yang artinya jika batang pokok selalu tampak
jelas, ini di karenakan lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat
pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya dan tanaman ini memiliki penampang
batang yang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Macam daunnya
majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi kadang-kadang
anak daunnya hanya satu, yang ditunjukkan dengan adanya persendian pada dasar
daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak daunnya berhadapan atau
oposita dimana dua daun terletak pada satu nodus, masing-masing pada satu sisi.
Istilah ini sering juga dipakai untuk yang seharusnya disebut dekusatus, yaitu
daun-daun yang letaknya kalau di hubungkan membentuk salib kalau di lihat dari
atas, sedangkan untuk bentuk daunnya, tanaman tahi kotok ini memiliki bentuk
yang seperti bulat telur yang lonjong.
Pangkal daunnya
tumpul (obtusus), dan ujung daunnya sama halnya dengan tanaman babadotan yakni
runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang
sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk
suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O). Memiliki tepi daun yang berigi (serratus)
yaitu jika sinus dan angulus sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya
sedikit kasar.
Selain memiliki
kesamaan dalam hal macam daunnya, tanaman tahi kotok ini juga memilki kesamaan
dalam bunganya, yakni macam bunganya majemuk, karangan bunga yang disebut
kapitulum dan simetri bunga yang aktinomorf. Memiliki bunga yang majemuk yang
artinya sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok itu tidak lagi
berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah mengalami metamorfosis dan tidak
lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi, dan memiliki karangan bunga yang
disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis melebar membentuk cawan, bulatan
atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil ataupun subsesil, biasanya
dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman
ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang sehingga disebut aktinomorf.
(Tjitrosoepomo,
gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran
sedang berwarna kuning dan berbau. Bunga terdiri dari beberapa helai daun
kelopak yang banyak dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari selembar yang berwarna hijau. Untuk benang sari dan putiknya,
saya tidak dapat mengamatinya karena tidak terlihat.
Memiliki
distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga
jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman
ini memiliki khasiat pada bunganya yang telah kering, dapat di gunakan untuk
obat infeksi saluran pernapasan bagian atas, radang mata, sariawan, sakit gigi
dan radang tenggorokan. (http://asepjaponi.mywapblog.com/info-kesehatan-manfaat-tanaman-tahi-koto.xhtml).
Untuk
pengamatan ketiga, kami mengamati tanaman Kangkung.
Klasifikasi Tanaman
Kangkung:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea aquatica
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea aquatica
Berdasarkan
pengamatan, tanaman kangkung termasuk ke dalam subklas dari Asteriidae yang
memiliki habitus atau perawakan yaitu herba yakni tumbuhan atau tanaman yang
memiliki batang yang lunak atau hanya sedikit sekali mengandung jaringan
berkayu, tanaman ini memiliki percabangan batang monopodial yang artinya jika
batang pokok selalu tampak jelas, ini di karenakan lebih besar dan lebih
panjang (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya dan tanaman ini
memiliki penampang batang yang berbentuk bulat berongga. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Memiliki macam
daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi
kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya
persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak daunnya tersebar yang masing-masing
nodus biasanya tersusun dalam satu spiral. Tepi daunnya rata, dan memiliki
pertulangan daun yang menjala. Sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing
(acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi
sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut
lancip (lebih kecil dari 90O), yang memiliki pangkal daun yang
membulat (rotundatus).
Memiliki bunga
yang majemuk yang artinya sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah
berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah
mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi,
dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis
melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil
ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan
simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang
sehingga disebut
aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran sedang berwarna putih dan tidak berbau. Bunga terdiri
dari beberapa helai daun kelopak yang berwarna hijau dan jumlahnya banyak dan
dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari beberapa lembar (banyak) yang berwarna putih. Untuk benang
sari dan putiknya, kami juga menemukannya beberapa helai, 2-5 helai pada benang
sarinya yang berwarna ungu, pada putiknya kami tidak bisa menghitungnya karena
terlalu banyak. (Tjitrosomo,
siti sutarmi. 1984)
Memiliki
distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga
jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan) dan tanaman
ini memiliki khasiat untuk mengurangi haid, mimisan, sakit kepala, sakit gigi,
dan menghilangkan ketombe.
Untuk pengamatan keempat, kami mengamati tanaman Nusa Indah.
Klasifikasi Tanaman Nusa Indah:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Mussaenda
Spesies : Mussaenda frondosa
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Mussaenda
Spesies : Mussaenda frondosa
Berdasarkan
pengamatan, pada batangnya memiliki habitus atau perawakan yaitu pohon kecil
(tumbuahan berkayu yang tidak tinggi). Tanaman ini memiliki percabangan
simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari siklus
hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati. Sementara
itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh kuncup
aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang yang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo,
gembong. 2003).
Memiliki macam
daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi
kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya
persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal, letak daunnya tersebar yang masing-masing
nodus biasanya tersusun dalam satu spiral. Memiliki letak daun yang sejajar,
tata letak daun pada tumbuhan dapat pula di pakai sebagai tanda pengenal suatu
tumbuhan. Pangkal daunnya obtusus (tumpul) sehingga akan membentuk daun yang
membulat.
Pertulangan
daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki
satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari
tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang,
sedangkan ujung daunnya lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi
daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan
pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O).
Memiliki bunga yang majemuk, sumbu yang mendukung bunga-bunga yang
telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah
mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi,
dan memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol yakni rakis
melebar membentuk cawan, bulatan atau segitiga dengan bunga-bunga yang sesil
ataupun subsesil, biasanya dikelilingi oleh involukrum, bisa juga dikatakan
simosa atau rasemosa, Dan pada tanaman ini, pada bunganya dapat dibagi oleh banyak bidang
sehingga disebut aktinomorf. (Tjitrosoepomo, gembong. 2003).
Pada bunganya, bunganya berukuran kecil, berwarna orange dan tidak berbau. Bunga terdiri
dari sehelai daun kelopak yang berwarna hijau dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari beberapa lima lembar yang berwarna merah muda. Untuk benang
sari dan putiknya, kami juga menemukannya banyak sekali pada bunganya.
Memiliki
distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga
jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan). Menurut
pakar tanaman obat Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Ensiklopedia Tumbuhan
Berkhasiat Obat I, tumbuhan nusa indah putih bisa digunakan untuk pemakaian
luar dan pemakaian dalam. Beberapa penyakit yang bisa diatasi dengan tanaman
ini adalah kanker payudara, mencegah ataupun mengatasi kanker payudara. (Heyne,
K.1987)
Bagian tambahan
dari tanaman ini disebut dengan lokblad (daun pemikat) yang memiliki warna yang
menarik dan merupakan modifikasi dari brakteanya.
Untuk pengamatan yang terakhir, kami mengamati tanaman Kemangi.
Klasifikasi Tanaman
Kemangi:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Ocimun
Spesies : Ocimun santum
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Ocimun
Spesies : Ocimun santum
Berdasarkan
pengamatan, pada batangnya memiliki habitus atau perawakan yaitu perdu (
tumbuhan berkayu, tidak mencapai tinggi batangnya, dan tidak memiliki pokok
batang utama, namun memiliki beberapa batang yang lebih besar yang berasal dari
percabangan batang yang dekat pada tanah). Tanaman jeruk ini memiliki
percabangan simpodial yang artinya kuncup terminal pada beberapa stadium dari
siklus hidupnya membawa perbungaan, yang sudah tentu setelah berbuah akan mati.
Sementara itu, pertumbuhan dari tumbuhan tersebut hanya bisa di lakukan oleh
kuncup aksiler, dan tanaman ini memiliki penampang batang berbentuk bulat. (Tjitrosoepomo,
Gembong. 2003).
Letak daunnya tersebar
yang masing-masing nodus biasannya tersusun dalam satu spiral. Memiliki macam
daun yang majemuk, artinya terdiri dari dua atau lebih helaian daun, tetapi
kadang-kadang anak daunnya hanya satu, yang di tunjukkan dengan adanya
persendian pada dasar daun yang sulit dibedakan dari daun tunggal. Daun majemuk
memiliki bagian-bagian seperti tangkai daun (peptiolus) yakni tangkai antara
cabang dengan anak daun terbawah, suatu pulvinus sering terdapat di dalamnya
dan peptiolus ini sering disebut sebagai bagian infrayuga. (Dasuki, Undang
Ahmad. 1994).
Pertulangan
daun (Nervatio atau venatio) menyirip (penninervis), dimana daun ini memiliki
satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan dari
tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang bercabang.
Memiliki tepi daun yang bergerigi (serratus) yaitu jika sinus dan angulus
sama-sama lancip, daun berigi ini nampaknya halus, sedangkan ujung daunnya
lancip atau runcing (acutus) ini dikarenakan kedua tepi daun di kanan kiri ibu
tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pada puncak daun
membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90O), sedangkan
daunnya memiliki pangkal yang tumpul, dan ujung dari daunnya meruncing
(acuminatus) yakni seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua
tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, sehingga ujung daun nampak sempit panjang
dan runcing. (Tjitrosoepomo, Gembong. 2003).
Memiliki bunga yang majemuk, sumbu yang mendukung bunga-bunga yang
telah berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daunnya telah
mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk berasimilasi,
dan memiliki karangan bunga yang disebut rasemosa atau percabangan monopodial
atau bisa juga dikatakan bunga yang tidak terbatas yakni sumbu utama atau
lateralnya dapat tumbuh terus menghasilkan bunga-bunga sampai berhenti karena
telah tercapai stadium buahnya. Biasanya, buah akan tumbuh atau mekar berurutan
dari bawah ke atas atau dari luar ke dalam
(pada umbella atau kapitulum).
Pada
perbungaanya, bunganya berukuran
kecil, berwarna kecoklatan dan tidak berbau. Bunga terdiri dari banyak kelopak
yang berwarna hijau dan dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari banyak lembar yangberwarna putih. Untuk benang sari dan
putiknya, kami tidak dapat mengamatinya dikarenakan tidak terlihat. Tanaman ini memiliki distribusi seks yang berupa berumah satu yaitu
tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu
batang tumbuhan).
Khasiat
daun kemangi untuk kesehatan sangat beragam. Salah satunya adalah seseorang
memiliki masalah dengan bau mulut ataupun bau badan, dapat mengonsumsi lalapan
kemangi segar setiap hari secara rutin. John Henry M. dalam bukunya berjudul ”A
Dictionary of Practical Material Medical” mengatakan bahwa khasiat
daun kemangi atau sari daun kemangi yaitu dapat menyembuhkan
penyakit diare,
gangguan pada vagina, nyeri payudara, hingga mengatasi batu ginjal dan
albuminaria.
G. KESIMPULAN
1.
Ageratum conyzoides termasuk subClassis
asteriidae yang memiliki kesamaan (hampir mirip) ciri-ciri seperti tanaman tahi
kotok Tagetes erecta. Hanya saja memiliki perbedaan dalam percabangan
batangnya yakni simpodial untuk Ageratum conyzoides dan simpodial untuk Tagetes
erecta.
2.
Sebagian besar SubClassis
dari asteriidae memiliki bulu-bulu halus di bagian daun, mahkota, kelopak,
braktea dan batangnya.
3.
Kelima spesies yang
diamati memiliki kesamaan bunga yakni majemuk, selain itu sebagian besar
memiliki karangan bunga yang disebut kapitulum atau bongkol.
4.
Pada Mussaenda
frondosa, terdapat bagian-bagian tambahan daun yang disebut dengan daun
pemikat (Lokblad) yang merupakan modifikasi dari braktea.
5.
Pada tanaman kangkung dan
tanaman nusa indah, alat-alat kelaminnya berjumlah banyak, berwarna ungu pada
tanaman kangkung dan berwarna orange pada tanaman nusa indah.
6.
Ocimun santum termasuk subClassis dari
asteriidae yang memiliki karangan bunga rasemosa dan termasuk ke dalam habitus
perdu.
DAFTAR PUSTAKA
Dasuki, undang ahmad. 1994. Sistematik
Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB.
Heyne, K.1987. Tumbuhan berguna Indonesia
Jilid II. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan.
John henry M. A
Dictionary of Practical Material Medical. Universitas America Serikat
Steenis, van. 2003. Flora. PT.
Pradnya Paramita. Jakarta.
Tjitrosoepomo, gembong. 2003. Morfologi
Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Tjitrosomo,
siti sutarmi. 1984. Botani Umum 3. Bandung: Penerbit Angkasa.
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. UM Press:
Malang
Wijayakusuma, hembing.
Ensiklopedia Tumbuhan Berkhasiat Obat I: Jakarta
http://asepjaponi.mywapblog.com/info-kesehatan-manfaat-tanaman-tahi-koto.xhtml.
Tanggal 22/04/2012.
Pukul 19:30wib
LAMPIRAN
Tanaman
Nusa Indah Tanaman Kemangi

Bunga
Babadotan Tanaman Babadotan

Bunga Tahi Kotok Tanaman Tahi Kotok

Tanaman Kangkung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar