FILSAFAT KONTEMPORER DAN FILSAFAT
POSMODERNISME
Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Dosen : Dr. Anda
Juanda,
M.Pd
Disusun
oleh :
Kelompok 3
1.
Anti’a
Luthfiani
2.
Etin Ratnaetin
3.
Fajar
Suharyanto
4.
Lestari C
Kartina
5.
Siti
Jumrotun Khasanah
IPA-BIOLOGI A/ VI
JURUSAN IPA
BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH
NURJATI
CIREBON
2013
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan karunia serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan tugas terstruktur Mata Kuliah Filsafat Umum yang
berbentuk Makalah dengan judul “Fisafat Kontemporer dan Filsafat Posmodernisme”
Tak lupa shalawat serta salam penyusun curahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan makalah ini khususnya
yang menyusun dan membacanya mendapatkan syafaat dari beliau di
akhir zaman.
Selama penyusunan makalah ini penyusun mendapatkan
bantuan, dukungan serta bimbingan dari pihak lain. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih.
Seperti kata pepatah “Tiada gading yang tak retak” begitu pula dengan
makalah ini, mungkin masih terdapat kesalahan. Hal ini karena keterbatasan
pengetahuan dengan pengalaman yang penyusun miliki. Oleh
karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk
kesempurnaan makalah selanjutnya.
Dengan segala keterbatasan, penyusun berharap makalah ini
bermanfaat bagi penyusun khususnya serta para pembaca pada
umumnya.
Cirebon, 25 April 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................
BAB II FILSAFAT
KONTEMPORER DAN
............. FILSAFAT
POSMODERNISME......................................................
A. FILSAFAT
KONTEMPORER..............................................................
1. Pragmatisme........................................................................................
a.
Hakekat
Pragmatisme....................................................................
b. Tokoh Pragmatisme.......................................................................
1)
William james (1842-1910 M)..................................................
a)
Riwayat Hidup William James............................................
b)
Ajaran kefilsaftan William James.......................................
c)
Karya- karya kefilsafatan William James...........................
d)
Sumbangan William James Terhadap
Ilmu Masa Kini........
2)
John Dewey (1859-1952 M)....................................................
a)
Riwayat Hidup John Dewey...............................................
b)
Ajaran Kefilsaftan John Dewey.........................................
c)
Karya- karya Kefilsafatan John
Dewey..............................
d)
Sumbangan John Dewey Terhadap Ilmu Masa Kini...........
2.
Eksistensialisme .................................................................................
a.
Hakekat Eksistensialisme...............................................................
b.
Tokoh-tokoh Eksistensialisme........................................................
1)
Soren Kierkegaard (1813 – 1855)..............................................
a)
Riwayat Hidup Soren Kierkegaard........................................
b)
Ajaran Kefilsaftan Soren
Kierkegaard...................................
c)
Karya- karya Kefilsafatan Soren
Kierkegaard.......................
2)
Jean Paul Sartre (1905 – 1980)..................................................
a)
Riwayat Hidup Jean Paul Sartre............................................
b)
Ajaran Kefilsaftan Jean Paul
Sartre.......................................
c)
Karya- karya Kefilsafatan Jean
Paul Sartre...........................
c. Sumbangan Eksistensialisme
Terhadap Ilmu Masa Kini.................
3.
Fenomenologi..................................................................................... ....
a.
Hakekat Fenomenologi................................................................... ....
b.
Tokoh-tokoh Fenomenologi........................................................... ....
1)
Edmund
Husserl........................................................................ ....
a)
Riwayat Hidup Edmund Husserl........................................... ....
b)
Ajaran Kefilsafatan Edmund Husserl.................................... ....
c)
Karya- karya Edmund Husserl.............................................. ....
2)
Max
Scheler............................................................................. ....
a)
Riwayat Hidup Max Scheler.................................................. ....
b)
Ajaran Kefilsafatan Max Scheler.......................................... ....
c)
Karya- karya Max Scheler..................................................... ....
c. Sumbangan Fenomenologi Terhadap Ilmu Masa kini..................... ....
B.
FILSAFAT POSMODERNISME...........................................................
1.
Hakekat Posmodernisme..................................................................... ....
2.
Latar Belakang Lahirnya
Posmodernisme...........................................
3.
Tokoh Posmodernisme........................................................................
a.
Charles Sanders Pierce................................................................... ....
1)
Riwayat Hidup Charles Sanders Pierce...................................... ....
2)
Ajaran kefilsafatan Charles Sanders Pierce............................... ....
b. Roman Osipocich Jakobson........................................................... ....
1)
Riwayat Hidup Osipocich
Jakobson.......................................... ....
2)
Karya- karya Osipocich
Jakobson............................................. ....
3)
Ajaran kefilsafatan Osipocich Jakobson.................................... ....
c. Roland Barthes...............................................................................
1)
Riwayat Hidup Roland
Barthes.................................................. ....
2)
Karya- karya Roland
Barthes..................................................... ....
3)
Ajaran kefilsafatan Roland
Barthes........................................... ....
d. Umberto Eco.................................................................................. ....
1)
Riwayat Hidup Umberto
Eco..................................................... ....
2)
Karya- karya Umberto
Eco........................................................ ....
3)
Ajaran kefilsafatan Umberto
Eco.............................................. ....
4)
Ajaran Pemikiran Filsafat Posmodernisme.................................
4.
Sumbangan Filsafat Postmodernisme
Masa Kini................................. ....
5.
Kelebihan Posmodernisme dan
Kekurangan Posmodernisme............. ....
a.
Kelebihan Posmodernisme..................................................................
b.
Kekurangan Posmodernisme.......................................................... ....
BAB III KESIMPULAN.................................................................................. ....
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Filsfat adalah keinginan yang
mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi
bijak. Kebijakan ini lahir adanya berbagai ajaran- ajran filsafat dari zaman
kuno, pertengahan, modern/ kontemporer hingga posmodernisme.
Sebagai sebuah pemikiran,
postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap
paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan
menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam
kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya
lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme
Pertama, modernisme dipandang gagal
mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik
sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern
tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan
otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak
kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan
segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru
dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang
memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu
menekankan atribut fisik individu.
Dengan latar belakang demikian,
modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji
emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu
diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala
kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu
manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas
dan memperbudak.
Pada titik inilah pemikiran tentang
kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter
modernisme dalam tampilannya yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya
tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini. Pemikiran kebudayaan
postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian penting paradigma
postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami pengertian dan watak
postmodernisme.
BAB II
FILSAFAT KONTEMPORER DAN FILSAFAT
POSMODERNISME
A. FILSAFAT
KONTEMPORER
1. Pragmatisme
a. Hakekat Pragmatisme
Pragmatisme
berasal dari bahasa Yunani, dari kata ‘pragma’
, yang berarti perbuatan atau tindakan. Isme
di sini berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu
berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan.
Pragmatisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang
membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang
bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal
membawa akibat praktis. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat
bagi hidup praktis”. Pragmatisme berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu
ialah, apakah sesuatu itu memiliki fungsi dan kegunaan bagi kehidupan manusia.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak.
Secara umum pragmatisne berarti
hanya idea (pemikiran, pendapat, teori) yang dapat dipraktekannlah yang benar
dan berguna. Idea-idea yang hanya ada di dalam idea (seperti idea pada Plato,
pengertian umum pada Socrates, definisi pada aristoteles), juga kebimbangan
terhadap realitas obyek indera (pada descartes), semua itu nonsense bagi pragmatisme.
Yang ada ialah apa yang real ada, (Syadali, 2004: 69).
Pragmatisme
dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari
gagasan asal yang sama. Kendati demikian, ada tiga patokan yang disetujui
aliran pragmatisme yaitu :
1) Menolak segala
intelektualisme;
2) Menolak
absolutisme;
3) Meremehkan logika formal.
Para pemikir
yang membahas religiousitas dan spiritualitas manusia selalu berusaha
menunjukkan keberadaan Tuhan dengan berbagai argumen rasional. Namun, bagi
pragmatisme, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kegunaan dari
kepercayaan kita terhadap adanya Tuhan?.
Gagasan
mengenai adanya Tuhan dan kepercayaan terhadap agama merupakan gagasan yang
benar jika memiliki efek-efek praktis. Tindakan manusialah yang akan membuktikan
apakah keyakinannya terhadap Tuhan merupakan suatu kebenaran. Dalam hal ini,
keyakinan kita kepada Tuhan dan agama memang diperlukan, karena dengan
keyakinan tersebut manusia akan memiliki ketenangan dalam menghadapi
kehidupannya. Dengan ketenangan itulah ia akan
bisa melakukan tindakan-tindakan yang berguna dengan cara yang “benar”.
Doktrin-doktrin agama benar, jika perbuatan para penganutnya sesuai dengan
doktrin tersebut dan terarah pada suatu kesuksesan dalam bertindak, Anonim. 2010. http://librarianship
umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-pragmatisme.html# uds-search-results.
b.
Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
Filosuf yang terkenal sebagai
tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.
1) William James (1842-1910 M)
a) Riwayat Hidup William James
James
lahir di New York City pada tahun 1842 M, akan
tetapi menghabiskan masa kecilnya di Eropa. Ayahnya bernama Henry James, Sr.
Beliau adalah seorang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikiran yang
kreatif. Henry James, Sr. Merupakan kepala rumah tangga yang memang menekankan
kemajuan intelektual. Ia mengembangkan anak-anaknya secara luas sedapat-
dapatnya dengan kebebasan dan individualisme, dan ia pun memberikan ide-idenya
dan pengalamannya yang penting kepada anak-anaknya. Pendidikan dasarnya tidak seperti anak
kebanyakan dan cenderung berganti-ganti, dikarenakan seringnya berpindah dari
satu kota ke yang lain dan juga keinginan ayahnya agar dia lebih berkembang.
Dia melewatkan masa pendidikannya disekolah umum dan dari guru bimbingan pribadinya di Swiss,
Prancis, Inggris dan Amerika. Sejak 1872 M hingga 1907 M, ia menuntut ilmu di
Harvard. Pada mulanya James mempelajari
fisiologi, kemudian beralih ke psikologi, dan terakhir filsafat. Pragmatisme
William James memiliki pengaruh yang cukup dominan dalam filsafat pragmatisme,
yang merupakan pemikiran khas Amerika, Anonim. 2010.http://librarianship
umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-pragmatisme.html# uds-search-results.
Selama tahun-tahun itu, ia hanya
bisa membayangkan bagaimana kehidupan di sekolah sebenarnya. Setelah mendalami
seni selama beberapa tahun, dia menyadari bahwa seni bukanlah bidangnya, dan
pada tahun 1861 M, ia masuk ke Lawrence
Scientific School di Cambridge, yang memberikan karir di bidang sains dan
koneksi dengan Universitas Harvard yang terus berlangsung seumur hidupnya, (Syadali:2004 hal 69).
Saat berusia 35 tahun, ia telah
menjadi dosen di Universitas Harvard. Beliau
menjadi instruktur fisiologi dan anatomi selama 7 tahun, guru besar
filsafat selama 9 tahun, dan menjadi guru besar psikologi sampai 10 tahun.
James adalah penulis yang produktif dan berbakat dibidang filsafat, psikologi
dan pendidikan, dan pengaruhnya pada kehidupan pendidikan di Amerika sangatlah
mengesankan.
b) Ajaran
dan Karya Kefilsafatan William James
Mengenai
kebenaran, ada satu kalimat dari William James yang cukup padat dalam menggambarkannya,
yaitu “truth happens to an idea”. Berbeda dengan
konsepsi tradisional mengenai kebenaran yang memandang kebenaran sebagai
sesuatu yang pasti dan tetap, James meyakini bahwa kebenaran itu terjadi pada
suatu gagasan. Dalam hal ini, kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang dinamis.
Maka kebenaran suatu gagasan tidaklah dikatakan sebagai “benar”, melainkan
“menjadi benar”. Hal ini ditakar dari efek-efek praktis dan tindakan yang
mengikuti gagasan tersebut.
Sebuah
gagasan dinilai benar, jika mengarahkan manusia pada suksesnya suatu tindakan.
Dengan kata lain, jika gagasan itu mengarahkan kita pada tindakan yang membawa
manfaat. Bagi James, benar dan bermanfaat merupakan satu hal yang sama. Hal ini berkaitan dengan verifikasi yang dikenakan kepada
suatu gagasan untuk menguji apakah gagasan itu benar atau tidak.
Terlihat
pula bahwa bagi James, kemauan mendahului kebenaran, di mana kemauan itu
disertai dengan kehendak untuk percaya. Hal ini dikarenakan kebenaran merupakan
sesuatu yang diaktualisasikan oleh manusia kepada gagasan tertentu yang ia
jadikan pedoman untuk tindakannya, (Tafsir, 2009: 173).
c) Karya-Karya
Kefilasafatan William James
(1) The Principles Of Psychology
Karangannya, Essay in Radical Empirism a
Pluralistic Universe, dan karyanya, Some Problems of Philosophy,
membicarakan pertumbuhan pandangannya tentang pragmatisme di dalam metafisika
dan epistemologi. Pragmatisme, menurut pendapatnya, memberikan suatu jalan
untuk membicarakan filsafat dengan melalui pemecahan lewat pengalaman indera.
Akan tetapi, ini ternyata tidak mencukupi untuk James karena ia menyadari bahwa
pragmatisme juga mampu menghubungkan satu dengan lainnya. Jawaban yang harus
diberikan ialah mengenai pandangan yang pasti tentang alam semesta. Pandangan ini
tentu saja suatu metafisika, Anonim. 2010. http://librarianship
umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-pragmatisme.html# uds-search-results.
(2) Talks to Teacher
(1)William James adalah seorang yang
individualis. Didalam bukunya Talks to Teacher tidak terdapat
pernyataan mengenai pendidikan sebagai fungsi sisa. Baginya pendidikan lebih
cenderung kepada “ organisasi yang ketertarikan mendalam terhadap tingkah laku
dan ketertarikan akan kebiasaan dalam tingkah laku dan aksi yang menempatkan
individual pada lingkungannya”. Teori perkembangan diartikannya sebagai susunan
dasar dari pengalaman mental untuk bertahan hidup. Pemikirannya ini dipengaruhi
oleh insting dan pengalamannya mempelajari psikologi hewan dan doktrin teori
evolusi biologi. Ketertarikan James akan insting dan pemberian tempat untuk itu
dalam pendidikan, menjadikan para pembaca bukunya percaya akan salah satu
tujuan terpenting didalam pendidikan adalah memberikan kebebasan kepada
anak-anak untuk mengikuti instingnya. Yang nantinya akan menjadi peribahasa
teori pendidikan, Anonim.
2010. http://librarianship
umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-pragmatisme.html# uds-search-results.
(3) The will to be believe, (1897)
Di dalam buku ini
menegaskan bahwa ada waktu-waktu ketika kita dihadapkan pada situasi di
mana kita harus membuat keputusan tanpa memiliki semua bukti yang mungkin kita
kuasai. Kehidupan tidak selalu memberi kita kemewahan menunggu hingga kita
mendapatkan data yang meyakinkan, yang mendukung jalan tindakan yang benar.
Tujuan James adalah menggambarkan beberapa karakteristik dasar situasi semacam
itu, dan mempertahankan pandangan bahwa arah tindakan rasional di lingkungan
ini tidaklah berarti melarikan diri dari realitas dengan mengklaim perlunya
keharusan menunggu bukti yang lebih obyektif sebelum memutuskan apa yang harus
dilakukan.
(4) The Variety of Religious
Experience (1902)
The Varieties of Religious Experiences memuat usaha
besar James untuk menilai arti agama dalam kehidupan manusia. Seperti
Nietzsche, James menilai agama dari segi kontribusinya pada keutamaan manusia,
tetapi kesimpulan yang diambil James berbeda dari para filosof Jerman pada
masanya. Perbedaan ini sebagian besar dikarenakan fakta bahwa ideal James lebih
demokratis dibandingkan ideal Nietzsche. James tentu memuji nilai
individu-individu yang istimewa, tetapi ia memberi penekanan yang lebih jelas
dan lebih kuat pada arti penting dan integritas setiap kehidupan manusia,
perlunya manusia bekerja bersama guna menghasilkan yang terbaik, dan kebutuhan
untuk menetapkan sebuah lingkungan di mana kebebasan personal dan kesatuan sosial
melengkapi satu sama lain (Tafsir, 2009: 169).
d) Sumbangan
William James terhadap ilmu masa kini
Teori
James akan insting sangatlah bersifat individualis dan sangatlah kolot pada
pelaksanaannya. Mengesampingkan pernyataannya mengenai perubahan insting, yang
berlawanan dengan diskusinya pada “Iron Law of Habit/Hukum Utama Kebiasaan”
dan kepercayaannya akan tujuan dasar pendidikan sebagai pengembangan awal
kebiasaan individual dan kelompok, dalam pembentukan masyarakat yang lebih
sempurna. Singkatnya, James menegaskan, dasar dari semua pendidikan adalah
mengumpulkan semua insting asli yang dikenal oleh anak-anak, dan tujuan
pendidikan adalah organisasi pengenalan kebiasaan sebagai bagian dari diri
untuk menjadikan pribadi yang lebih baik. Sumbangan James yang paling
berpengaruh terhadap metode pendidikan adalah hubungannya dengan susunan
kebiasaan. James mengtakan: `
“Hal
yang paling utama, disemua tingkat pendidikan, adalah untuk membuat ketakutan
kita menjadi sekutu bukan menjadi lawan. Untuk menemukan dan mengenali
kebutuhan kita dan memenuhi kebutuhan dalam hidup. Untuk itu kita harus
terbiasa, secepat mungkin, semampu kita, dan menjaga diri dari jalan yang
memberi kerugian kepada kita, seperti kita menjaga diri dari penyakit. Semakin
banyak dari hal itu didalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita lakukan
dengan terbiasa, semakin banyak kemampuan pemikiran kita yang dapat digunakan
untuk hal yang penting lainnya.” Anonim. 2010. http://librarianshipumir.blogspot.com/2010/08/pendekatanpragmatisme.html#
uds-search-results.
2)
John Dewey (1859-1952 M)
a)
Riwayat hidup John Dewey
John Dewey adalah seorang filosof dari Amerika Serikat, yang termasuk
Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus
sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.
Dewey dilahirkan di Burlington pada
tahun 1859 M. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru
besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa
universitas. Sepanjang karirnya, Dewey
menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700-an artikel. Dewey meninggal dunia pada
tahun 1952 M.
Dari tahun 1884-1888 M, Dewey
mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang filsafat. Tahun 1889 M ia
pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang sama, ia
pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat. Tugas ini
dijalankan sampai tahun 1894 M, ketika ia pindah ke Universitas Chicago yang
membawa banyak pengaruh pada pandangan-pandangannya tentang pendidikan sekolah
di kemudian hari. Ia menjabat sebagai pemimpin departemen filsafat dari tahun
1894-1904 di universitas ini. Ia kemudian mendirikan Laboratory School yang kelak dikenal
dengan nama The Dewey School. Di pusat penelitian ini ia pun memulai
penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan
teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan
pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar
dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya kreativitas dan
keterlibatan murid dalam diskusi dan pemecahan masalah. Selama periode ini pula
ia perlahan-lahan meninggalkan gaya pemikiran idealisme yang telah
mempengaruhinya. Jadi selain menekuni pendidikan, ia juga menukuni bidang
logika, psikologi dan etika, (Syadali,
2004: 76).
b) Ajaran
Kefilsafatan John Dewey
Menurut
Dewey, tugas filsafat adalah memberikan
pengarahan bagi perbuatan nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak
boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisik belaka. Filsafat harus
berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut
secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu sistem nilai atau
norma.
Cara-cara
non-ilmiah (unscientific) membuat manusia tidak meruasa puas sehingga
mereka menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif. Kemudian orang mulai
memadukan cara berpikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini disebut
dengan berpikir reflektif (reflective thinking).
Teori-teori
awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua
kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk insting-insting
biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan (2)
perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama
kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture".
Penjelasan "nature" dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles
Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua
perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa
bertahan hidup. Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink
merupakan sumber perilaku sosial. John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita
tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara
terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan. - "situasi kita" -
termasuk tentunya orang lain, (Tafsir, 2009: 179).
Pandangan
Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia
itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah
baik atau buruk, akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain
pihak, manusia adalah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara
alamiah. Masyarakat di sekitar manusia dengan segala lembaganya, harus
diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perkembangan
semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak berkembang selain
berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga turut didukung
oleh masyrakat yang ada di sekitarnya.
Dewey
juga berpandangan bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur
kodrati tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia.
Insting-insting dasar itu tidak bersifat statis atau sudah memiliki bentuk
baku, melainkan sangat fleksibel. Fleksibilitasnya tampak ketika insting
bereaksi terhadap kesekitaran. Pokok pandangan Dewey di sini sebenarnya ialah
bahwa secara kodrati struktur psikologis manusia atau kodrat manusia mengandung
kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu diaktualisasikan sesuai
dengan kondisi sosial sekitar manusia. Bila seseorang berlaku yang sama
terhadap kondisi sekitar, itu disebabkan karena “kebiasaan”, cara seseorang
bersikap terhadap stimulus-stimulus tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah
sesuai dengan tuntutan kesekitarnya, (Syadali, 2004: 80).
Dewey
juga menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandanganya tentang filsafat
pendidikan. Pandangan yang dikemukakan banyak mempengaruhi perkembangan
pendidikan modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di
Universitas Chicago, ia telah mulai mengkritik tentang sisitem pendidikan
tradisional yang bersifat determinasi. Sekarang ini, pandangannya tidak hanya
digunakan di Amerika, tetapi juga di banyak negara lainnya di seluruh dunia.
Untuk
memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik
lemah yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis
mengkritik praktek pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan
mengesampingkan para siswa dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan
indoktrinasi dalam bentuk penerapan doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan
dalam pelaksanaan pendidikan. Tak lepas dari kritikannya juga yakni sistem
kurikulum yang hanya “ditentukan dari atas” tanpa memperhatikan
masukkan-masukkan dari bawah. Intinya bahwa, dalam dunia pendidikan harus
diterapkan sistem yang demokratis, (Tafsir, 2009: 181).
Menurutnya,
proses belajar berarti menangkap makna dengan cara sederhana dari sebuah
praktek, benda, proses atau peristiwa. Menangkap makna berarti mengetahui
kegunaannya. Sesuatu yang mempunyai makna berarti memiliki fungsi sosial. Oleh
karena itu pendidikan harus mampu mengantar kaum muda untuk memahami aktivitas
yang mereka temukan dalam masyarakat. Semakin banyak aktivitas yang mereka
pahami berarti semakin banyak pula makna yang mereka diperoleh. Dalam
pengertian inilah ia mengatakan bahwa mutu pengetahuan mempengaruhi demokrasi.
c)
Karya-karya
John Dewey
Karya- karya John Dewey banyak mempengaruhi
corak berpikir Amerika. Pengaruh ini juga banyak berasal dari buku-buku atau
karya-karya yang dihasilkannya. Bukunya yang pertama yakni Psychology yang
diterbitkan dalam tahun 1891. Dalam tahun 1891, bukunya Outlines of a
Critica Theory of Etics diterbitkan. Tiga tahun kemudian, 1894, terbit
lagi The Study Of Etics dan lain- lain.
Dalam
buku Dewey yang berjudul “ Democracy dan
Education” yaitu tentang pendidikan, dimana mengungkapkan bahwa:
(1)
Filsafat
pendidikan adalah bukan suatu pola pemikiran yang jadi dan disiapkan
sebelumnya dan datangnya dari luar kedalam suatu sistem
praktik,pelaksanaan yang amat sangat berbeda asal usulnya maupun tujuanya.
(2)
Filsafat
pendidikan adalah suatu perumusan
sacara jelas dan tegas eksplisit tentang problema-problema pembentukan
pola kehidupan mental dan moral dalam kaitanya
menghadapi kesulitan yang timbul dalam kehidupan.
(3)
Defenisi
yang paling tepat adalah teori pendidikan dalam pengertian yang
umum dan teoritis.
d) Sumbangan
John Dewey terhadap ilmu masa kini
Mungkin kontribusi Dewey bagi
perkembangan kebudayaan Amerika yang paling bessar adalah formulasinya secara
batu tentang filsafat. Baginya, filsafat harus terarah pada masalah-masalah
sosial dalam setiap waktu dan berusaha untuk diklarifikasikan dengan masalah
filsafat politik dan ekonomi. Dalam bahasa lain, tradisi epistemologi dan
problem metaisika juga patut diperhitungkan dalam tempat yang kedua. Semuanya
berpengaruh pada atau membentuk konsep filsafat sosial.
Berkaitan dengan semuanya, John
Dewey percaya bahwa filsafat membawa pengaruh pada perkembangan pendidikan.
Sebagai akaibatnya pendidikan telah memberikan pertimbangan argumen.
Liberalisme Dewey telah mempengaruhi bidang-bidang seperti religius, politik dan
estetika. Hal ini juga bergesar pada ilmu pengetahuan sekaligus mewakilki
potensi-potensi yang ada pada budaya Amerika.
Dewey
menganggap pentingnya pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui suatu
masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana
untuk peningkatan keberanian dan disposisi inteligensi yang terkonstitusi.
Dengan itu, dapat pula diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada
hak dan kewajiban yang paling fundamental dari setiap orang. Gagasan ini juga
bertolak dari gagasannya tentang perkembangan seperti yang sudah di bahas
sebelumnya. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Maksud
dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis dan
untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan
untuk menghancurkan kebiasaan yang lama, dan membangun kembali yang baru. Bagi
Dewey, lebih penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang
dihadapi, daripada mengisisnya secara sarat dengan formulasi-formulasi secara
sarat teoretis yang tertib, Anonim.
2010. http://librarianship
umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-pragmatisme.html# uds-search-results
Pendidikan
harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara
eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang bertolak dan merupakan kontuinitas
dari refleksi atas pengalaman juga akan mengembangkan moralitas dari anak
didik. Dengan demikian, belajar dalam arti mencari pengetahuan, merupakan suatu
proses yang berkesinambungan. Dalam proses ini, ada perjuangan terus-menerus
untuk membentuk teori dalam konteks eksperimen dan pemikiran, (Syadali, 2004: 85).
Dalam evaluasi dari ilmu
pengetahuan, Dewey dalam bukunya mengkombinasi tradisi dari Bacon dan Lock.
Biologi yang menjadi kunci untuk membenarkan pengertian akan alam bukan
ontologi. Selanjutnya dia terus pada metode pragmatismenya James dan memajukan
supernatural dari pemikiran Amerika.
2. Eksistensialisme
a. Hakekat Eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan
istilah pertama yang dirumuskan oleh ahli filsafat Jerman yaitu Martin
Heidegger (1889-1976). Setelah selesai Perang Dunia Kedua, penulis-penulis
Amerika (terutama wartawan) berbondong-bondong pergi menemui filosof
eksistensialisme, misalnya mengunjungi filosof Jerman Martin Heidegger (1839)
digubuknya yang terpencil di Pegunungan Alpen sekalipun ia telah bekerja sama
dengan Nazi. Tatkala seorang filosof eksistensialisme, Jean Paul Sartre (lahir
1905), mengadakan perjalanan keliling Amerika, dia disebut oleh surat-surat
kabar Amerika sebagai the King of
Existentialism, (Tafsir, 2009: 191).
Akar metodelogi eksistensialisme
ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund husserl
(1859-1938). Sedangkan munculnya filsafat eksistensialisme ini dari 2 orang
ahli filsafat Soeran Kierkegaard dan Neitzche. Kedua tokoh diatas muncul karena
adanya perang dunia pertama dan situasi Eropa pada saat itu, sehingga mereka
tampil untuk menjawab pandangan tentang manusia,(Hadiwijono, 1980:
127).
Disamping itu penyebab munculnya
filsafat eksistensialisme ini yaitu adanya reaksi terhadap filsafat
materialisme Marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatu yang
primer dan idealisme Hegel yang bertolak bahwa eksistensi manusia sebagai yang
konkret dan subjektif karena mereka hanya memandang manusia menurut materi atau
ide dalam rumusan dan system-sistem umum (kolektivitas social).
Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata Latin ex yang berarti keluar dan sister yang berarti berdiri.
Jadi,eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam
ini dalam bahasa Jerman disebut dasein.
Da berarti di sana, sein berarti berada. Berada bagi manusia
selalu berarti di sana, di tempat. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat.
Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani.
Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu
atau pohon. Yang dimaksud dengan
filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat
yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral, (Hassan, 1974 : 7).
Eksistensialisme juga lahir
sebagai reaksi terhadap idealism. Materialisme dan idealisme adalah dua
pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrem. Kedua-duanya berisi
benih-benih kebenaran, tetapi kedua-duanya juga salah. Eksistensialisme ingin
mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu, (Tafsir, 2008: 193).
Menurut Parkey (1998) aliran
eksistensialisme terbagi menjadi 2, yaitu; bersifat theistic (bertuhan) dan atheistic.
Menurut eksistensialisme sendiri ada 3 jenis; tradisional, spekulatif dan
skeptif. Eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat
pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan
hanya dilakukan oleh manusia.
Eksistensialisme menyatakan bahwa
cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi
dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam
dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari dirinya berada di
dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dan mengerti yang dihadapinya itu.
Manusia mengerti pohon, batu, dan salah satu diantaranya ialah ia mengerti
bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya
ialah bahwa manusia adalah subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar.
Barang-barang yang disadarinya itu disebut objek, (Tafsir, 2009: 192). Sehingga disebutkan
disini manusia adalah subyek sedangkan benda atau materi lainnya adalah obyek.
Kalau berbicara tentang
eksistensialisme tentunya berbicara hakekat manusia dan segala sesuatu yang
berkenaan dengan dirinya seperti bakat, keinginan, kebutuhan, kewajiban yang
harus dikerjakan oleh manusia yang sebagai halifah dimuka bumi dengan kata lain
adalah manusia mempunyai potensi yang harus dikebangkannya.
Dan Rene Deskates (1596-1650)
seorang tokoh rasionalisme, menjelaskan bahwa jiwa adalah terpadu, rasional,
dan kosisten yang dalam aktifitasnya yang selalu terjadi interaksi dengan
tubuh. Interaksi jiwa dan tubuh ini dapat mangubah makna nafsu yang dimaknai
dengan pengalaman-pengalaman sadar yang
disertai dengan emosi jasmaniah.
Manusia sebagai makhluk individu
memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan milik. Menurut Allport, sebagai makhluk
individu maka manusia memiliki sifat unik yang hanya dimiliki oleh dirinya
sendiri, berdiri sendiri, dan bersifat otonom. Eksistensialisme yang mendukung
kebebasan manusia sesuai dengan hak manusia untuk bebas hidup dan tinggal
dimana saja sesuai keinginannya.
Manusia sebagai makhluk social harus dapat bertoleransi untuk dapat menjalin kehidupan yang harmoni dengan sesamanya, orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini
menyebabkan
manusia
harus belajar untuk dapat menghormati keinginan orang lain yang berarti manusia harus bias menekan sifat egonya.
Sebagai makhluk ekonomi, manusia
akan selalu mencoba mereduksi martabat manusia yang hanya sekadar alat prosuksi
dan hanya bermanfaat demi kepentingan kaum kapitalis serta mengkapitalisasi
segala sumber daya dari sisi ekonomi. Dari ha lini terlihat bahwa manusia tidak
ingin terkekang oleh kaum kapitalis. Manusia ingin bebas dalam mengelola
ekonominya. Hal ini sesuai dengan eksistensialisme yang tidak mau menurut
begitu saja, tetapi harus berjuang untuk mendapatkan kebebasannya, (Muzairi, 2009: 96).
b. Tokoh
Fisafat Eksistensialisme
Aliran pemikiran eksistensialisme
ini muncul pada abad ke-19 dan ke-20 dan di pelopori oleh seorang berketurunan
Yahudi, Jean-Paul Satre (Kailani, 2002). Mazhab ini juga didukung oleh individu
seperti: ahli falsafah dan teologi Denmark, Soren Kierkegaard (1813-55), tokoh
atheis Jerman, Friedrich Nietzsche (1844-1900), ahli ontologi Jerman, Martin
Heidegger (1889-1976), ahli falsafah Katolik Perancis, Gabriel Marcel
(1889-1973), ahli falsafah dan pakar psikiatri Jerman, Karl Jaspers
(1883-1969), novelis dan ahli falsafah Perancis, Simone de Beauvoir (1908-86)
dan ahli fenomenologis Perancis, Maurice Merleau-Ponty (1908-61) (Priest,
2001). Diantara tokoh-tokoh tersebut hanya Soren Kierkegaard dan Jean-Paul
Satre yang akan dikemukakan pada makalah ini.
1) Soren Aabye Kierkegaard (1813 –
1855)
a) Riwayat Hidup Soren Aabye
Kierkegaard
Kierkegaard lahir di Kopenhagen,
Denmark pada 5 Mei 1813 dan meninggal dunia tanggal 11 November 1855 saat
berumur 42 tahun. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seorang pedagang grosir
yang menjual kain, pakaian, serta makanan dan seseorang
yang sangat saleh. Ia yakin bahwa ia telah dikutuk Tuhan, dan karena itu ia
percaya bahwa tak satupun dari anak-anaknya akan mencapai umumr melebihi usia
Yesus Kristus, yaitu 33 tahun. Ia percaya bahwa dosa-dosa pribadinya, seperti misalnya mengutuki nama Allah pada masa
mudanya dan kemungkinan juga menghamili ibu Kierkegaard di luar nikah,
menyebabkan ia layak menerima hukuman ini. Meskipun banyak dari ketujuh anaknya
meninggal dalam usia muda, ramalannya tidak terbukti ketika dua dari mereka
melewati usia ini. Sedangkan
ibu Soren Kierkegaard bernama Anne Sorensdatter Lund Kierkegaard,
(Anonim, 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme).
Soren Kierkegaard merupakan anak
terakhir dari ketujuh bersaudaranya. Ayah Kierkegaard meninggal dunia
pada 9 Agustus 1838 pada usia 82 tahun. Sebelum ayahnya meninggal
dunia, ayahnya meminta Soren agar menjadi pendeta. Saat itu Soren sangat merasa
terbebani dengan permintaan dari ayahnya.
Setelah
mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia
melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang
bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Di universitas,
Kierkegaard menulis disertasinya, Tentang Konsep Ironi dengan
Rujukan Terus-Menerus kepada Socrates, yang oleh panel universitas
dianggap sebagai karya yang penting dan dipikirkan dengan baik, namun agak
terlalu berbunga-bunga dan bersifat sastrawi untuk menjadi sebuah tesis
filsafat. Kierkegaard lulus pada 20 Oktober 1841 dengan gelar Magistri
Artium, yang kini setara dengan Ph.D. Dengan warisan
keluarganya, Kierkegaard dapat membiayai pendidikannya, ongkos hidupnya.
Sebuah
aspek penting dari kehidupan Kierkegaard (biasanya dianggap mempunyai pengaruh
besar dalam karyanya) adalah pertunangannya yang putus dengan Regine Olsen
(1822 - 1904). Kierkegaard berjumpa dengan Regine pada 8 Mei1837
dan segera tertarik kepadanya.
Hingga akhirnya pada
tanggal 8 September 1840,
Søren resmi menikahi Regine. Namun pada akhirnya Søren merasakan kecewa dan
melankolis dengan pernikahannya. Kurang dari satu tahun pernikahannya ia pun
menyelesaikan pernikahannya dengan Regine. Dalam catatannya, Søren mengatakan
bahwa sifat melankolis yang dimilikinya membuatnya tidak cocok untuk menikah.
Walaupun sampai dia meninggal alasan mengapa dia menyelesaikan pernikahannya
tidak jelas. (Anonim, 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme).
Soren Kierkegaard dianggap
sebagai bapak filsuf eksistensialisme. Ajarannya beraliran eksistensialisme dan
dia sangat bertentangan dengan Hegelian.
b) Ajaran Kefilsafatan Soren
Kierkegaard
Ajaran
yang diberikan oleh Søren adalah mengenai eksistensialisme. Yang artinya adalah sebuah kebebasan yang
bertanggung jawab, hal ini berpusat pada manusia individu. Kebebasan ini sering
ditemukan oleh manusia. Karena setiap manusia menginginkan adnaya sebuah
kebebasan tanpa memikirkan yang mana yang benar dan yang tidak benar.
Sesungguhnya bukan mereka tidak memikirkan hal tersebut, melainkan mereka
mengetahui batas kebebasannya masing-masing. Karena kebebasan bersifat relatif.
Søren juga dikenal akan filsuf yang mengajarkan akan kecemasan dan keputusasaan
eksistensial, (Anonim. 2011. http://sabda.org/biokristi/soren_kierkegaard).
Ajaran-ajaran Soren baru
terkenal setelah berpuluh-puluh tahun setelah kematiannya. Karyanya tersebar di
daerah Eropa, khususnya di daerah Denmark. Namu saat itu Gereja-Gereja di
sekitar Denmark menolak akan adanya karya-karya Soren. Karena ada pengaruh
akan karya yang dibuat oleh Søren yang berjudul “Fear and
Trembling”. Namun pada abad ke 20-an banyak filsuf yang ternyata menggunakan
konsep Soren, mengenai pemahaman kecemasan, dan keputusasaan serta
pentingnya individu manusia.
Soren
sangat bertentangan akan ajaran dari Hegelian. Sehingga dia sering menjadi
kritikus akan ajaran Hegel. Pemikiran, sebagai kritik atas Hegel, menekankan
pada aspek subjektivisme. Hal ini akan membuat individu melupakan tanggung
jawab pribadinya secara etis, bahkan akan menghilangkan eksistensi, (Tafsir,
2009: 194).
Menurut Kierkegaard, filsafat
tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu pengekspresian eksistensi
individual. Karena ia menentang aliran filsafat yang bercorak sistematis, dapat
dimengerti mengapa ia menulis karyanya dengan menggunakan nama samaran.Pertama-tama Kierkegaard
memberikan kritik terhadap Hegel. Mula-mula memang ia tertarik pada filsafat
Hegel yang telah popular di kalangan intelektual di Eropa ketika itu, tetapi
tidak lama kemudian ia melancarkan kritiknya.
Keberatan utama yang diajukan
oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang
kongkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut
Kierkegaard, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”, tetapi
sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke
dalam sesuatu yang lain, (Tafsir, 2009: 195).
Hanya manusia yang mampu
bereksistensi, dan eksistensi saya tidak saya jalankan satu kali untuk
selamanya, tetapi pada setiap saat eksistensi saya menjadi obyek pemilihan
baru. Bereksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat
menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya, (Tafsir,
2009: 195).
Kritik Kierkegaard atas
Hegelianisme bukan sekedar sebuah minat teoritis, melainkan didasari oleh
sebuah keprihatinan praktis terhadap perilaku keagamaan di Denmark . Zaman itu,
Lutheranisme menjadi agama resmi negara Denmark. Agama itu secara otomatis
dianut oleh orang Denmark, dan menjadi semacam cap saja untuk kehiduoan sosial.
Menurut Kierkegaard agama Kristen sungguh-sungguh menjadi sekular dan duniawi,
dan orang yang menyebut dirinya Kristen tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan
Allah. Dalam situasi seperti ini, agama hanya menjadi persoalan “objektif” dan
“lahiriah”, hanya menyangkut perilaku yang dapat dilihat dan tidak menyangkut
komitmen subjektif manusia, (Hardiman, 2007:135).
Pada titik inilah, Kierkegaard
lalu menunjukkan bahwa “biang keladi” kemerosotan penghayatan iman ini tak lain
adalah filsafat Hegel. Menurut Kierkegaard, realita Hegel tidaklah memiliki
relasi dengan realita keberadan manusia.
Kierkegaard adalah seorang yang
pada zamannya melancarkan reaksi terhadap hidup kemasyarakatan. Keadaan
masyarakat pada waktu itu tidak menunjukkan sebuah usaha untuk memecahkan
persoalan-persoalan praktis sehari-hari, serta mengabaikan perkara-perkara
batiniah. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang menjadi prinsip
Kierkegaard, bahwasanya persoalan-persoalan praktis sehari-hari itulah yang
justru menjadi persoalan hidup yang sebenarnya. Memang pada kenyataannya, sejak
Kant hingga Hegel orang hanya membicarakan persoalan-persoalan besar yang
bersifat umum, sedangkan untuk persoalan khusus dan praktis, pada umumnya orang
berpendapat bahwa pemecahannya dapat diturunkan dari dasar-dasar yang umum itu.
Kierkegaard kemudian menganggap Hegel mengaburkan hidup yang kongret, nmaka tak
heran jika Kierkegaard meremehkan
argumentasi abstrak mengenai metafisika yang spekulatif ala Hegel, (Hardiman, 2007:136).
Hegel berpendapat bahwa hidup
yang kongret itu hanya mewujudkan suatu unsur saja di dalam proses pengembangan
idea. Pandangan demikianlah yang yang ditolak Kierkegaard. Menurutnya,
pertanyaan mengenai, “Apa yang harus dilakukan dalam keadaan yang kongret
itu?” Justru
diperhadapkan oleh manusia setiap harinya Patokan umum yang berlaku bagi umat
manusia di segala zaman dan tempat tidak mungkin dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan hidup yang kongrit timbul sehari-hari. Sebab setiap orang
dihadapkan dengan persoalannya sendiri, yang khusus hanya berlaku baginya.
Persoalan-persoalan yang kongret yang timbul setiap hari itu oleh Kierkegaard
disebut “persoalan-persoalan
eksistensial”, (Hardiman, 2007:138).
Demikianlah menurut Kierkegaard,
pertama-tama yang penting bagi manusia adalah keadaannya sendiri atau
eksistensinya sendiri. Akan tetapi, harus ditekankan, bahwa eksistensi manusia
bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi”, yang
mengandung di dalamnya suatu perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Apa
yang semula berada sebagai kemungkinan berubah atau bergerak menjadi
suatu kenyataan. Perpindahan atau perubahan ini adalah suatu perpindahan yang
bebas, yang terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan yaitu karena
pemilihan manusia. Jadi eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih
dalam kebebasan. Bereksistensi berarti bereksistensi dalam suatu perbuatan,
yang harus dilakukan seyiap orang bagi dirinya sendiri.
Kierkegaard membedakan adanya
tiga bentuk eksistensi, yaitu: bentuk estetis, bentuk etis dan bentuk religius.
(1)
Tahap Estetis
Pada tahap ini, manusia menaruh
perhatian besar terhadap segala sesuatu yang di luar dirinya. Ia hidup di dalam
dunia dan di dalam masyarakat, dengan segala sesuatu yang dimiliki dunia dan
masyarakat itu. Ia menikmati segala yang jasmani dan rohani. Sekalipun demikian
batinnya kosong. Senantiasa ia menghindari tiap keputusan yang menentukan.
Sifat hakiki bentuk eksistensi estatis ialah tidak adanya ukuran-ukuran moral
yang umum yang telah ditetapkan, dan tidak adanya kepercayaan keagamaan yang
menentukan. Yang ada hanya keinginan untuk menikmati seluruh pengalaman emosi
dan nafsu.
(2) Tahap Etis
Pada tahap ini, manusia
memperhatikan benar-benar kepada batinnya. Ia tidak hidup dari hal-hal yang
kongrit ada. Sikapnya di dalam dunia, senantiasa diusahakan agar dapat
ditentukan dari sudut hidup batiniahnya, menurut patokan-patokan yang umum.
(3) Tahap Religius
Tahap religius ditandai oleh
pengakuan individu akan Tuhan,
dan kesadarannya sebagai pendosa yang membutuhkan pengampunan Tuhan. Pada tahap ini individu
membuat komitmen personal dan melakukan apa yang disebutnya “lompatan iman”.
Lompatan ini bersifat non-rasional dan biasa kita sebut pertobatan. Tokoh yang
memodelkan tahap ini adalah tokoh Kitab Suci, Abraham, yang mengorbankan putranya
yang tunggal karena beriman kepada Tuhan.
Di sini Abraham betul-betul meninggalkan tahap etis dan melompat ke tahap
religius.
Ada sebuah kalimat dari
Søren Aabye Kierkegaard yang cukup menginspirasikan :
“Apa
yang dibutuhkan zaman ini bukanlah seorang jenius sebab jenius sudah cukup
banyak. Yang dibutuhkan adalah martir, yang rela taat hingga mati untuk
mengajarkan manusia agar taat hingga mati. Apa yang dibutuhkan zaman ini adalah
kebangkitan. Dan karena itu suatu hari kelak, bukan hanya tulisan-tulisan saya
tetapi juga seluruh hidup saya, seluruh misteri yang membangkitkan tanda tanya
tentang mesin ini akan dipelajari dan dipelajari terus. Saya tidak akan pernah
melupakan bagaimana Tuhan menolong saya dan karena itu adalah harapan saya
terakhir bahwa segala sesuatunya adalah untuk kemuliaan-Nya”—Søren
Kierkegaard, Journals (20 November 1847)
c) Karya-
karya Soren Kierkegaard
Banyak
dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama misalnya hakikat
iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi
serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan
eksistensial. Menurut Sutarjo (2006:142) karya-karya Sorean diantaranya:
(1) Fear
and Trembling (Frygt og Baeven) – 1844
Diambil
dari contoh pengorbanan
Ishak oleh Abraham. Yang dimaksudkan oleh Søren adalah ajaran atau
kepercayaan bahwa segala tindakan disebabkan karena adanya tujuan yang ingin
dicapai. Sampai akhirnya Soren befikir bahwa ini seperti tidak masuk akal
karena manusia harus menaati perintah Allah. Namun itu merupakan ketaatan
manusia kepada Allah
(2) Either/Or
(Enten/Eller) – 1843
Buku
ini terdiri dari dua bagian yang mempertentangkan pandangan hidup yang estetis
dengan yang etis. Karya yang panjang ini menampilkan catatan-catatan pribadi
milik Søren. Karyanya yang ini berfungsi baik sebagai kritik ataupun
parodi terhadap filsafat dari Hegelian.
(3) Works
Of Love (Kjerlighedens Gjerninger) –
1846
Sebuah
buku yang meneliti perintah "Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi
dirimu sendiri'. karyanya ini menjelaskan akan kekuatan cinta. Bagaimana
manusia mecintai sesama, dan bagaimana cinta sejati tanpa keegoisan, yang
mungkin hanya terjadi antara manusia dan Tuhan.
2.
Jean Paul
Sartre (1905 – 1980)
a) Riwayat Hidup Jean Paul Sartre
Paul
Sartre lahir di Paris, Perancis, 21 Juni1905 dan meninggal di Paris, 15 April1980
pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis.Ia berasal dari keluarga
Cendikiawan. Ayahnya seorang Perwira Besar Angkatan Laut Prancis dan ibunya
anak seorang guru besar yang mengajar bahasa modern di Universitas Sorbone.
Ketika ia masih kecil ayahnya meninggal, terpaksa ia diasuh oleh ibunya dan
dibesarkan oleh kakeknya. Di bawah pengaruh kakeknya ini, Sartre dididik secara
mendalam untuk menekuni dunia ilmu pengetahuan dan bakat-bakatnya dikembangkan
secara maksimal. Pengalaman masa kecil ini memberi ia banyak inspirasi.
Diantaranya buku Les Most (kata-kata) berisi nada negatif terhadap hidup masa
kanak-kanaknya, (Anonim, 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme).
Meski Sartre berasal dari
keluarga Kristen protestan dan ia sendiri dibaptiskan menjadi katolik, namun
dalam perkembangan pemikirannya ia justru tidak menganut agama apapun. Ia seorangatheis. Ia mengaku sama
sekali tidak percaya lagi akan adanya Tuhan dan sikap ini muncul semenjak ia
berusia 12 tahun. Bagi dia, dunia sastra adalah agama baru, karena itu ia
menginginkan untuk menghabiskan hidupnya sebagai pengarang.
Sartre tidak pernah kawin secara
resmi, ia hidup bersama Simone de Beauvoir tanpa nikah. Mereka menolak menikah karena
bagi mereka pernikahan itu dianggap suatu lembaga borjuis saja. Dalam
perkembangan pemikirannya, ia berhaluan kiri. Sasaran kritiknya adalah kaum
kapitalis dan tradisi masyarakat pada masa itu. Ia juga mengeritik idealisme
dan para pemikir yang memuja idealisme.
Sartre adalah
seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran
eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi
(L'existence précède l'essence).
Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak
lebih hasil kalkulasi dari komitmen- komitmennya di masa lalu. Karena itu,
menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan
manusia (L'homme est condamné à être
libre).
Ia belajar pada Ecole Normale
Superieur pada tahun 1924-1928.
Setelah tamat dari sekolah itu. Pada tahun 1929 ia mengajarkan filsafat di
beberapa Lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Dari tahun 1933 sampai
tahun 1935 ia menjadi mahasiswa peneliti pada Institut Francais di Berlin dan
di Universitas Freiburg. Tahun 1938 terbit novelnya yang berjudul La Nausee dan Le Mur terbit pada tahun 1939. Sejak itulah muncullah
karya-karyanya yang lain dalam bidang filsafat, (Tafsir, 2009: 196).
Selain sebagai seorang guru
besar, ia juga seorang pejuang. Dalam Perang Dunia Kedua ia menjadi salah
seorang pemimpin pertahanan. Sebagai novelis dan dramawan namanya amat
terkenal. Tahun 1964 ia menolak menerima hadiah Nobel dalam bidang kesusastraan
(Burr dan Goldinger : 520). Sekalipun pada dasarnya buah pikirannya merupakan
pengembangan pemikiran Kierkegaard, ia mengembangkannya sampai pada tahap yang
amat jauh, (Tafsir, 2009: 197).
b) Ajaran Kefilsafatan Jean
Paul Sartre
Menurut ajaran eksistensialisme,
eksistensi manusia mendahului esensinya. Hal ini berbeda dari tumbuhan, hewan
dan bebatuan yang esensinya mendahului eksistensinya, seandainya mereka
mempunyai eksistensi. Di dalam filsafat idealisme, wujud nyata (existence)
dianggap mengikuti hakikat (essence)-nya. Jadi hakikat manusia mempunyai ciri
khas tertentu, dan ciri itu menyebabkan manusia berbeda dari makhluk lain,
(Hanafi, 1981 : 90).
Manusia
tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil
kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre
selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre).
Eksistensi mendahului
esensi´, begitulah selalu filosof-filosof eksistensialis berkata,´dan cara
manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda.
Karenanyamasalah ³Ada´ merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi
eksistensialisme.Bagi Sartre, manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan
(mengobjekkan) yanglainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang
intensionalitas, yakni kesadaran manusiayang tidak pernah timbul dengan
sendirinya, namun selalu merupakan ³kesadaran akansesuatu´. Baik kita ajukan
contoh: Saat ini saya menyadari tengah duduk dalam sebuahforum diskusi, bersama
dengan orang lain, serta benda-benda lain, sekaligus menyadari ahwa saya berbeda dengan
orang lain, dan juga bukan sekedar benda. Saya meniadakan (mengobjekkan orang dan benda lain).
Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre.
Untuk
memperjelas masalah ini,ia menciptakan dua buah istilah;être-en-soi, danêtre-pour-soi.
Dengan ini pula ia membedakan cara ber-Adanya manusia dengan cara beradanya
benda-benda.
Benda-benda
hadir di dunia setelah ditentukan lebih dulu identitas (esensi) nya, sifatnyaêtre-en-soi. Dengan sifatnya yang seperti
ini benda-benda tidak mempunyai potensi di luar konsepsi awalnya. Sebuah
komputer sebelum dirakit, telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah
pekerjaan manusia. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran, tak
punya potensi untuk melampui keadaannya yang sekarang; eksistensinya mampat
karena esensinya mendahului eksistensi. Sementara manusia, dengan Ada yang
bersifatêtre-pour-soi, eksistensi
yang mendahului esensi, selalu punya kapasitas untuk melampaui dirinya saat
ini, dan menyadari Ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita identifikasi
sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak
relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri, maka ia kembali
didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia mati.
Salah
satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda- benda.
Mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya, manusia memiliki
kesadaran yang tak dimiliki benda-benda, karenanya mustahil bagi manusia untuk
mempertahankan esensinya terus menerus. Cara beradanya benda tak punya kaitan
dengan cara ber-ada manusia. Sementara manusia sebaliknya, karena sifatnya
meniadakan terhadap hal lain, maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan
orang dan benda lain.
Tampaklah oleh kita bahwa
pendapat Sartre tentang eksistensi manusia bukan sekedar hendak menjelaskan
keadaan beradanya manusia ditengah manusia dan bukan manusia, lebih dari itu ia
hendak menjelaskan tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh manusia.
Orang eksistensialisme berpendapat
bahwa salah satu watak keberadaan manusia ialah takut (Bierman dan Gauld, 1973
: 602). Takut itu datang dari kesadaran manusia tentang wujudnya di dunia ini.
Sartre menyatakan, bila manusia menyadari dirinya berhadapan dengan sesuatu,
menyadari ia telah memilih untuk berada, pada waktu itu juga ia telah
bertanggung jawab untuk memutuskan bagi dirinya dan bagi keseluruhan manusia,
dan pada saat itu pula manusia merasa tidak dapat melepaskan diri dari tanggung
jawab menyeluruh
Manusia itu merdeka, bebas. Oleh
karena itu, ia harus bebas menentukan, memutuskan. Dalam menentukan,
memutuskan, ia bertindak sendirian tanpa orang lain yang menolong atau
bersamanya. Ia harus menentukan untuk dirinya dan untuk seluruh manusia. Oleh
karena itu, menurut Sartre, demikian juga Heidegger (Beerling : 223 – 24),
manusia tidak solider, tetapi soliter. Ia memikul berat dunia seorang diri.
Kenyataan manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Sartre adalah nasibnya
diserahkan kepada dirinya sendiri dengan tiada bantuan sedikitpun.
c) Karya- karya Jean Paul Sartre
Hasil karya filsafatnya yang utama
adalah “Being and Nothingness”
(1943). Dalam diri (L’entre-en-soi)
dan “ber-ada-untuk-diri” (L’entre-pour-soi).
(1) Berada dalam diri (L’entre-en-soi)
adalah semacam berada an sich, berada itu sendiri. Filsafatnya
berpangkal dari realitas yang ada, karna realitas yang ada itulah yang kita
hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada, contoh: pohon,
batu, binatang, manusia dan sebagainya. “Berada” disini mewujudkan ciri segala
benda jasmaniah, materi.
(2) Beradauntukdiri (L’entre-pour-soi)
ialah berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia.
Manusia mempunyai hubungan dengan
keberadaannya, ia bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada, misalnya ia
bertanggungjawab atas fakta, bahwa ia seorang pegawai, atau seorang pedagang,
atau seorang pencuri dan sebagainya.Manusia adalah “berada-untuk-diri (L’entre-pour-soi)”.
Oleh karena itu maka manusia terwujud karena “berada” itu meniadakan diri (se
neantise). Manusia sebagai manusia, sebagai L’entre-pour-soi terdiri
dari peniadaan. Ada dua peniadaan yaitu:
1)
Peniadaan
lahiriah (Negation externe)
2)
Peniadaan
batiniah (Negation interne)
Bahwa meja bukanlah kursi, hal ini
tidak menyipatkan meja, artinya bahwa meja bukanlah kursi, tidak ditentukan
dari dalam inilah yang disebut negation externe. Akan tetapi bahwa
aku bukan orang yang berbakat seni, atau aku bukan seroang usahawan, dan
lainnya, ini menunjukkan suatu negativitas yang menyipatkan diriku dari dalam,
dengan konsekuensi akulah yang bertangungjawab atas diriku.
Hal yang “tidak ada” tidak mungkin
berasal dari “berada-dalam-riri” (L’entre-en-soi), sebab
“berada-dalam-diri” adalah penuh, padat, tertutup. Yang “tidak ada” ini berasal
dari manusia. Manusia mengandung di dalamnya hal yang “tidak ada”. Di sini
terdapat perbedaan dengan Heidegger. Menurut Sartre “eksistensi yang murni”
adalah hal yang nyata. Eksistensi manusia adalah “ketiadaan”. Peniadaan ini
terjadi terus menerus, dan ini mengakibatkan manusia berbuat, dan tiap
perbuatan adalah perpindahan, dari semula menuju ke apa yang didepannya, ini
adalah meniadakan masa lampau dan berusaha mencapai yang ‘belum ada” atau yang
pada waktu itu “tidak ada”.Pada hakekatnya menurut Sartre : “berada-untuk-diri”
sama dengan kebebasan,Anonim.2012.http://psikologibebas.blogspot.com/2012/09/eksistensialisme.html.
c.
Sumbangan Eksistensialisme Terhadap Ilmu Masa
Kini
Eksistensi manusia menunjukkan kesadaran manusia, terutama pada dirinya sendiri bahwa ia berhadapan dengan dunia. Konsep ini muncullah cirri lain hakikat keberadaan manusia. Orang Eksistensialisme berpendapat bahwa salah satu watak keberadaan manusia ialah takut (Bierman dan Gauld, 1973 : 602).
Eksistensialisme telah memberikan sumbangan yang sangat
besar bagi ilmu, terutama dalam membuka jalan terhadap kebutuan yang
ditimbulkan oleh paham
materialisme yang mengatakan bahwa : “manusia itu pada hakekatnya adalah barang
material belaka, yang walaupun bentuknya lebih unggul, tetapi manusia itu
adalah resultante dari proses-proses kimiawi”. Bagi eksistensialis, manusia itu
tidak hanya sekedar material atau kesadaran, tetapi lebih daripada itu, Anonim. 2012. http://psikologibebas.blogspot.com/2012/09/eksistensialisme.html.
Eksistensialisme mengakui bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing dan menganggap kebebasan sebagai sesuatu yang asasi bagi setiap individu dalam penentuan eksistensi diri sendiri. Karenanya eksistensialis mengajukan terhadap: gerakan totaliser, fasis dan komunis yang cenderung mengabaikan individu dalam kolektivisme dan massa.
Pengaruh yang sangat menonjol eksistensialisme terhadap pendidikan
modern dewasa ini adalah kesadaran terhadap adanya perbedaan eksitensial pada
setiap individu siswa, dan timbulnya penghargaan terhadap kebebasan siswa dalam
menentukan pilihannya.Eksistensialisme tidak menyukai pendidikan yang
menyajikan program menurut kelompok seperti program pendidikan formal di
sekolah dewasa ini, karena bagi eksistensialis program kelompok semacam itu
berarti telah mengikari eksistensi siswa sebagai individu. Eksistensialisme
tidak menyukai pendidikan profesi, misalnya pendidikan kejuruan atau pendidikan
spesialis di pendidikan tinggi. Eksistensialis menganggap pendidikan profesi
mempunyai sasaran utama pada pencarian obyektivitas, logika dan
intelektualitas, dan kurang mengenai sasaran emosi, estetika dan moral yang
merupakan kepentingan pokok eksistensialisme. Eksistensialisme mengingatkan
bahwa ilmu hendaknya tidak menjadi sasaran atau tujuan pendidikan, tetapi ilmu
itu harus ditempatkan secara proposional, hanya sebagai alat dalam pengembangan
eksistensi manusia, Anonim. 2012. http://psikologibebas.blogspot.com/2012/09/eksistensialisme.html.
3.
Fenomenologi
a.
Hakekat
Fenomenologi
Kata Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon,
yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Secara
istilah, Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang
tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Fenomenologi adalah suatu
aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang
menampakkan diri, (Bertens, 1981: 109).
Seorang fenomenolog berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang
mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan
teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya
dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung, sehingga
Fenomenologi bisa dikatakan suatu metode pemikiran, a way of looking at
things. (Zainudin.2011.http://banyubeningku.blogspot.com/2011/04/filsafat/fenomenologi/edmund/husserl.htm).
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa Fenomenologi ini
mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang
terlibat di dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang besar pada persepsi
dan interpretasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri. Fenomenologi melihat
komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau
percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seorang individu adalah lebih
penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut
Fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati.
Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut
objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan fenomenolog cenderung
yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia
kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran
hidup, (Zainudin, 2011, http://banyubeningku.blogspot.com/2011/04/filsafat/fenomenologi/edmund/husserl.htm).
Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi
pengalaman konkret manusia sebelumnya. Hal ini Fenomenologi disebut sebagai
cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu
sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari
semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan
pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan
kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak
boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam
pengalaman itu sendiri, (Adian,
2002: 21).
Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari
ikatan historis apapun itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains.
Program utama Fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan
sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang
konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Selain itu, Fenomenologi juga menolak
klaim representasionalisme epistimologi modern. Dengan demikian, Fenomenologi
yang dipromosikan Husserl ini dapat disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi.
Hal ini jelas bertolak belakang dengan modus filsafat sejak Hegel menafikan
kemungkinannya ilmu pengetahuan tanpa presuposisi, dimana presuposisi
yang menghantui filsafat selama ini adalah naturalisme dan psikologisme, (Adian, 2002: 23).
b.
Tokoh Filsafat Fenomenologi
1)
Edmund Husserl
a)
Riwayat Hidup Edmund
Husserl
Edmund Husserl adalah seorang ahli ilmu pasti dan profesor Filsafat
dari Universitas Freiburg di Breisgau (Jerman Selatan) kira-kira satu abad yang
lalu, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari
keluarga Yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika,
dan filsafat. Mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia
tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari
tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di
Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam,
dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni
metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl
meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya
dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di
Belgia, (Abadi, 2010, http://ahnafiabadi.blogspot.com/2010/08/fenomenologi-edmund-husserl.html).
b)
Ajaran Kefilsafatan
Edmund Husserl
Sebagai studi filsafat, fenomenologi dikembangkan di
Universitas-universitas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl,
kemudian dilanjutkan oleh Martin Heidegger, Max Scheler dan yang lainnya.
Bahkan Jean-Paul Sartre pun memasukkan Fenomenologi dalam eksistensialismenya,
(Lavine, 2002: 381).
Namun semuanya mengartikan istilah Fenomenologi secara berbeda.
Baru Edmund Husserl yang memakai istilah Fenomenologi secara khusus dengan
menunjukkan metode berpikir secara tepat, (Bakker, 1986:
110) Contohnya seperti yang telah dibahas sebelumnya, yakni, dalam
karya Hegel yang berjudul Phenomenolgy of Spirit. Pemaknaan Hegel
terhadap teori “fenomena” dalam buku ini berbeda dengan “fenomena” menurut
Husserl. Menurut Hegel, “fenomena” yang kita alami dan tampak pada kita
merupakan hasil kegiatan yang bermacam-macam dan runtutan konsep kesadaran
manusia serta bersifat relatif terhadap budaya dan sejarah. Husserl menolak
pandangan Hegel mengenai relativisme fenomena budaya dan sejarah, namun dia
menerima konsep formal Fenomenologi Hegel serta menjadikannya prinsip dasar
untuk perkembangan semua tipe fenomenologi, (Lavine, 2002: 382).
Menurut Husserl, fenomena adalah realitas sendiri yang tampak,
tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan subyek dengan realitas, karena
realitas itu sendiri yang tampak bagi subyek. Dengan pandangan seperti ini,
Husserl mencoba mengadakan semacam revolusi dalam filsafat Barat. Hal demikian
dikarenakan sejak Descartes, kesadaran selalu dipahami sebagai kesadaran
tertutup (cogito tertutup), artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan
hanya melalui jalan itu dapat mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat
bahwa kesadaran terarah pada realitas, dimana kesadaran bersifat “intensional”,
yakni realitas yang menampakkan diri, (Maksum,
2004: 58).
Sebagai seorang ahli Fenomenologi, Husserl mencoba menunjukkan
bahwa melalui metode Fenomenologi mengenai pengarungan pengalaman biasa menuju
pengalaman murni, kita bisa mengetahui kepastian absolut dengan susunan penting
aksi-aksi sadar kita, seperti berpikir dan mengingat, dan pada sisi lain,
susunan penting obyek-obyek merupakan tujuan aksi-aksi tersebut. Dengan
demikian filsafat akan menjadi sebuah “ilmu setepat-tepatnya” dan pada akhirnya
kepastian akan diraih, (Lavine, 2002:
383).
Lebih jauh lagi Husserl berpendapat bahwa ada kebenaran untuk
semua orang dan manusia dapat mencapainya. Dan untuk menemukan kebenaran ini,
seseorang harus kembali kepada “realitas” sendiri. Dalam bentuk slogan, Husserl
menyatakan Zuruck zu den sachen selbst
kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan
yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek
memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri
kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita mengambil jarak
dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain,
dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu ”berbicara” sendiri mengenai
hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita, (Maksum, 2004: 58).
Namun demikian, yang perlu dipahami adalah bahwa benda, realitas,
ataupun obyek tidaklah secara langsung memperlihatkan hakekatnya sendiri. Apa
yang kita temui pada “benda-benda” itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakekat.
Hakekat benda itu ada di balik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first
look) tidak membuka tabir yang menutupi hakekat, maka diperlukan pemikiran
kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan pada pemikiran
kedua ini adalah intuisi dalam menemukan hakekat, yang disebut dengan wesenchau,
melihat (secara intuitif) hakekat gejala-gejala, (Bakker, 1986:
113).
Dalam melihat hakekat dengan intuisi ini, Husserl memperkenalkan
pendekatan reduksi, yakni penundaan segala pengetahuan yang ada tentang
obyek sebelum pengamatan itu dilakukan. Reduksi ini juga dapat diartikan
sebagai penyaringan atau pengecilan. Reduksi ini merupakan salah satu prinsip
dasar sikap fenomenologis, dimana untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog
bersikap netral dengan tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian
yang telah ada sehingga obyek diberi kesempatan untuk “berbicara tentang
dirinya sendiri, (Bakker, 1986: 112).
Istilah lain yang digunakan oleh Husserl adalah epoche, yang
artinya melupakan pengertian-pengertian tentang obyek untuk sementara dan
berusaha melihat obyek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan
pengertian-pengertian yang ada sebelumnya, (Juhaya, 2005: 180).
c)
Karya-
karya Edmund Husserl
(1) Logische Untersucgsuchugen I dan II (Penyelidikan-penyelidikan
logis), tahun 1900-1901. Bertujuan agar dapat
mempelajari struktur kesadaran, karena itu harus dibedakan antara tindakan dari
kesadaran dan fenomena di mana diarahkan (obyek memakai diri sendiri). Dengan membahas
ini sekali lagi menunjukkan sikapnya yang menolak psikologi. Tidaklah mungkin
memasukkan logika ke dalam psikologi, karena psikologi dapat mendeskripsikan
proses faktual kegiatan akal, sedangkan logika hanya bisa mempertimbangkan sah
atau tidaknya kegiatan akal tersebut. Edmund Hsserl menganalisa srtuktur intensi
dari tindakan-tindakan mental dan bagaimana struktur ini terarah pada obyek
yang real dan ideal.
(2)
Ideen zu einer reinen
Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie, 1913 (Gagasan-gagasan
untuk suatu fenomenolgi murni dan suatu filsafat fenomenologis). Untuk pertama
kalinya terkuak kecenderungan idealistik ini. Seorang fenomenolog harus secara
sangat cermat “menempatkan di antara tanda kurung”, artinya kenyataan di antara
dunia luar. Yang utama ialah fenomenanya, dan fenomena ini hanya tampil dalam kesadaran.
Usaha untuk melakukan pendekatan terhadap dunia luar ini, memerlukan metode
yang khas, karena keinsyafan serta-merta mengenai dunia luar ini masuk merembes
di mana-mana dan menyebabkan analisa yang keliru.
(3)
Meditations
Cartesiennes, 1931 (Renungan-renungan Kartesian). Dalam buku ini dibahas beberapa
permenungan Kartesian, di mana semakin lama semakin penting. “Aku bertolak dari
kesadaranku untuk menemukan kesadaran transedental (prinsip dasar dari
pemahaman murni yang melampaui atau mengatasi batas-batas pengalaman) di
dalamnya, tetapi bagaimana caranya menemukan pihak lain dalam kesadaran? Apakah
dengan demikian mau tidak mau aku akan terperosok di dalam solipisme (percaya
akan diri sendiri), sehingga yang ada hanyalah kesadaranku sendiri? Bagaimana
aku dapat mengetahui adanya dunia intersubjektif, (Abadi, 2010, http://ahnafiabadi.blogspot.com/2010/08/fenomenologi-edmund-husserl.html).
2)
Max Scheler
a)
Riwayat Hidup Max Scheler
Max Scheler dilahirkan di Munich, Jerman pada tanggal 22 Agustus
1874. Ayahnya seorang Lutheran dan ibunya seorang Yahudi Ortodoks. Sebagai seorang anak
remaja, ia masuk Katolik, karena ketertarikkannya pada ajaran mengenai cinta.
Scheler belajar ilmu kedokteran di Munchen dan Berlin, Filsafat dan Sosiologi
pada W.Dilthey dan G.Simmel pada tahun
1895. Ia memperoleh gelar doktornya pada tahun 1897. Setelah belajar
di Munchen, Berlin, Heildelberg dan Jena, ia kemudian menjabat sebagai dosen
privat di Jena dan Munchen pada tahun 1899. Seluruh
hidupnya, Scheler memiliki pemikiran yang begitu berpengaruh bagi
filsafat pragmatisme Amerika. Pada tahun 1902, ia bertemu bertemu dengan Edmund
Hursell seorang fenomenolog untuk pertama kalinya di Halle. Scheler tidak
pernah menjadi murid Hursell. Akan tetapi, perjumpaan dengannya memberikan
pengaruh yang besar bagi Scheler. Scheler menjadi seorang fenomenolog yang
getol menyebarluaskan ajaran Hursell ini. Dari tahun 1907-1910 ia mengajar
pada universitas di Munchen. Ia bergabung dengan lingkungan
fenomenolog Munchen diantaranya M.Beck, Th. Conrad, J. Daubert, M.Geiger. D.Y
Hildebrand, Th.Lipps, and A. Pfaender, (Jaya, 2012, http://suhaimi-jaya.blogspot.com/2012/06/fenomenologi-max-scheler.html).
Selama perang dunia I (1914-1918) Scheler mengikuti wajib militer
tetapi ia kemudian dihentikan karena menderita astigmia pada matanya. Kemudian
pada tahun 1919, ia menjadi professor filsafat dan sosiologi di Koln. Pada
tahun 1927, dalam sebuah kesempatan konferensi di Darmstad dekat Frankfurt,
yang diprakarsai oleh Graf Keyserling, Scheler membawakan sebuah ceramah
yang sangat lama, dengan judul Man’s Particular Place yang kemudian
dipublikasikan dalam bentuk yang lebih disingkatkan dengan judul Man’s place
in the Cosmos. Gaya dan caranya berceramah menarik simpati para
pendengarnya. Pada suatu waktu, Scheler memusatkan perhatiannya pada
pembangunan politik. Ia berjumpa dengan filsuf emigrant asal Rusia N.
Berdlaev di Berlin pada tahun 1923. “Politik dan Moral” “ide kedamaian abadi
dan pasifisme” adalah bahan yang disampaikannya pada suatu kesempatan di Berlin
pada tahun 1927. Scheler meninggal dunia di Frankfurt pada tanggal 19 Mei 1928,
(Jaya, 2012, http://suhaimi-jaya.blogspot.com/2012/06/fenomenologi-max-scheler.html).
b)
Ajaran Kefilsafatan
Max Scheler
Disamping Husserl, filsuf lain yang juga terlibat dalam filsafat
Fenomenologi adalah Max Scheler. Scheler juga menggunakan metode Husserl dan
tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan lebih jauh tentang suatu obyek
dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, Fenomenologi merupakan “jalan keluar”
ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis Immanuel Kant dan
Psikologisme Empiris. Dan pemikiran yang paling utama Scheler adalah tentang
Fenomenologi etika.
Dalam pandangan Scheler tentang Fenomenologi etis, benda dianggap
sebagai “sesuatu” yang bernilai, oleh karena itu, adalah keliru menginginkan
inti nilai dari benda-benda, atau memandang keduanya dengan tempat berpijak
yang sama. Dunia benda-benda terdiri atas segala sesuatu, maka dapat
dihancurkan oleh kekuatan alam dan sejarah. Dan jika nilai moral kehendak kita
tergantung pada benda-benda, maka kehancuran tersebut akan mempengaruhinya.
Sebaliknya benda itu memiliki nilai empiris, induktif, dan prinsip yang
didasarkan diatasnya bersifat relatif, (Frondizi,
2001: 109).
Scheler mendasarkan metode Fenomenologinya kepada hati dan perasaan.
Maksudnya, untuk menggapai kebenaran hakiki manusia harus berinteraksi dengan
objek sebagaimana teori Husserl. Namun, ketika manusia menghadapi fenomena,
yang tampak sebagai kebenaran merupakan adalah sesuatu yang tampak pada hati
dan perasaan. Mungkin Scheler tergila-gila dengan cinta atau terjerat
virus-virus cinta. sehingga dalam menghadapi fenomen ia menghadapinya dengan
cinta. Selain itu Scheler menambahkan sesuatu di metode Fenomenologi Husserl.
Inilah diantara yang menjadi ciri has metode Scheler. Scheler mengatakan
manusia harus menahan segala sesuatu atau pengakuan dalam menghadapi realita.
Manusia harus melepaskan diri dari dari kecendrungan ia atau tidak, begini atau
begitu. Sehingga yang tersisa hanyalah realitas dari fenomen itu sendiri.
c)
Karya- karya Max Scheler
Filsafat Max Scheler dibagi ke dalam dua
periode:
Periode pertama rentang waktunya di mulai antara disertasinya pada tahun
1897 hingga karyanya On the eternal in
Man ( manusia dalam
keabadian) pada tahun 1920/1922—volume I-VII. Sedangkan pada periode kedua,
masa-masa dari tahun 1920/1922 hingga 1928 yang terangkum dalam Vol. VIII-XV.
Dalam periode pertama, karyanya yang paling menonjol adalah penyelidikannya
mengenai nilai-etika, perasaan, agama, dan teori politik. Dalam tahun-tahun ini
ada dua karya besar yang dihasilkannya, The Nature of Sympathy dan Formalisme
Etics dan non- Formal etichs of Vlues. Dari karya-karyanya ini,
Scheler memusatkan perhatiannya pada, perasaan manusia, cinta, dan kodrat
manusia. Ia memperlihatkan bahwa ego, akal budi dan kesadaran
manusia mengisyarakan lingkungan manusia dan menyangkal sebuah kemurnian ego,
kemurnian akal budi, atau kemurnian kesadaran. Di sini, Scheler mengkritik
apa yang telah ada sebelumnya yakni apa yang diajarkan oleh Husserl, Kant, dan Idealisme Jerman. Bagi Scheler, ego, akal budi dan kesadaran adalah hati
manusia yang merupakan tempat duduk dari cinta lebih dari pada sebuah ego yang
transcendent, akal budi, kehendak atau penginderaan. Dan hal ini merupakan
nilai bagi essensi dari eksistensi manusia. Scheler membeda-bedakan beberapa
tipe perasaan, lebih dari itu ada yang sungguh-sungguh menyembunyikan diri dan pribadi, dan di antara
itu cinta menampakan diri dan menjadi pusatnya. Kemanusiaan manusia atas dasar Cinta
(ensamans).
Dari sini mengalirlah sebuah prinsip yang besar yang melewati seluruh
periode pertama ini: perasaan dan cinta memiliki logikanya di dalam diri
mereka sendiri, yang sungguh-sungguh berbeda dari logika akal budi. Di sini
Scheler mengikuti Blaine Pascalfilsuf dan matematikawan asal Perancis.
Dalam periode kedua (1920/1922-1928)
Scheler menentang ide mengenai Tuhan sebagai Pencipta. Baginya, dewa,
manusia dan dunia adalah satu bentuk yang “menjadiada” karena proses penyatuan yang terjadi dalam waktu yang absolut. Waktu yang Absolut bukanlah waktu yang dapat diukur dengan waktu atau jam yang
digunakan olehilmu pengetahuan dan dalam kehidupan sehari-hari. Waktu absolut
mirip waktu yang lewat ketika kita tidak berpikir mengenai waktu. Contoh,
ketika kau sedang membacatu;isan ini. Waktu absolut sudah menjadi sifatnya di
dalam dirinya dalam seluruh proses penerusan generasi, memeram,
memodifikasi diri; mencakup proses atomic, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Scheler mengatakan dengan sangat simple: tanpa sebuah
self- generating di dalam hidup manusia maka tidak ada waktu. Maka pada gilirannya, waktu yang absolut adalah sebuah kondisi Scheler
memperlihatkan keterukuran waktu ketika mengidentifikasinya sebagai waktu, (Jaya, 2012, http://suhaimi-jaya.blogspot.com/2012/06/fenomenologi-max-scheler.html).
c. Sumbangan Fenomenologi Terhadap Ilmu Masa Kini
Dunia pendidikan (pedagogik) tidak menggunakan metode
deduktif spekulatif, dalam investigasinya berdasarkan penjabaran pendirian
dasar-dasar filosofis. Pedagogik adalah ilmu pendidikan yang bersifat teoritis
dan bukan pedagogik yang filosofis. Pedagogik melakukan telaah fenomenologis
atas fenomena yang bersifat empiris sekalipun bernuansa normative. Seperti
dikatakan Langeveld (1955) Pedagogik mempergunakan pendekatan fenomenologis
secara kualitatif dalam metode penelitiannya.
Pedagogik bersifat filosofis dan empiris. Berfikir
filosofis pada satu sisi dan di pihak lain pengalaman dan penyelidikan empiris
berjalan bersama-sama. Hubungan-hubungan dan gejala yang menunjukkan ciri-ciri
pokok dari objeknya ada yang memaksa menunjuk ke konsekuensi yang filosofis,
adapula yang memaksakaan konsekunsi yang empiris karena data yang faktual.
Pedagogik mewujudkan teori tindakan yang didahului dan diikuti oleh berfikir
filosofis. Dalam berfikir filosofis tentang data normative pedagogik didahului
dan diikuti oleh oleh pengalaman dan penyelesaikan empiris atas fenomena
pendidikan, (Widiyanto, 2012, http://rohmadwidy.wordpress.com/2012/03/29/fenomenologi-husserl/).
Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia
dalam fenomena pendidikan melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang
mandiri atas data pedagogik (pendidikan anak) dan data andragogi (Pendidikan
orang dewasa). Adapun data itu mencakup fakta (dassein) dan nilai (dassollen)
serta jalinan antara keduanya. Data faktual tidak berasal dari ilmu lain tetapi
dari objek yang dihadapi (fenomena) yang ditelaah Ilmuwan itu (pedagogi dan
andragogi) secara empiris, (Widiyanto, 2012, http://rohmadwidy.wordpress.com/2012/03/29/fenomenologi-husserl/).
Begitu pula data nilai (yang normative) tidak berasal
dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas manusia secara hakiki.
Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara telaah ilmiah dan
telaah filsafah. Tetapi tidak berarti bahwa filsafat menjadi ilmu dasar karena
ilmu pendidikan tidak menganut aliran atau suatu filsafat tertentu. Sebaliknya
ilmu pendidikan khususnya pedagogik (teoritis) adalah ilmu yang menysusun teori
dan konsep yang praktis serta positif sebab setiap pendidik tidak boleh
ragu-ragu atau menyerah kepada keragu-raguan prinsipil,(Widiyanto,2012,http://rohmadwidy.wordpress.com/2012/03/29/fenomenologi-husserl/).
B.
FILSAFAT POSMODERNISME
1. Hakekat Posmodernisme
Secara etimologis Postmodernisme
terdiri dari dua kata, post dan modern. Kata post adalah bentuk prefix,
diartikan dengan ‘later or after’ dalam Webster’s Dictionary Library. Hal ini
berarti Postmodern adalah sebagai koreksi terhadap modern itu sendiri dengan
mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat terjawab di jaman
modern yang muncul karena adanya modernitas itu sendiri, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Sedangkan secara terminologi,
menurut tokoh dari Postmodern, Pauline
Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang
berlawanan antara lain: Pertama, Postmodernisme merupakan kritik atas
masyarakat Modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga Postmodern
cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas yaitu
pada akumulasi pengalaman Peradaban Barat adalah Industrialisasi, Urbanisasi,
Kemajuan Teknologi, Negara Bangsa, Kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka
meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab
personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme,
penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal
dan rasionalitas. Kedua, teoritisi Postmodern cenderung menolak apa yang
biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Postmodernisme merupakan gerakan dan arus pemikiran
yang bereaksi kritis terhadap modernisme atau proyek pencerahan yang menekankan
subjektivitas, rasionalitas ilmiah-teknologis yang berlaku universal, dan
refleksivitas. Reaksi kritis tersebut mengambil berbagai bentuk dari yang
mencoba memadukan dan merivisi dari dalam, sampai ke yang menolaknya sama
sekali. Postmodernisme dapat dikatakan lahir akibat krisis yang melanda
modernitas. Postmodernisme sulit dimengerti lepas sama sekali dari apa yang
mencirikan peradaban modern berikut proyek modernismenya, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Jadi Posmodernisme itu semacam
paradigma baru yang merupakan suatu bentuk reaksi dari pendukung fanatik ajaran
posmodernisme yang melawan atau menentang ajaran modernisme yang di anggap
telah gagal dalam melanjutkan proyek pencerahannya.
2. Latar Belakang Lahirnya
Posmodernisme
Secara umum latar belakang lahirnya
postmodernisme adalah sebagai berikut:
a.
Sebagai
bentuk protes akan anggapan kurangnya ekspresi dalam aliran modernisme;
b.
Karena
terjadinya krisis kemanusiaan modern dalam aliran modernisme.
Sedangkan
menurut Pauline
Rosenau adalah:
1)
Modernisme gagal mewujudkan
perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya;
2)
Ilmu pengetahuan modern tidak
mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti
tampak pada preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian;
3)
Ada semacam kontradiksi
antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern;
4)
Ada semacam keyakinan yang
sesungguhnya tidak berdasar bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan
segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya, dan ternyata
keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan,
serta kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
5)
Ilmu-ilmu modern kurang
memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena
terlalu menekankan pada atribut fisik individu, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
3. Tokoh Posmodernisme
a.
Charles Sanders Pierce (1839-1941)
1)
Riwayat Hidup Charles Sanders Pierce
Pierce lahir di
USA (1839-1941). Sebagai ahli semiotika, logika, dan matematika, Pierce sezaman
dengan Saussure. Oleh karena itulah, mereka dimasukkan ke dalam kelompok
strukturalis. Meskipun demikian Pierce melangkah lebih jauh, pertama, latar
belakangnya sebagai ahli filsafat, yang memungkinkannya untuk melihat dunia di
luar struktur, sebagai struktur bermakna. Kedua, berbeda dengan Saussure
dengan konsep diadik yang cenderung untuk melihat objek atas dasar objek lain,
sehingga terjadi pemahaman pusat dan nonpusat, Pierce menawarkan konsep triadik
sehingga terjadi jeda antara oposisi biner di atas, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
2)
Ajaran Kefilsafatan Charles
Sanders Pierce
Pada dasarnya Pierce, tidak banyak
mempermasalahkan estetika dalam tulisan-tulisannya. Meskipun demikian,
teori-torinya mengenai tanda mendasari pembicaraan estetika generasi
berikutnya. Menurut Pierce, makna tanda yang sesungguhnya adalah mengemukakan sesuatu.
Dengan kata lain, tanda mengacu kepada sesuatu. Tanda harus diinterpretasikan
sehingga dari tanda yang orisinal akan berkembang tanda-tanda yang baru. Tanda
selalu terikat dengan sistem budaya, tanda-tanda bersifat konvensional,
dipahami menurut perjanjian, tidak ada tanda-tanda yang bebas konteks. Tanda
selalu bersifat Plural (jamak),
tanda-tanda hanya berfungsi hanya kaitannya dalam kaitannya dengan tanda yang
lain. Contoh tanda merah dalam lalu lintas, selain dinyatakan melalui warna
merah, juga ditempatkan pada posisi paling tinggi, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Dalam pengertian Pierce. fungsi refresial
didefenisikan melalui triadik ikon, indeks, dan simbol. Tetapi interpretasi
holistik harus juga mempertimbangkan tanda sebagai perwujudan gejala umum,
sebagai representamen (qualisign, sisign, dan lesisign),
dan tanda-tanda baru yang terbentuk dalam batin penerima, sebagai interpretant (rheme, dicent, dan argument) dengan kalimat lain, diantara
objek, representamen, dan interpretan, yang paling sering
dibicarakan adalah objek (ikon, indeks dan simbol), Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
b.
Roman Osipocich Jakobson (1896-1982)
1)
Riwayat Hidup Roman
Osipocich Jakobson
Jakobson
adalah seorang linguis, ahli sastra, semiotikus, lahir di Rusia (1896-1982). Ia
juga pendiri Lingkaran Linguistik Moskow (1915) dan Lingkaran Linguistik Praha
(1962).
2)
Karya-karya Roman Osipocich Jakobson
Karya- karyanya Roman Osipocich Jakobson didasarkan atas linguistik Saussure,
fenomenologi Husserl, dan perluasan teori semiotika Pierce. Pusat perhatian
Jakobson sesungguhnya adalah integrasi bahasa dan sastra. Sesuai dengan judul
salah satu tulisannya ‘Lingustik and Poetics’ (1987: 66, 71), Jakobson menaruh
perhatian besar terhadap integrasi antara bahasa dan sastra. Jakobson
melukiskan antar hubungan tersebut, dengan mensejajarkan enam faktor bahasa dan
enam fungsi bahasa, yang disebutnya sebagai Poetic function of language. Sama dengan Pierce, pikiran-pikiran Jakobson masih sangat kental
menampilkan model analisis
Strukturalisme, tetapi pikiran tersebut dapat mengarahkan bagaimana bahasa
sebagai sistem model pertama berperan sekaligus berubah ke dalam taataran
bahasa sebagai sistem model yang kedua. Krtitk tajam yang kemudian dikemukakan
oleh Riffaterre dan Pratt, misalnya menunjukkan bahwa peranan pembaca tidak
boleh dilupakan, sekaligus merayakan lahirnya teori sastra dan estetika sastra
postrukturalisme. Makna sebuah puisi tidak ditentukan oleh linguis melainkan
oleh pembaca, dengan cara mempertentangkan antara arti (meaning) pada
level mimetik dengan makna (significance), sebagai penyimpangan level
mimetik itu sendiri. Lebih tegas, melalui pendekatan sosiolinguistik melalu
teori tindak kata, Pratt mengkritik Jakobson yang terlalu menonjolkan fungsi
puitika. Tidak ada ragam bahasa yang khas. Wacana sastra adalah pemakaian
bahasa tertentu, bukan ragam bahasa tertentu, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
3)
Ajaran Kefilsafatan Roman Osipocich Jakobson
Ajaran Kefilsafatan Roman Osipocich Jakobson yaitu, hubungan antara bahasa dengan
sastra, ciri-ciri khas bahasa dan sastra, ciri-ciri yang membedakan antara
bahasa sastra dengan bahasa nonsastra, telah banyak dibicarakan. Secara garis
besar ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa
bahasa sastra berbeda dengan bahasa biasa, bahasa sehari-hari. Kedua,
pendapat yang mengatakan bahwa bahasa sastra sama dengan bahasa sehari-hari.
Pendapat pertama bertolak dari kekhasan bahasa sastra sebagaimana terkandung
dalam puisi, sedangkan pendapat kedua bertolak dari bahasa prosa. Dalam sastra
kontemporer kelompok formalislah yang paling serius mencoba menemukan ciri-ciri
bahasa sastra tersebut, yang disebut sebagai literarines, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
c.
Roland Barthes (1915-1980)
1)
Riwayat Hidup Roland Barthes
Barthes adalah
seorang ahli semiotika, kritikus sastra, khususnya naratologi. Barthes lahir di
Cherbourg, Prancis (1915-1980). Dalam bidang semiotika, di samping Levi
Strauss, Foucault, dan Lacan, Barthes banyak memanfaatkan teori-teori
struktural Saussurean. Sebagai seorang semiotikus ia juga mengakui bahwa proses
pemaknaan tidk terbatas pada bahasa, melainkan harus diperluas meliputi seluruh
bidang kehidupan. Barthes dan dengan demikian para pengikutnya menolak dengan
keras pandangan tradisional yang menganggap bahwa pengarang sebagai asal-usul
tunggal karya seni. Jelas bahwa paradigma ini telah dikemukakan oleh kelompok
strukturalis, makna karya sastra terletak dalam struktur dengan kualitas
regulasinya, Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
2)
Karya- karya Roland Barthes
Barthes-lah yang membuat karya sastra memperoleh
kekuatan baru, memperoleh kebebasan, khususnya dari segi penafsiran pembaca.
Klimaks pemikiran ini dikemukakan dalam tulisannya yang berjudul The
Pleasure of The Text (1973), dengan membedakan teks menjadi dua macam,
yaitu: teks pleasure (plaisir) dan teks bliss (jouissance),
Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
3)
Ajaran kefilsafatan Roland Barthes
Ajaran Roland Barthes yaitu seperti pada karyanya The
Pleasure of The Text (1973), bahwa dengan adanya kebebasan yang
dimilikinya, maka pembaca akan merasakan kenikmatan (pleasure) dan
kebahagiaan (bliss), yang seolah-olah mirip dengan kenikmtan seksual
(orgasme). Meskipun demikian kenikmatan dan kebahagiaan dalam membaca teks
memilikia arti yang lebih luas, dan dengan sendirinya lebih etis dan estetis.
Teks pleasure menyajikan kesenangan berupa pengetahuan, kepercayaan, dan
harapan, sedangkan teks bliss justru menyajikan semacam kehilangan,
keputusasaan, dan kegelisahan. Teks pleasure merupakan milik kebudayaan
tertentu, sebaliknya teks bliss tidak memiliki asumsi historis,
kebudayaan, dan psikologis. Teks pleasure menyajikan kesesuaian hubungan
antara pembaca dengan medium yang relatif stabil, teks bliss justru
merupakan krisis, Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Contoh teks pleasure yaitu
membaca sebuah buku seperti buku pelajaran akan menimbulkan pengetahuan
sedangkan teks bliss seperti buku-
buku novel atau cerita rakyat yang menimbulkan suatu asumsi historis (sejarah)
seperti cerita Malin Kundang.
d.
Umberto Eco
1)
Riwayat Hidup Umberto Eco
Eco adalah
seorang semiotikus, kritikus, novelis, dan jurnalis, lahir di Piedmont, Italia
(1932- ). Di samping itu ia juga mendalami estetika dan filsafat abad
pertengahan yang kemudian diterbitkan daam bukunya yang berjudul Art and
beauty in the Middle Ages. Dua buah novelnya yang terkenal berjudul The
Name of the Rose dan Foucault Pendulum. Sebagai ahli semiotika ia
menghasilkan dua buah buku yaitu A Theory of Semiotics (1976) dan Semiotics
and the Philosophy of Language (1984), Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
2)
Karya-karya Umberto Eco
Umberto Eco membuat buku yang berjudul Art and
beauty in the Middle Ages. Dua buah novelnya yang terkenal berjudul The
Name of the Rose dan Foucault Pendulum. Sebagai ahli semiotika ia
menghasilkan dua buah buku yaitu A Theory of Semiotics (1976) dan Semiotics
and the Philosophy of Language (1984).
Secara eksplisit A Theory of Semiotics
mendeskripsikan teori semiotika umum yang terdiri atas teori kode dan teori
produksi tanda, sebagai perbedaan antara kaidah dan proses atau antara potensi
dan tindakan menurut Aristoteles. Salah satu tema yang dikemukakan dalam Semiotics
and the Philosophy of language adalah perbedaan antara struktur kamus
dengan ensiklopedia. Kamus dianggap sebagai pohon porphyrian (model,
definisi, terstruktur melalui genre, spesies, dan pembaca) sebaliknya,
ensiklopedia merupakan jaringan tanpa pusat. Kamus bermakna tetapi cakupannya
terbatas, atau cakupannya tak terbatas tetapi tidak mampu memberikan makna
tertentu. Ensiklopedia sejajar dengan jaringan rhizomatic. Strukturnya
mirip dengan peta, bukan pohon yang tersusun secara hierarkhis, Anonim. 2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
3)
Ajaran Kefilsafatan Umberto Eco
Sebagai ilmu yang imperial, memiliki
ruang lingkup hampir seluruh bidang kehidupan, maka Eco membedakan semiotika
menjadi 18 bidang, termasuk estetika. Menurut Eco, semua bidang dapat dikenal
sebagai kode sejauh mengungkapkan fungsi estetik setiap unsurnya. Sama dengan
Pierce, esensi tanda adalah kesanggupannya dalam mewakili suatu tanda. Setiap
kode memiliki konteks, sebagai konteks sosiokultural. Oleh karena itulah, teori
tanda harus mampu menjelaskan mengapa sebuah tanda memiliki banyak makna, dan
akhirnya bagaimana makna-makna baru bisa terbentuk. Dalam hubungan inilah
dibedakan dua unsur, pertama, unsur yang dapat disesuaikan atau
diramalkan oleh kode, seperti simbol dalam pengertian Pierce. Kedua,
adalah unsur yang tidak bisa disesuaikan dengan mudah, misalnya, ikon dalam
pengertian Pierce. Unsur pertama disebut rasio facilis, sedangkan unsur
yang kedua disebut rasio defacilis. Oleh karena itu, menurut Eco, proses
pembentukan tanda harus dilakukan melalui sejumlah tahapan, yaitu: a) kerja
fisik, b) pengenalan, c) penampilan, d) replika, dan e) penemuan, Anonim. 2012.
http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Contoh tanda silang (
) memiliki
banyak arti dan makna yaitu bisa dijabarkan dengan sebagai simbol perkalian
dalam Matematika, tanda silang jawaban salah, atau tanda bahya/ larangan di
makanan, minuman dan obat.
4. Ajaran Pemikiran Filsafat
Posmodernisme
Filsafat Posmodernisme tentang
manusia sebetulnya hampir mirip sama dengan filsafat strukturalisme. Kedua
aliran ini boleh disebut anti-humanisme, jika humanisme dipahami sebagai
pengakuan atas keberadaan dan dominasi “aku” yang terlepas atau independen dari
sistem situasi atau kondisi yang mengitari hidupnya. Faktanya tidak ada dan
tidak mungkin ada “aku” atau “ego” yang unik dan mandiri, karena ia selalu
hidup di dalam, dan ditentukan oleh, sejarah dan situasi sosial budaya yang
mengungkapnya, (Abidin, 2006:35).
Akan tetapi Posmodernisme masuk
kedalam aspek- aspek kehidupan manusia yang lebih beragam dan aktual. Para
Posmodernis menentang bukan hanya dominasi (aku) yang seolah- olah bebas dan
mampu melepaskan diri dari sistem sosial budayanya, tetapi menafikan dominasi
sistem sosial, budaya, politik, kesenian, ekonomi, arsitektur, dan bahkan
gender yang bersifat timpang dan menyeragamkan umat manusia, (Abidin,
2003:288).
Menurut pandangan posmodernis,
telah terjadi dominasi atau “kolonialisasi yang halus dan diam- diam” dalam
semua aspek kehidupan manusia. “Pelakunya” adalah sistem- sistem besar yang
bersifat tunggal (the One) terhadap
sistem- sistem kecil yang bersifat jamak (the
Plurals). The One identik dengan
Kebudayaan Barat, sedangkan The Plurals
dengan Kebudayan Timur. Misalnya saja dominasi nilai kesenian Barat yang
dianggap adi luhung terhadap kesenian yang berasal dari bangsa- bangsa timur
dan/atau negara- negara berkembang: Hanya musik klasik dari Bach, Beethoven,
Mozart, misalnya yang layak disebut indah (bernilai seni tinggi), sedangkan
musik- musik tradisional seperti angklung, dangdut, gamelan dianggap tidak
indah atau kampungan (bernilai seni rendah), (Abidin, 2006: 35-36).
Para Posmodernis menentang
dominasi nilai- nilai yang demikian Melalui proyek dekonstruksi, mereka coba
menunjukkan betapa rapuh dan lemahnya the
One dan betapa penting dan berharganya the
Plurals sehingga tidak bisa meremehkan yang satu oleh yang lain. Menurut
Posmodernis, the Plurals harus
diperhatikan, diungkap ke permukaan, karena memiliki nilai yang penting yang
tidak bisa diukur oleh nilai- nilai yang terkandung dalam the One, (Abidin,2006: 36).
5. Sumbangan Filsafat Postmodernisme
Masa Kini
Sumbangsih
Posmodern kepada negara-negara berkernbang: 1) Memberi kesempatan negara
berkembang untuk maju sederajad dengan negara-negara maju; 2) Dalam percaturan
politik dunia, menjadi penseimbang politik dan memiliki HAM yang sama seperti
yang tertuang dalam Human Right Declaration; 3) Dengan faham bahwa tidak
ada kebenaran yang mutlak, maka ada kesempatan untuk saling berbagi dalam semua
aspek hidup termasuk agama; 4) Belajar menjadi dewasa dalam berpikir, bersuara
dan memberikan pendapat; 5) Belajar menghargai pendapat sesama yang berbeda; 6)
Tidak lagi mengejar yang bersifat struktural oleh karena sudah berada dalam era
poststruktural; 7) Yang menjadi tekanan dalam dunia pastoral adalah mengajar
sesama untuk menjadi dewasa dan dapat menolong dirinya sendiri; 8) Tetap
menekankan kepada kebebasan yang bertanggung jawab; 9) Setiap orang ditantang
untuk mempersiapkan diri memasuki hari tua agar tetap bisa berprestasi karena
terjadinya kesejangan antara orang tua dan muda; 10) Perlu dipikirkan sebuah
cara atau kegiatan pastoral untuk mengembalikan keharmonisan keluarga; 11)
Ketakutan memasuki hari tua hanya dapat diatasi melalui sebuah keyakinan bahwa
hari tua adalah hari yang indah dan ketika menjadi tuapun masih bisa
berprestasi; 12) Tuhan akan menyertai sampai akhir hayat manusia; 13) Dunia ini
harus dikembalikan kepada pemilikNya yaitu Allah; 14) Tugas manusia adalah
memelihara ciptaan Tuhan dalam konteks memelihara lingkungan hidup secara
bertanggung jawab; 15) Karakter perorangan harus menjadi satu dalam karakter
komunitas; 16) Dalarn konteks dunia semacam ini komunikasi atau pemberitaan
Firman harus disampaikan secara holisiik dan dilakukan meialui kehadiran
orang-orang beragama di tengah masyarakat; 17) Dampak positif dan negatif yang
dihasiikan oleh gerakan postmodern masih dapat dikelola dengan wajar; 18)
Ternyata postmodern bukan sesuatu yang menakutkan dan harus ditolak, tetapi
harus diterima secara kritis; 19) Posmodern lebih bersifat kebudayaan dari pada
pergerakan, Anonim.
2012.http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
6. Kelebihan Posmodernisme dan
Kekurangan Posmodernisme
a. Kelebihan Posmodernisme
1)
Adanya kediktatoran pemaknaan;
2)
Kebebasan beragama meruapakan
jaminan terhadap martabat manusia yang terpenting;
3)
Menolak “narasi besar” demi
“narasi-narasi kecil;
4)
Bisa menghargai berbagai jenis
seni, ukiran dan budaya tradisional di zaman modern serta di kancah
internasional;
5)
Adanya teknologi canggih
(kedokteran, ilmu pengetahuan) yang berkembang di zaman sekarang akibat
pengaruh dari kebudayaan barat;
6)
Pengakuan the
Plurals harus diperhatikan, diungkap ke permukaan, karena memiliki nilai
yang penting yang tidak bisa diukur oleh nilai- nilai yang terkandung dalam the One, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Dalam perkembangan selanjutnya,
maka dekonstruksi yang semula dikaitkan dengan narasi- narasi metafisika itu
kemudian diperluas penerapannya, baik oleh Derrida sendiri maupun oleh para
Posmodernis lainnya, pada bidang yang lebih luas, yakni pada setiap gejala
(budaya, politik, sosial, arsitektur, gender dll) atau peristiwa (sejarah)
apapun. Akan tetapi maknanya tidak berubah, yakni masih tetap sebagai suatu
cara untuk menemukan dan mengungkap ke permukaan apa yang semula tidak atau
kurang diperhatikan oleh modernisme. Dengan perkataan lain dekonstruksi adalah
usaha kaum Posmodernis untuk menemukan dan menjadikan penting apa yang semula
tidak penting, atau hanya dianggap sebagai The
Others, oleh Modernisme, (Abidin, 2003:228).
b. Kekurangan Posmodernisme:
1)
Posmodernisme, buta terhadap
kenyataan bahwa narasi kecil mengandung banyak kebutuhan;
2)
Posmodernisme tidak membedakan
antara idiologi di satu pihak, dan prinsip-prinsip universal etika terbuka di
lain pihak;
3)
Posmodernisme menuntut untuk
menyingkirkan narasi-narasi besar demi narasi-narasi kecil, padahal
narasi-narasi kecil sendiri merupakan narasi besar dengan klaim universal, Anonim. 2012. http://nonkshe.wordpress.com/2012/03/13/filsafat-positivisme-dan-postmodernisme-positivisme/.
Oleh
karena itu dalam kekurangannya posmodernisme haruslah paham dalam narasi kecil
yaitu menghargai budaya tradisional, supaya budaya tradisonal ini mampu
bersiang di negara maju dan sederajad. Seperti budaya Indonesia yang banyak
akan mendapat apersiasi dari negara dan diakui oleh negara lain menjadikan
suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan
isi makalah yang telah diuraikan dapt disimpulkan bahwa:
Pragmatisme adalah aliran dalam
filsafat yang yang berpandangan bahwa kriteria
kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi
kehidupan nyata. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak.
Eksistensialisme
tentunya berbicara hakekat manusia dan segala sesuatu yang berkenaan dengan
dirinya seperti bakat, keinginan, kebutuhan, kewajiban yang harus dikerjakan
oleh manusia yang sebagai halifah dimuka bumi dengan kata lain adalah manusia
mempunyai potensi yang harus dikebangkannya.
Fenomenologi
adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak
atau yang menampakkan diri.
Posmodernisme
itu semacam paradigma baru yang merupakan suatu bentuk reaksi dari pendukung
fanatik ajaran posmodernisme yang melawan atau menentang ajaran modernisme yang
di anggap telah gagal dalam melanjutkan proyek pencerahannya
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin, Zainal. 2006. Filsafat Manusia (Memahami Manuisa Melalui
Filsafat). Jakarta:
Adian, Donny Gahral. 2002. Pilar-Pilar Filsafat Kontemporer. Jogjakarta : Jalasutra
Bakker, Anton. 1986. Metode-metode
Filsafat,
Jakarta: Ghalia Indonesia
Frondizi, Risieri. 2001. Pengantar
Filsafat Nilai, Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hadiwijono,Harun.1980. Sari SejarahFilsafat II, Yogyakarta:
Kanisius,
K. Bertens. 1981. Filsafat Barat dalam Abad XX, Jakarta: PT. Gramedia
Lavine, T.Z. 2002. Petualangan Filsafat; dari Socrates ke Sartre, terj. Andi Iswanto, et. al., Yogyakarta: Jendela
Magee,
Bryan. 2008. The Story of Philosophy. Yogyakarta: Kanisius.
Maksum, Ali et.al. 2004.Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern
dan Postmodern; Mencari “Visi Baru” atas “Realitas Baru” Pendidikan Kita, Yogyakarta: IRCiSoD
Muzairi. 2009. Filsafat
Umum. Yogyakarta: Teras
P.
A. van der Weij. 1991. Filsuf-filsuf Besar tentangManusia.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media, Cet. II Rosdakarya
Syadali, Ahmad dan Mudzakir.
2004. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka
Setia
Tafsir,
Ahmad. 2008. Filsafat Umum. Bandung:
Rosda
Tafsir,
Ahmad. 2009. Filsafat Umum Akal dan Hati
Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya
Wiramihardja, Sutardjo A.
2006. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar